WHO Soroti Rendahnya Konsumsi Buah di Indonesia, Pola Makan Jadi Faktor Utama

1 jam yang lalu 3
ARTICLE AD BOX
WHO Soroti Rendahnya Konsumsi Buah di Indonesia, Pola Makan Jadi Faktor Utama Ilustrasi(Dok Magnific)

INDONESIA dikenal sebagai negara tropis nan kaya bakal beragam jenis buah, mulai dari mangga, pisang, pepaya, hingga rambutan. Ironisnya, kesiapan buah nan melimpah tidak sejalan dengan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsinya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti bahwa rendahnya konsumsi buah dan sayuran di Indonesia sekarang menjadi salah satu tantangan serius dalam upaya mencegah penyakit tidak menular.

Dalam laporan terbarunya, WHO menyebut perubahan pola makan masyarakat menjadi aspek utama di kembali menurunnya konsumsi buah. Makanan dan minuman ultra-proses nan tinggi gula, garam, dan lemak sekarang semakin mudah ditemukan, harganya relatif terjangkau, serta dipasarkan secara agresif. Kondisi tersebut membikin banyak orang lebih memilih makanan praktis dibandingkan buah segar sebagai bagian dari menu harian.

Pola Makan Berubah, Buah makin Ditinggalkan

WHO mencatat hanya 3,3 persen masyarakat Indonesia berumur lima tahun ke atas nan memenuhi rekomendasi mengonsumsi sedikitnya lima porsi buah dan sayuran setiap hari. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat tetap belum mendapatkan asupan buah dan sayur nan cukup untuk mendukung kesehatan.

Perubahan style hidup juga menjadi aspek penting. Kesibukan bekerja, meningkatnya konsumsi makanan sigap saji, hingga kebiasaan memilih camilan bungkusan membikin buah semakin jarang menjadi pilihan. Padahal, buah merupakan sumber vitamin, mineral, serat, dan antioksidan nan dibutuhkan tubuh untuk menjaga kegunaan organ dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Berdampak pada Risiko Penyakit Kronis

WHO merekomendasikan konsumsi sedikitnya 400 gram buah dan sayuran setiap hari alias sekitar lima porsi. Asupan tersebut terbukti dapat membantu menurunkan akibat beragam penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung, stroke, glukosuria jenis 2, hingga beberapa jenis kanker.

Sebaliknya, pola makan nan rendah buah dan sayur dapat meningkatkan akibat gangguan kesehatan dalam jangka panjang. WHO menyebut pola makan tidak sehat sekarang menjadi salah satu aspek akibat terbesar penyebab kematian dan disabilitas di Indonesia. Tingginya konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak juga berkontribusi terhadap meningkatnya kasus obesitas nan terus mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir.

Pemerintah Siapkan Langkah Perbaikan

Melihat kondisi tersebut, WHO mendukung pemerintah Indonesia dalam menerapkan beragam kebijakan untuk menciptakan lingkungan pangan nan lebih sehat. Beberapa langkah nan tengah disiapkan antara lain pelabelan gizi pada bagian depan kemasan, pembatasan promosi makanan tidak sehat, reformulasi produk agar mengandung lebih sedikit gula, garam, dan lemak, hingga penerapan kebijakan fiskal untuk mendorong masyarakat memilih makanan nan lebih sehat.

WHO menilai kebijakan tersebut tidak hanya bermaksud mengurangi konsumsi makanan ultra-proses, tetapi juga meningkatkan konsumsi buah dan sayuran sebagai bagian dari pola makan seimbang.

Perlu Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari

Para mahir menilai meningkatkan konsumsi buah tidak kudu dilakukan dengan langkah nan rumit. Menjadikan buah sebagai camilan, menambahkan buah pada menu sarapan, alias mengganti makanan ringan bungkusan dengan buah segar dapat menjadi langkah sederhana nan memberikan faedah besar bagi kesehatan.

Di tengah meningkatnya kasus penyakit tidak menular di Indonesia, kebiasaan mengonsumsi buah setiap hari menjadi salah satu investasi kesehatan nan penting. Dengan support kebijakan pemerintah dan perubahan pola makan masyarakat, konsumsi buah diharapkan dapat meningkat sehingga kualitas kesehatan masyarakat Indonesia ikut membaik. (Netty Fatmawati Pane/E-4)

Selengkapnya