Jakarta, CNBC Indonesia - Tiga pulau mini milik Iran di mulut Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian. Ini setelah militer Amerika Serikat (AS) menggempur dua di antaranya dalam eskalasi terbaru perang dengan Teheran.
Meski luas gabungannya hanya sekitar 25 kilometer persegi, Abu Musa, Tunb Besar dan Tunb Kecil mempunyai posisi nan sangat strategis. Ketiganya berada tepat di jalur pelayaran utama salah satu chokepoint daya terpenting dunia.
Sebenarnya, pulau-pulau tersebut telah lama menjadi pangkalan militer Iran nan memungkinkan Teheran mengawasi sekaligus mengendalikan pergerakan kapal di Selat Hormuz, jalur nan pada masa tenteram dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam dunia. Melansir kajian The Associated Press, Jumat (17/7/2026), serangan militer AS terhadap Abu Musa dan Tunb Besar dalam beberapa hari terakhir memunculkan kembali spekulasi mengenai masa depan tiga pulau berbatu itu.
Perlu diketahui, hingga kini, ketiga pulau tetap menjadi area sengketa antara Iran dan Uni Emirat Arab (UEA). Iran merebutnya pada 30 November 1971 dari wilayah nan kemudian menjadi UEA, hanya dua hari sebelum negara Teluk itu resmi berdiri.
Pulau Kecil, Peran Strategis Besar
Ya, total luas ketiga pulau itu hanya sekitar 10 mil persegi alias sekitar 25 kilometer persegi. Namun letaknya berada tepat di jalur laut dalam nan digunakan kapal-kapal untuk keluar masuk Selat Hormuz menuju Teluk Persia.
Pulau terbesar, Abu Musa, mempunyai sebuah desa kecil. Tetapi kegunaan utamanya adalah sebagai pangkalan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Iran menempatkan kapal-kapal cepat, rudal, dan sistem pertahanan udara di pulau tersebut. Kapal sigap dan rudal itu selama bertahun-tahun digunakan untuk mengganggu pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Pulau Tunb Besar juga menjadi letak penempatan sistem pertahanan udara dan instalasi militer Iran. Sementara Pulau Tunb Kecil nan lebih mini hanya dihuni personel militer.
Karena posisi strategisnya, area ini telah lama diperebutkan oleh beragam kekuatan regional. Iran merebutnya saat dipimpin Shah Mohammad Reza Pahlavi, di mana kala itu Teheran masih sekutu utama AS di kawasan.
Digunakan Iran Sejak Perang Tanker
Setelah Revolusi Islam 1979, Iran menjadikan ketiga pulau itu sebagai pedoman operasi dalam "Perang Tanker" pada dasawarsa 1980-an ketika Angkatan Laut AS mengawal kapal tanker minyak melewati area nan berada di bawah ancaman serangan Iran. Dari pulau-pulau tersebut, Iran memantau aktivitas di Selat Hormuz sekaligus meluncurkan kapal untuk memasang ranjau maupun menyerang kapal secara langsung.
Data pemerintah AS memperkirakan Iran menyerang lebih dari 160 kapal selama bentrok tersebut. Dalam perang nan sedang berjalan saat ini, Joint Maritime Information Center, koalisi nan berada di bawah pengawasan Angkatan Laut AS, mencatat telah terjadi lebih dari 50 serangan terhadap kapal maupun akomodasi minyak.
Angka itu juga mencakup sejumlah insiden. Termasuk ketika militer AS melepaskan tembakan ke kapal-kapal nan dituduh berupaya menembus blokade terhadap Iran.
Sasaran Serangan AS
Dalam beberapa hari terakhir, militer AS melancarkan serangan terhadap Abu Musa dan Tunb Besar sebagai bagian dari eskalasi bentrok dengan Iran. Serangan tersebut memunculkan spekulasi bahwa Washington mungkin mempertimbangkan operasi militer untuk merebut pulau-pulau tersebut.
Kolumnis The Telegraph nan berbasis di Dubai, Isabel Oakeshott, menggambarkan peran strategis ketiga pulau tersebut bagi Iran. Ia apalagi menyebut Abu Musa sebagai "kapal induk tetap" milik Iran.
"Bersama-sama, mereka bertindak sebagai sistem pertahanan berlapis terhadap titik penyempitan daya paling krusial di dunia," ujarnya.
Secara militer, sejumlah analis menilai AS mempunyai keahlian merebut pulau-pulau tersebut lantaran mempunyai pasukan Marinir dan pasukan lintas udara nan sudah berada di kawasan. Namun, mempertahankan pulau-pulau itu setelah direbut dinilai jauh lebih sulit.
Analis Quincy Institute for Responsible Statecraft Brandon Carr memperingatkan bahwa pasukan Amerika bakal sangat rentan terhadap serangan jawaban Iran. Menurut Carr, pasukan Marinir AS bakal menghadapi ancaman langsung dari rudal balistik maupun drone Iran.
"Tanpa tembok pertahanan nan telah dipersiapkan dan diperkuat untuk memberikan perlindungan, apalagi dengan support udara dari aset angkatan laut di sekitar, perlindungan terhadap pasukan bakal menjadi tantangan nan sangat besar," ujarnya.
"Pasukan Marinir bakal berada di bawah tembakan rudal balistik dan drone Iran, nan secara signifikan bakal membatasi keahlian mereka memproyeksikan kekuatan ke Selat Hormuz," tambahnya.
Yang Dilakukan UEA
Dalam beberapa tahun terakhir, UEA sebenarnya sukses melobi China dan Rusia agar memasukkan bahasa mengenai penyelesaian sengketa tiga pulau tersebut melalui negosiasi alias pengadilan internasional ke dalam pernyataan berbareng mereka. Langkah itu memicu kemarahan Teheran, meski sengketa tersebut relatif kurang mendapat perhatian dunia.
Pakar norma asal UEA, Noora Mohamed Al Murry, menilai bumi selama ini keliru memandang persoalan tersebut. Ia juga menilai sikap ambigu organisasi internasional mempunyai akibat besar.
"Apa nan bumi sebut sebagai sengketa wilayah bilateral sebenarnya sejak awal merupakan klaim strategis atas salah satu titik penyempitan perdagangan global," katanya.
"Ambiguitas nan dikelola, di jalur perairan nan sedemikian penting, bukanlah posisi nan netral. Itu adalah sebuah pilihan nan mempunyai harga, dan bumi sekarang sedang menerima tagihannya," tambahnya.
Sementara itu, Oakeshott memperkirakan Uni Emirat Arab bakal berupaya mendapatkan kembali pulau-pulau tersebut setelah bentrok berakhir. Menurutnya, UEA nan menjadi tuan rumah pangkalan militer AS dan beberapa kali menjadi sasaran serangan Iran selama perang kemungkinan bakal memanfaatkan momentum pascakonflik untuk menghidupkan kembali klaimnya atas Abu Musa serta Tunb Besar dan Tunb Kecil.
Eskalasi militer AS terhadap Iran dinilai dapat memaksa penyelesaian sengketa nan telah berjalan selama 55 tahun sejak Shah Mohammad Reza Pahlavi pernah memperingatkan bumi mengenai pentingnya Selat Hormuz.
"Tidak diperlukan kapal besar untuk membawa sebuah bazoka dan beberapa peluru," kata Shah kepada The Guardian pada 1971. "Namun gangguan nan dapat ditimbulkannya sangatlah besar."
(luc/luc)
Addsource on Google

4 hari yang lalu
12







English (US) ·
Indonesian (ID) ·