Waspada Risiko Data Pribadi di Balik Tren Twibbon MPLS Siswa Baru

2 hari yang lalu 5
Waspada Risiko Data Pribadi di Balik Tren Twibbon MPLS Siswa Baru Ilustrasi(Ist)

TREN unggahan twibbon siswa baru di media sosial selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sekarang tengah marak. Meski menjadi simbol kebanggaan dan kebersamaan, kebiasaan ini menyimpan akibat serius terhadap keamanan info pribadi jika tidak dilakukan dengan bijak.

Pengamat keamanan siber sekaligus Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha, mengingatkan bahwa info pribadi nan tercantum dalam twibbon dapat dengan mudah diakses, disalin, hingga disalahgunakan oleh pihak nan tidak bertanggung jawab.

"Dari sisi kebersamaan dan kebanggaan sebagai bagian dari sekolah baru, tren tersebut tentu mempunyai nilai positif. Namun, dari perspektif pandang keamanan siber dan perlindungan info pribadi, kebiasaan tersebut juga perlu disikapi secara lebih bijaksana," ujar Pratama saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (20/7).

Ancaman Teknik OSINT dan Profiling Digital

Pratama menjelaskan bahwa akibat meningkat ketika info seperti nama lengkap, foto wajah, domisili, hingga asal sekolah dipublikasikan secara terbuka. Data-data ini menjadi sasaran lembek pelaku kejahatan siber melalui teknik Open Source Intelligence (OSINT).

Dengan OSINT, pelaku dapat mengumpulkan dan mengorelasikan beragam info nan tersebar di internet untuk menyusun profil digital seseorang tanpa perlu meretas akun. Semakin banyak info nan dibagikan secara sukarela, semakin mudah identitas seseorang dipetakan oleh pelaku kriminal.

Risiko Keamanan Unggahan Twibbon MPLS:

Jenis Risiko Dampak/Modus Kejahatan
Social Engineering Penipuan dengan menyamar sebagai guru, panitia, alias kawan sekolah.
Manipulasi Identitas Penyalahgunaan foto wajah untuk identitas tiruan alias manipulasi AI (Deepfake).
Keamanan Fisik Pelaku dapat memetakan letak sekolah dan rute aktivitas harian anak.
Gangguan Digital Meningkatnya potensi perundungan siber (cyberbullying) dan penguntitan.

Pentingnya Literasi Digital Sejak Dini

Lebih lanjut, Pratama menekankan bahwa anak-anak dan remaja umumnya belum mempunyai keahlian mumpuni untuk mengenali modus manipulasi digital. Hal ini membikin mereka rentan terhadap komunikasi nan tampak alami namun sebenarnya bermaksud jahat.

Sebagai langkah antisipasi, dia mendorong pihak sekolah dan orang tua untuk meningkatkan edukasi literasi digital. Siswa perlu diajarkan langkah menjaga info pribadi dan memahami akibat dari jejak digital nan mereka tinggalkan.

Pratama menyarankan agar info dalam twibbon dibatasi pada hal-hal nan berkarakter umum saja, misalnya hanya mencantumkan nama panggilan tanpa identitas perincian lainnya.

"Twibbon MPLS bukan sesuatu nan kudu dihindari. nan perlu dibangun adalah budaya literasi digital nan lebih baik sehingga semangat memperkenalkan diri tetap bisa dilakukan tanpa mengorbankan keamanan info pribadi," pungkasnya. (Ant/Z-1)

Selengkapnya