Tragedi kapal terbalik di lepas pantai Guyana tewaskan 27 orang. Nakhoda ditangkap usai positif ganja dan jumlah penumpang diduga melampaui manifes.(Prime Minister Mark Phillips/Facebook)
TRAGEDI melanda lepas pantai Guyana setelah kapal feri MV Barima terbalik pada Sabtu malam. Perdana Menteri Guyana, Mark Phillips, mengonfirmasi pada Senin sedikitnya 27 orang tewas dan 83 lainnya tetap dinyatakan hilang.
Kapal sepanjang 40 meter nan bertolak dari ibu kota Georgetown menuju Port Kaituma itu dilaporkan membawa 116 penumpang dan 17 kru berasas manifes resmi. Namun, otoritas meyakini daftar tersebut tidak jeli lantaran jumlah penumpang diduga jauh lebih banyak. Sejauh ini, 69 orang sukses diselamatkan, termasuk 15 anak-anak, meski petugas penyelamat dan penyelam sekarang belum menemukan survivor tambahan.
Menteri Pekerjaan Umum Guyana, Juan Edghill, meluapkan kemarahannya dan menuding pengelola feri mencoba "menipu sistem". Dari puluhan korban selamat, hanya 35 orang nan terdaftar di manifes resmi. Selain itu, hasil tes menunjukkan nakhoda dan sedikitnya satu kru kapal positif mengonsumsi ganja.
"Kami tidak toleran terhadap personil kru nan minum alias merokok saat bekerja. Dan bagi kami, hasil tes positif dari kapten... ini masalah serius," ujar Edghill, seraya menambahkan bahwa kapten dan beberapa kru telah ditahan pihak kepolisian.
Pemerintah Guyana menegaskan telah memulai penyelidikan menyeluruh atas musibah ini.
"Biar saya perjelas: jika ditemukan adanya kelalaian, pelanggaran, alias tindakan kriminal, mereka nan bertanggung jawab bakal menghadapi balasan norma nan seberat-beratnya," tegas Perdana Menteri Mark Phillips.
Seorang korban selamat, Elena Moonsammy, menceritakan detik-detik mencekam saat kapal dihantam gelombang besar hingga miring dan air dengan sigap masuk dalam hitungan detik. Panggilan darurat diterima pada pukul 23:01 waktu setempat, memicu operasi pengamanan nan melibatkan tim pemerintah dan kapal-kapal swasta.
Moonsammy memperkuat hidup dengan berpegangan pada kotak nan terapung di antara puing-puing. Ia sempat mencoba memegang tangan anaknya nan berumur dua tahun, namun mereka terpisah. Di tengah situasi tersebut, dia tetap sempat menyelamatkan seorang wanita lain.
Menteri Kesehatan Guyana, Dr. Frank Anthony, menyatakan kebanyakan korban selamat mengalami luka lecet akibat berpegangan pada puing-puing selama berjam-jam, dan sebagian besar telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. (AFP/BBC/Z-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·