3 Hujan Meteor Akhir Juli 2026, Berikut Jadwal dan Cara Mengamati

1 jam yang lalu 3
ARTICLE AD BOX
3 Hujan Meteor Akhir Juli 2026, Berikut Jadwal dan Cara Mengamati Simak agenda puncak 3 hujan meteor akhir Juli 2026 di Indonesia.(Dok. MI)

FENOMENA langit pada akhir Juli 2026 bakal menjadi momen menarik bagi para pengamat astronomi di Indonesia. Berdasarkan Meteor Shower Calendar 2026 nan dirilis oleh International Meteor Organization (IMO), terdapat tiga hujan meteor utama nan bakal mencapai aktivitas maksimum dalam rentang waktu 28 hingga 31 Juli 2026.

Ketiga kejadian tersebut adalah July Gamma Draconids, Southern Delta Aquariids, dan Alpha Capricornids. Meskipun menawarkan pemandangan kosmik nan memukau, pengamatan tahun ini mempunyai tantangan tersendiri akibat aspek fase Bulan.

Berikut adalah rincian jadwal, karakteristik, dan pedoman pengamatannya di wilayah Indonesia.

Ringkasan Jadwal Hujan Meteor Juli 2026

Hujan Meteor Puncak 2026 ZHR (Intensitas) Karakteristik
July Gamma Draconids 28 Juli 5 meteor/jam Lambat, aktivitas tidak menentu
Southern Delta Aquariids 30-31 Juli 25 meteor/jam Kecepatan sedang, condong redup
Alpha Capricornids 30-31 Juli 5 meteor/jam Sedikit, potensi fireball terang

Catatan: Angka ZHR (Zenithal Hourly Rate) adalah jumlah teoritis dalam kondisi langit sempurna. Di perkotaan, jumlah nan terlihat bakal jauh lebih sedikit.

1. July Gamma Draconids (28 Juli 2026)

Hujan meteor ini diperkirakan mencapai puncaknya pada 28 Juli 2026. Berdasarkan info IMO, Bumi bakal melintasi posisi orbit nan pernah memicu lonjakan aktivitas pada 2016. Di Indonesia, waktu puncak diprediksi terjadi pada:

  • 20.00 WIB
  • 21.00 WITA
  • 22.00 WIT

Radiant hujan meteor ini berada di konstelasi Draco dengan kecepatan meteor sekitar 27 km/detik. Namun, pengamatan dari Indonesia tergolong kurang ideal lantaran Draco merupakan konstelasi langit utara. Peluang terbaik dimiliki oleh masyarakat di wilayah Indonesia bagian utara dengan pandangan bebas halangan ke arah alam utara.

2. Southern Delta Aquariids (30-31 Juli 2026)

Southern Delta Aquariids adalah hujan meteor paling aktif dalam daftar ini dengan ZHR mencapai 25 meteor per jam. Fenomena nan berasal dari material komet 96P/Machholz ini sangat cocok diamati dari wilayah tropis seperti Indonesia lantaran radiant Aquarius dapat naik cukup tinggi di langit setelah tengah malam.

Meskipun jumlahnya relatif banyak, meteor ini mempunyai kelemahan ialah cahayanya nan condong redup, sehingga sangat rentan terganggu oleh polusi sinar maupun sinar Bulan.

3. Alpha Capricornids (30-31 Juli 2026)

Berlangsung berbarengan dengan Southern Delta Aquariids, Alpha Capricornids menawarkan daya tarik berbeda. Meski intensitasnya rendah (5 meteor per jam), meteor nan berasal dari komet 169P/NEAT ini sering menghasilkan fireball alias bola api nan sangat terang dan bergerak lambat (23 km/detik).

Keunggulan Alpha Capricornids adalah kemampuannya menembus gangguan sinar Bulan lantaran intensitas cahayanya nan lebih kuat dibandingkan meteor lainnya.

Tantangan Utama: Gangguan Bulan Purnama

Kondisi pengamatan pada akhir Juli 2026 kurang menguntungkan. Bulan purnama terjadi pada 29 Juli 2026 pukul 21.35 WIB. Saat puncak hujan meteor terjadi pada 30-31 Juli, Bulan tetap mempunyai tingkat pencahayaan sekitar 98 persen. Hal ini bakal mengakibatkan meteor redup tidak terlihat dan jumlah meteor nan teramati bakal jauh di bawah nomor ZHR.

Panduan Waktu dan Cara Pengamatan di Indonesia

Untuk mendapatkan pengalaman terbaik, berikut adalah pedoman waktu pengamatan bagi masyarakat di Indonesia:

  • July Gamma Draconids: Amati pada malam 28 Juli mulai pukul 20.00 waktu setempat, fokuskan pandangan ke arah langit utara.
  • Southern Delta Aquariids & Alpha Capricornids: Amati pada malam 30 Juli hingga awal hari 31 Juli, terutama setelah pukul 23.00 hingga menjelang fajar. Arahkan pandangan ke area langit luas dari timur, tenggara, hingga selatan.

Tips Pengamatan:

  1. Tanpa Alat Bantu: Tidak diperlukan teleskop alias binokular lantaran meteor bergerak sigap dan mencakup area langit nan luas. Mata bugil adalah langkah terbaik.
  2. Lokasi Gelap: Cari letak nan minim polusi sinar lampu kota.
  3. Adaptasi Mata: Berikan waktu 20-30 menit bagi mata untuk beradaptasi dengan kegelapan.
  4. Siasati Cahaya Bulan: Posisikan diri di kembali pohon, bangunan, alias bukit nan dapat menghalangi sinar Bulan secara langsung agar langit di sekitar area pengamatan tampak lebih kontras. (Z-10)
Selengkapnya