Why Nations Fail? Transisi Kehancuran Menuju Kejayaan

1 jam yang lalu 2

loading...

Salim, Ketua Dewan master KPPMPI dan Kandidat Doktor Universitas Airlangga. Foto/istimewa.

Salim
Ketua Dewan master KPPMPI dan Kandidat Doktor Universitas Airlangga

SEJARAH umat manusia adalah panggung pasang surut peradaban, di mana garis pemisah antara kejayaan suatu bangsa dan lembah kehancurannya sering kali ditentukan oleh kualitas tata kelolanya. Mengapa sebuah negara gagal, sementara nan lain sukses tegak berdiri memahat kemakmuran?

Jawabannya melintasi ruang dan waktu, mempertemukan pisau kajian modern barat dengan kearifan profetik timur. Daron Acemoglu dan James A. Robinson dalam mahakaryanya, Why Nations Fail, menegaskan bahwa kemunduran sistemis lahir dari lembaga politik dan ekonomi nan ekstraktif sebuah kondisi di mana kekuasaan dan kekayaan hanya diperas untuk memuaskan syahwat segelintir elite penguasa.

Jauh beratus-ratus tahun sebelumnya, Nusantara telah mencium aroma pembusukan sosiopolitik ini melalui Pitutur Jangka Jayabaya. Ramalan antik tersebut secara presisi menjabarkan datangnya era Kalabendu (zaman sengsara), sebuah era kegelapan moral ketika norma dipermainkan, kebenaran dijungkirbalikkan, dan rakyat mini dipaksa meratap di tanah airnya sendiri.

Hari ini, paradoks tersebut nyata membentang di hadapan kita. Di tengah megahnya retorika pembangunan, degub nadi kehidupan masyarakat mini di Indonesia justru terasa semakin tercekik dan meranggas. Impian luhur nan diletakkan para pendiri bangsa dalam Undang-Undang Dasar 1945 kian hari kian mengalami distorsi struktural. Amandemen demi amandemen nan terjadi dinilai telah bergeser menjauhi kompas moral aslinya, mengaburkan tujuan suci bernegara: memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Ketika konstitusi tidak lagi menjadi perisai bagi kaum papa, melainkan instrumen legalisasi kepentingan oligarki, maka sebuah bangsa sedang melangkah dengan mata tertutup menuju periode kepunahan peradaban. Namun, kegelapan malam terdalam justru menjadi penanda bahwa fajar bakal segera menyingsing. Teori perjanjian sosial menegaskan bahwa kedaulatan sejati tidak pernah berada di kursi-kursi lembek kekuasaan, melainkan di tangan rakyat nan sadar bakal hak-hak kemanusiaannya.

Transisi dari kehancuran Kalabendu menuju kejayaan Kalasuba bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan buah dari keberanian kolektif untuk meruntuhkan sekat-sekat ekstraktif dan membangun fondasi inklusif nan berkeadilan. Tatkala seluruh komponen bangsa bangkit untuk menuntut kewenangan atas kesejahteraan dan kecerdasan, di situlah takdir baru Indonesia sedang ditulis. Kita tidak sedang meratapi keruntuhan; kita sedang menyiapkan sebuah fajar baru di mana keadilan sosial bukan lagi sekadar pemanis teks konstitusi, melainkan realitas hidup nan menghidupkan seluruh jiwa bangsa.

Selengkapnya