3 Lembaga Dunia Ramal Pertumbuhan Ekonomi RI, Bisa Sampai 5,6%?

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2026 berada di kisaran 5,6 hingga 6,0% secara tahunan (year-on-year).

Adapun, proyeksi ini berada di atas sasaran APBN nan ditetapkan sebelumnya dan ditopang oleh keahlian kuartal I-2026 nan tumbuh kuat di nomor 5,61%. Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan ekonomi berada di kisaran 4,9 hingga 5,7%.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mendekati 6% pada 2026. Keyakinan tersebut tumbuh dari angan Purbaya ketegangan geopolitik di Timur Tengah bisa berkurang, sehingga tekanan ekonomi juga bis mereda.

"Itu mah optimis banget loh itu. Kalau 5% sih pasti tahun ini mungkin saya harapkan bisa tumbuh mendekati 6%," kata Purbaya kepada CNBC Indonesia dikutip Senin (13/7/2026).

Jika angan ketegangan geopolitik mereda menjadi kenyataan, Purbaya mengatakan bahwa dirinya bakal mempunyai ruang untuk mengalokasikan anggaran untuk percepatan pertumbuhan ekonomi.

Di tengah optimisme pemerintah ini, rupanya sejumlah lembaga bumi sudah mempublikasikan proyeksi ekonomi Indonesia. Ada tiga lembaga nan telah merilis proyeksinya, ialah Bank Dunia (World Bank), Dana Moneter Internasional (IMF) dan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).

Bank Dunia

Bank Dunia (World Bank) memprediksi perekonomian Indonesia pada 2026 bakal sedikit melambat, lantaran adanya tekanan dari dunia akibat ketidakpastian geopolitik. Dalam laporan riset terbarunya nan dimuat pada Indonesia Economic Prospects jenis Juni 2026, ekonomi Tanah Air pada 2026 diperkirakan hanya bakal tumbuh 5,0%

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan melambat menjadi 5,0% pada 2026, lantaran tekanan eksternal membebani investasi dan ekspor," tulis laporan tersebut, dikutip Jumat (12/6/2026).

Namun pada periode 2027-2028, ekonomi Indonesia diprediksi bakal kembali tumbuh 5,2%, seiring pulihnya bentrok dunia dan pemulihan nan dilakukan oleh pemerintah Indonesia.

Lebih rinci, konsumsi rumah tangga diperkirakan bakal terus tumbuh sekitar 5,0%, didukung oleh stimulus fiskal, sedangkan konsumsi pemerintah meningkat 8,7%.

Namun, ketergantungan pada shopping pemerintah dalam jangka pendek dapat membawa risiko, mengingat ruang fiskal nan terbatas dan biaya subsidi nan meningkat di tengah patokan fiskal nan berlaku.

Bank Dunia juga mengungkapkan jika bentrok di Timur Tengah tetap bersambung hingga akhir 2026, maka gangguan pasar minyak mentah tetap menjadi tantangan bagi Indonesia.

"Jika kami mengasumsikan bahwa bentrok Timur Tengah tetap terkendali tetapi bersambung hingga 2026, gangguan pasar minyak dan gesekan pengiriman nan membikin nilai minyak mentah Brent tetap tinggi di US$ 94 per barel lebih tinggi dari dugaan anggaran tahun 2026," lanjut laporan tersebut.

Kondisi moneter dunia juga diperkirakan bakal tetap ketat, dengan imbal hasil obligasi nan tinggi dan premi akibat nan rentan meningkat andaikan ada guncangan baru.

Bank Dunia menilai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah sangat berjuntai pada keberhasilan penerapan reformasi struktural.

"Pemulihan ekonomi menuju level 5,2% pada 2027-2028 diperkirakan bakal ditopang oleh membaiknya pasar komoditas, pertumbuhan angsuran swasta nan lebih kuat, percepatan investasi melalui Danantara, serta agenda deregulasi dan penghilangan halangan upaya nan tengah dijalankan pemerintah," ujar laporan tersebut.

