ARTICLE AD BOX
Ilustrasi(Badan Geologi)
Selama ini bumi mengenal Taiwan sebagai raksasa teknologi dunia dan rumah bagi Taipei 101, salah satu gedung pencakar langit paling ikonik di bumi. Namun, di kembali gemerlap modernitasnya, ibu kota Taiwan rupanya sedang "tidur" di atas potensi musibah vulkanik nan nyata. Fakta mengejutkan ini menjadi dasar kuat bagi Taiwan untuk menoleh ke Indonesia guna mempelajari ketangguhan dalam menghadapi ancaman alam.
Ancaman di Jantung Kota Taipei
Assoc. Prof. Fu-Chih Lai, RN. Ph.D., perwakilan dari Taipei Medical University sekaligus Wakil Ketua Komunitas Keperawatan Bencana Asosiasi Perawat Taiwan, mengungkapkan bahwa keberadaan pemandian air panas di Taipei adalah parameter absolut adanya aktivitas vulkanik. "Jika Anda mempunyai pemandian air panas, Anda pasti mempunyai gunung berapi nan aktif. Ya, kami mempunyai gunung berapi aktif di Kota Taipei," ujarnya saat menghadiri pembukaan Summer Course 2026 on Interprofessional Healthcare di Universitas Gadjah Mada (UGM), Senin (13/7).
Data nan dipaparkan Prof. Lai cukup menggetarkan: jarak dari gedung Taipei 101 ke gunung berapi aktif tersebut kurang dari 15 kilometer. Sebagai perbandingan, jarak kondusif dari pusat Kota Yogyakarta ke puncak Gunung Merapi berada di kisaran 23 hingga 28 kilometer. Hal ini menunjukkan bahwa Taipei berada dalam radius akibat nan jauh lebih dekat dibandingkan salah satu kota paling rawan musibah di Indonesia.
Perbandingan Jarak Pusat Kota ke Gunung Berapi Aktif:
- Taipei (Taipei 101): < 15 Kilometer
- Yogyakarta (Pusat Kota): 23 - 28 Kilometer
Belajar Resiliensi dari Komunitas Lokal Indonesia
Meskipun Taiwan mempunyai kelebihan teknologi—seperti sistem notifikasi gempa instan nan bisa menjangkau ponsel seluruh masyarakat dalam hitungan detik—mereka merasa perlu menyerap pengetahuan dari kearifan lokal Indonesia. Fokus utama Taiwan adalah gimana organisasi lokal di sekitar gunung berapi di Indonesia bisa bahu-membahu menyelamatkan satu sama lain, termasuk visitor asing, saat aktivitas vulkanik meningkat.
"Bagaimana jika visitor datang ke sini, dan Anda mempunyai gunung berapi aktif? Jika organisasi lokal kita bisa saling membantu dan berbagi sistem peringatan dini, itu bakal sangat luar biasa. Kita kudu bekerja sama satu sama lain," tambah Prof. Lai.
Summer Course 2026: Sinergi Lintas Disiplin dan Negara
Menanggapi kebutuhan dunia bakal manajemen bencana, FK-KMK UGM menyelenggarakan Summer Course 2026 on Interprofessional Healthcare. Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D., menegaskan bahwa nyawa manusia tidak bisa diselamatkan oleh satu pekerjaan saja saat musibah melanda.
Program nan berjalan dari 13 hingga 24 Juli 2026 ini diikuti oleh 81 mahasiswa lintas disiplin dari 11 negara. Misi utamanya adalah memperkuat tembok sistem kesehatan bumi melalui kerjasama total lintas sektor.
Metode Pelatihan dan Implementasi Lapangan
Ketua Panitia Summer Course 2026, Melyza Perdana, S.Kep., Ns., MS., Ph.D., menjelaskan bahwa aktivitas ini menggunakan pendekatan Interprofessional Education (IPE). Mahasiswa dari beragam latar belakang pengetahuan seperti kedokteran, teknik, biologi, hingga makulat dilebur dalam satu tim kerja.
Selama dua minggu, para peserta menjalani training intensif nan meliputi:
- Simulasi kebencanaan skala besar.
- Psychological First Aid (Pertolongan pertama psikologis).
- Taktik Disaster Victim Identification (DVI).
- Kunjungan lapangan ke Rumah Sakit Akademik UGM.
- Observasi langsung di pusat pemantauan gunung api untuk mempelajari sistem manajemen darurat.
"Program ini mendorong mahasiswa untuk memahami beragam persoalan kesehatan dalam situasi musibah serta berkontribusi dalam pengembangan sistem kesehatan nan tangguh, inklusif, dan berkelanjutan," tegas Melyza.
Kesimpulan: Membangun Benteng Pertahanan Global
Kolaborasi antara Taiwan dan Indonesia melalui platform akademis di UGM ini membuktikan bahwa akibat musibah dunia memerlukan jawaban kolektif. Dengan menggabungkan kecanggihan teknologi peringatan awal milik Taiwan dan kekuatan resiliensi berbasis organisasi milik Indonesia, diharapkan tercipta standar baru dalam manajemen musibah internasional nan bisa meminimalisir korban jiwa di masa depan.
FAQ (Pertanyaan nan Sering Diajukan)
1. Mengapa Taiwan belajar manajemen musibah ke Indonesia?
Meskipun Taiwan unggul dalam teknologi notifikasi, Indonesia dinilai mempunyai pengalaman luar biasa dalam resiliensi organisasi lokal dan manajemen pemindahan di wilayah nan sangat dekat dengan gunung berapi aktif.
2. Apa itu pendekatan Interprofessional Education (IPE) dalam manajemen bencana?
IPE adalah metode pembelajaran di mana mahasiswa dari beragam disiplin pengetahuan (seperti medis, teknik, dan sosial) belajar berbareng untuk menciptakan kerjasama nan efektif dalam menangani situasi darurat.
3. Seberapa dekat ancaman gunung berapi di Taipei?
Berdasarkan pernyataan Assoc. Prof. Fu-Chih Lai, jarak gunung berapi aktif ke gedung Taipei 101 kurang dari 15 kilometer, nan secara teknis lebih dekat dibandingkan jarak Yogyakarta ke Gunung Merapi.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·