Seorang petani memeriksa penampungan air nan mengalami kekeringan.(Dok. Antara)
SEJUMLAH wilayah di Jawa Tengah mulai melakukan beragam langkah mitigasi untuk mengantisipasi puncak musim kemarau nan diperkirakan berjalan pada Agustus hingga September 2026 mendatang. Upaya ini difokuskan pada penanganan musibah kekeringan serta pencegahan kebakaran rimba dan lahan (karhutla).
Berdasarkan pemantauan pada Selasa (21/7), langkah mitigasi nan ditempuh meliputi penghematan penggunaan air, penyaluran support air bersih, hingga pengawasan ketat terhadap potensi percikan api. Langkah ini diambil seiring dengan meningkatnya potensi kekeringan nan sekarang telah melanda 19 wilayah di Jawa Tengah.
"Waspadai kekeringan terjadi saat puncak kemarau. Saat ini sudah 19 wilayah terdampak," ujar Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Risca Maulida.
Risca menjelaskan bahwa jumlah wilayah nan dilanda kekeringan terus bertambah sejak Juni lalu, dari sebelumnya 16 menjadi 19 daerah. Wilayah tersebut meliputi Batang, Kendal, Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Demak, Purworejo, Jepara, Kudus, Pati, Rembang, Blora, Grobogan, Klaten, Kota Surakarta, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, serta Kota dan Kabupaten Magelang.
Mitigasi di Semarang dan Pekalongan
Di Kota Semarang, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memberikan perhatian unik pada potensi kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang. Kepala DLH Kota Semarang, Glory Nasarani, menyatakan bahwa pihaknya mengintensifkan penyiraman dua hari sekali, terutama di area 1 dan 2 untuk mencegah munculnya api.
Sementara itu, di Kabupaten Pekalongan, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Sukirman memimpin Apel Kesiapsiagaan Menghadapi Potensi Bencana pada Selasa (21/7). Ia memastikan kesiapan personel dan sarana prasarana lintas sektor untuk menghadapi ancaman kekeringan dan karhutla.
"Saya minta penduduk untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap musibah musim kemarau," tegas Sukirman. Ia juga mengimbau penduduk untuk menghemat air bersih. Saat ini, BPBD Pekalongan telah mulai menyalurkan support air bersih ke sejumlah wilayah nan terdampak kekurangan air.
Petani Beralih ke Palawija
Dampak tandus juga dirasakan di sektor pertanian. Petani di wilayah Pantura, seperti Demak, Pati, Grobogan, dan Blora, mulai beranjak membudidayakan tanaman palawija pada lahan tadah hujan untuk menghindari akibat kandas panen dan menekan biaya produksi nan tinggi akibat sulitnya pengairan.
"Karena air mulai berkurang dan akibat tinggi, maka kami beranjak ke tanaman palawija nan tidak terlalu banyak memerlukan air seperti kacang, jagung, dan kedelai," ujar Ngatain, seorang petani di Tambakromo, Kabupaten Pati.
Hal senada dilakukan petani di Mijen, Kabupaten Demak. Sugiri, salah satu petani setempat, mengungkapkan bahwa mereka telah mengantisipasi tandus dengan menanam semangka, melon, alias blewah. Sebagian besar dari mereka apalagi telah memasuki masa panen sehingga terhindar dari kerugian finansial akibat kekeringan. (H-3)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·