Meski demikian, Bank Dunia mengingatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini tetap banyak didorong stimulus dari sisi permintaan, termasuk shopping pemerintah dan beragam program fiskal.

Tanpa reformasi nan bisa meningkatkan produktivitas, dorongan tersebut hanya bakal memberikan pengaruh sementara dan tidak cukup untuk meningkatkan kapabilitas pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

"Proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,2% pada periode 2027-2028 berjuntai pada reformasi struktural," imbuh laporan tersebut.

IMF

Dana Moneter Internasional (IMF) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5% hingga akhir 2026. Hal itu disampaikan World Economic Outlook (WEO) Update: Global Economy in Crosscurrents of War and Technology jenis Juli 2026.

Dalam laporan itu, IMF memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi RI stabil namalain tidak berubah dari outlook jenis April 2026. IMF pun menyebut ketidakpastian kebijakan dan geopolitik diperkirakan tetap bakal tetap tinggi hingga 2027.

"Berdasarkan dugaan tersebut, pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksikan melambat menjadi 3,0 persen pada 2026, sebelum kembali meningkat menjadi 3,4 persen pada 2027," tulis IMF dalam laporan tersebut, dikutip Senin (13/7/2026).

Sementara itu, prospek ekonomi Indonesia juga sejalan dengan rata-rata pertumbuhan golongan negara berkembang di area Asia (Emerging and Developing Asia) nan diperkirakan mencapai 5% pada 2026.

OECD

OECD merevisi ke bawah pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026 dan 2027 di tengah meningkatnya akibat dunia utamanya di Timur Tengah. Produk Domestik Bruto (PDB) riil Indonesia diproyeksikan tumbuh 4,7% pada 2026, sebelum meningkat menjadi 5,0% pada 2027.

"Kenaikan biaya daya dan ketidakpastian kebijakan diperkirakan bakal menekan konsumsi serta investasi di tengah melemahnya pasar tenaga kerja," tulis OECD dalam laporan terakhirnya.

Menurut OECD, ekspor neto RI diproyeksikan tidak memberikan kontribusi bersih terhadap pertumbuhan ekonomi. Permintaan dunia nan lebih lemah terhadap sejumlah komoditas ekspor utama Indonesia diperkirakan bakal diimbangi oleh perlambatan impor seiring moderasi permintaan domestik.

Lalu, OECD memperkirakan inflasi RI meningkat menjadi 3,4% pada 2026 lantaran kenaikan nilai daya dunia secara berjenjang diteruskan ke nilai domestik, meskipun pemerintah saat ini tetap mempertahankan kebijakan pembekuan nilai bahan bakar bersubsidi.

"Dari sisi kebijakan, kebijakan moneter diperkirakan tetap tidak berubah hingga akhir 2026. Hal ini lantaran kebijakan pembekuan nilai BBM saat ini bisa meredam akibat kenaikan nilai daya dunia terhadap inflasi domestik," katanya.

Sementara itu, kebijakan fiskal diproyeksikan tetap berkarakter ekspansif pada 2026. Menurut OECD, peningkatan shopping untuk subsidi daya dan program makan bergizi cuma-cuma (MBG) diperkirakan hanya sebagian diimbangi oleh kenaikan pajak serta pemangkasan shopping di sektor lainnya.

OECD menilai efisiensi shopping publik dapat ditingkatkan melalui penyaluran subsidi daya nan lebih tepat sasaran kepada golongan rumah tangga rentan.

Selain itu, percepatan pengembangan daya terbarukan dinilai dapat memperkuat ketahanan daya nasional. OECD juga menekankan pentingnya penguatan tata kelola Danantara sebagai entitas investasi dan holding milik negara agar akibat positif investasi nan dilakukan terhadap perekonomian dapat dimaksimalkan.

(haa/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya