ARTICLE AD BOX
Psikolog mengungkap argumen evolusioner di kembali kebiasaan scrolling pagi hari dan dampaknya terhadap kesehatan mental.(Dok. Radartech)
BANYAK orang mempunyai kebiasaan langsung meraih ponsel sesaat setelah mata terbuka di pagi hari. Fenomena nan sering disebut sebagai morning scroll ini rupanya bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan hasil dari dorongan psikologis dan evolusioner nan mendalam.
Data dari laporan YouGov 2025 menunjukkan bahwa kebanyakan orang dewasa di bawah usia 30 tahun sering menggunakan ponsel tepat sebelum tidur dan segera setelah bangun.
Sementara itu, laporan The Independent menyebut 81% penduduk Inggris melakukan perihal serupa. Psikoterapis John Puls menjelaskan bahwa kejadian ini dipicu oleh sistem penghargaan dopamin alami manusia dan kebutuhan dasar untuk terhubung secara sosial.
Dorongan Evolusioner dan Amigdala
Dilansir dari Techradar, Psikolog klinis Ari Lakritz mengungkapkan bahwa otak manusia secara alami terprogram untuk mencari informasi, terutama nan berkarakter mengancam.
"Bagian otak nan menangani perihal itu disebut amigdala, salah satu bagian tertua nan bertanggung jawab atas respons rasa takut," ujarnya. Memeriksa buletin negatif alias doomscrolling di pagi hari mirip dengan nenek moyang kita nan memindai alam untuk mencari ancaman.
Masalahnya, algoritma media sosial sering kali memprioritaskan konten nan memicu kemarahan alias emosi kuat untuk memaksimalkan keterlibatan. Hal ini menyebabkan pelepasan hormon stres kortisol nan membikin otak mengalami stimulasi berlebihan (overstimulation) sejak awal hari.
Dampak pada Fokus dan Kesehatan Mental
Memulai hari dengan stimulasi nan sangat sigap dan intens, seperti video pendek di TikTok alias YouTube Shorts, dapat merusak keahlian fokus. Lakritz memperingatkan bahwa jika standar dasar otak di pagi hari adalah intermezo instan, maka bakal susah bagi seseorang untuk beranjak ke tugas nan memerlukan pemikiran mendalam alias konsentrasi tinggi di siang hari.
Bagi generasi muda, tekanannya jauh lebih besar. John Puls mencatat bahwa rata-rata waktu layar (screen time) remaja nan dia tangani mencapai 14 hingga 15 jam sehari. "Bagi anak muda, mereka merasa jika tidak eksis secara daring, maka mereka tidak eksis secara sosial," tambah Puls.
Cara Mengambil Alih Kendali
Olivia Yokubonis, master strategi kesejahteraan digital, menyarankan beberapa langkah praktis untuk menghentikan kebiasaan ini:
- Zona Bebas Ponsel: Jangan letakkan ponsel di dalam bilik tidur. Gunakan jam weker bentuk agar Anda kudu bangun dan keluar bilik untuk mematikan alarm.
- Kesadaran (Awareness): Sadari bahwa morning scroll sering kali terjadi secara tidak sadar. Gunakan fitur pembatas waktu layar seperti Screen Time di iOS alias aplikasi pihak ketiga.
- Pengurangan Bertahap: Dr. Lakritz menyarankan untuk mencoba memotong waktu layar sebesar 10% setiap minggunya sebagai langkah awal nan realistis.
Beberapa produsen teknologi mulai merespons rumor ini. Google sedang mengembangkan fitur Pause Point untuk mengalihkan pengguna dari media sosial, sementara Apple memperkenalkan pembaruan fitur kesejahteraan pada iOS 27 untuk membantu pengguna mengelola waktu layar mereka dengan lebih baik. (Techradar/Z-10)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·