APL Hadirkan Tirzepatide, Perkuat Tatalaksana Penyakit Metabolik di RI

16 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL), sebuah perusahaan Zuellig Pharma, hari ini mengumumkan kehadiran tirzepatide di Indonesia. Tirzepatide merupakan agonis reseptor dobel GIP (glucose-dependent insulinotropic polypeptide) dan GLP-1 (glucagon-like peptide-1) pertama di kelasnya nan menawarkan pilihan terapi baru berbasis bukti (evidence based) untuk penanganan glukosuria melitus jenis 2 dan obesitas.

Diabetes melitus jenis 2 dan obesitas merupakan dua penyakit metabolik nan saling berangkaian erat dan tetap menjadi tantangan kesehatan masyarakat nan terus meningkat di Indonesia. Berdasarkan International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas 2025, diperkirakan terdapat 20,4 juta orang dewasa berumur 20-79 tahun nan hidup dengan glukosuria di Indonesia, dan jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 28,6 juta pada tahun 2050.

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 turut mencatat prevalensi obesitas pada orang dewasa Indonesia telah mencapai 23,4%, menunjukkan peningkatan nan signifikan dalam satu dasawarsa terakhir. Kedua kondisi ini secara signifikan meningkatkan akibat beragam komplikasi serius, termasuk penyakit kardiovaskular dan penyakit ginjal kronis, serta menurunkan kualitas hidup pasien. Hal ini menegaskan pentingnya pendekatan nan lebih komprehensif dalam penanganan penyakit metabolik.

Presiden Direktur APL Christophe Piganiol mengatakan, hadirnya tirzepatide merupakan langkah krusial dalam upaya kami menghadirkan penemuan kesehatan nan berakibat bagi masyarakat Indonesia dan memastikan lebih banyak pasien dapat memperoleh akses terhadap terapi nan tepat.

"Melalui kerjasama nan erat dengan regulator, organisasi pekerjaan medis, dan tenaga kesehatan kami mau membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus mewujudkan tujuan kami dalam membikin jasa kesehatan berbobot menjadi lebih mudah diakses," tuturnya dalam keterangan tertulis dikutip Sabtu (4/7/2026).

Kehadiran tirzepatide di Indonesia dapat terwujud berkah kerjasama nan erat dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM). APL, lanjut Christophe, sangat mengapresiasi peran BPOM dalam memastikan tirzepatide dapat menjangkau pasien melalui persetujuan izin edar dalam waktu 98 hari kerja. Selain itu, juga mengenai persetujuan indikasi manajemen berat badan kronis (chronic weight management) hanya dalam waktu 42 hari kerja melalui jalur reliance, dengan tetap menjaga standar keamanan, khasiat, dan mutu.

Jalur percepatan nan disetujui dan diterapkan oleh BPOM sejak 1 Agustus 2025 ini memungkinkan perusahaan nan mempunyai berkas arsip (Dossier) komplit dan telah disetujui di negara referensi untuk mendapatkan persetujuan dalam waktu sekitar 90 hari kerja, sehingga mempercepat akses obat-obatan inovatif bagi para pasien.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM) Taruna Ikrar menegaskan, bahwa setiap obat nan memperoleh izin edar telah melalui pertimbangan ilmiah nan ketat untuk memastikan keamanan, khasiat, dan mutunya.

"BPOM berkomitmen untuk terus membangun ekosistem izin nan adaptif agar masyarakat Indonesia dapat memperoleh faedah dari penemuan di bagian kesehatan dengan tetap menjunjung tinggi standar keselamatan pasien," ujarnya.

Seiring berkembangnya pengetahuan pengetahuan, pendekatan tata laksana penyakit metabolik juga terus berevolusi. Tirzepatide bekerja dengan mengaktivasi dua hormon inkretin alami, ialah GIP dan GLP-1, nan berkedudukan krusial dalam mengatur kadar gula darah, meningkatkan sensitivitas insulin, serta mengendalikan nafsu makan dan keseimbangan energi. Mekanisme kerja dobel ini menghadirkan pendekatan terapi nan lebih komprehensif dalam pengelolaan glukosuria melitus jenis 2 maupun obesitas.

Sementara itu, Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) dr. Em Yunir menjelaskan, beragam studi klinis menunjukkan bahwa tirzepatide bisa memberikan kontrol glikemik nan signifikan sekaligus menghasilkan penurunan berat badan nan berfaedah pada pasien glukosuria melitus jenis 2.

"Kehadiran penemuan ini memperluas pilihan terapi penyakit metabolik sehingga master dapat semakin mempersonalisasi pengobatan berasas karakter klinis dan komplikasinya, serta pedoman praktik klinis nan berlaku," tukasnya.

Tidak ketinggalan, Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono menekankan obesitas sebagai salah satu penyakit metabolik nan perlu dikelola dengan tepat.

"Bicara tentang obesitas bukan sekadar bicara tentang corak tubuh (body shape). Obesitas adalah masalah perubahan aspek metabolisme tubuh. Oleh lantaran itu, pendekatan penanganan obesitas menjadi sangat krusial sebagai langkah preventif untuk mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut. Dengan menurunkan nomor obesitas, kita secara langsung dapat menurunkan nomor kejadian diabetes, menurunkan nomor hipertensi, serta menekan akibat penyakit kardiovaskular dan penyakit penyerta lainnya," terangnya.

Kolaborasi nan erat antara regulator, organisasi pekerjaan medis, industri, serta tenaga kesehatan diharapkan dapat memperkuat upaya Indonesia dalam mengatasi meningkatnya beban penyakit metabolik. Di saat nan sama, peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya akses terhadap terapi nan tepat juga berkedudukan krusial dalam meningkatkan kualitas kesehatan pasien sekaligus mendukung terwujudnya sistem kesehatan Indonesia nan semakin tangguh.

(rah/rah)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya