Arab Saudi di Ambang Perang Regional dengan Iran, Yaman, Irak

16 jam yang lalu 4
Arab Saudi di Ambang Perang Regional dengan Iran, Yaman, Irak Ilustrasi.(Magnific)

ARAB Saudi, nan selama lima bulan terakhir berupaya keras menghindari keterlibatan langsung dalam bentrok regional, sekarang berada di titik nadir kesabarannya. Meski tetap membuka jalur komunikasi dengan Teheran, Riyadh sekarang merasa terkepung oleh musuh dari tiga arah: Iran serta proksinya di Irak dan Yaman.

Ketegangan memuncak pada Selasa (28/7/2026) waktu setempat, ketika jet tempur Arab Saudi berbareng pesawat militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara di wilayah timur Irak. Langkah ini diambil setelah kerajaan tersebut menghadapi rentetan serangan rudal dari Houthi di Yaman dan serangan drone dari milisi pro-Iran di Irak selama sepekan terakhir.

Strategi Diplomasi di Ujung Tanduk

Keterlibatan langsung dalam bentrok bersenjata merupakan akibat besar bagi Riyadh. Selama satu dasawarsa terakhir, konsentrasi utama Kerajaan adalah membuka diri terhadap investasi asing dan menjadi kekuatan ekonomi regional. Visi ini pula nan mendorong kebijakan détente (peredaan ketegangan) dengan Iran, nan puncaknya adalah kesepakatan nan dimediasi Tiongkok pada 2023.

Namun, strategi tersebut sekarang berada dalam kondisi kritis. Menghadapi musuh nan mahir dalam perang asimetris dari tiga front sekaligus menjadi tantangan militer nan sangat kompleks bagi perencana pertahanan Saudi, meskipun mereka menginvestasikan puluhan miliar dolar untuk modernisasi militer dan sistem pertahanan rudal.

Ancaman Houthi dan Blokade Laut Merah

Pada akhir pekan lalu, golongan Houthi menembakkan rudal ke dua kompleks minyak Saudi di pesisir Laut Merah. Citra satelit menunjukkan kerusakan signifikan pada akomodasi di Jazan, dekat perbatasan Yaman. Serangan ini diikuti oleh gangguan terhadap dua kapal tanker Saudi di Laut Merah setelah Houthi mengumumkan blokade di titik strategis Bab al-Mandeb.

Bagi Saudi, blokade ini adalah eskalasi besar lantaran mereka mengalihkan sebagian besar ekspor minyak melalui pelabuhan Laut Merah seperti Yanbu. Analis memperingatkan bahwa sekitar tiga perempat ekspor melalui jalur ini sekarang terpapar ancaman Houthi.

Konteks Sejarah: Arab Saudi menghabiskan tujuh tahun (sejak 2015) mencoba menundukkan Houthi di Yaman utara tetapi gagal yang justru memicu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Gencatan senjata tahun 2022 tidak pernah betul-betul berubah menjadi perdamaian permanen.

Front Irak dan Respons Tegas Riyadh

Selain dari selatan, ancaman muncul dari utara. Milisi pro-Iran di Irak meluncurkan gelombang drone nan menargetkan prasarana kritis di Riyadh pada Senin dan Selasa. Kementerian Pertahanan Saudi menyatakan bahwa kesabaran mereka telah lenyap dan langsung melakukan serangan presisi terhadap milisi di Irak timur nan mengenai dengan serangan akomodasi minyak tersebut.

Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi operasi campuran tersebut sebagai respons kuat terhadap lebih dari 30 serangan drone nan diarahkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran. "Kerajaan menekankan tidak mencari eskalasi, tetapi bakal menanggapi setiap agresi," tegas pernyataan resmi kementerian.

Dampak Ekonomi dan Ketidakpastian Global

Konflik ini mulai membebani ekonomi Saudi. Pada kuartal pertama tahun ini, Kerajaan mencatat defisit kuartalan terbesar sejak 2018 akibat peningkatan shopping pertahanan dan perlambatan ekonomi. Meskipun nilai minyak nan lebih tinggi memberikan pendapatan tambahan, gangguan pada produksi dan ekspor minyak dapat menakut-nakuti proyek-proyek besar nan sedang berjalan.

Di sisi lain, Riyadh juga merasa resah dengan ketidakkonsistenan kebijakan AS di bawah Presiden Donald Trump mengenai Iran dan Gaza. Meskipun kerja sama militer tetap erat, ada kekhawatiran di Riyadh bahwa mereka bakal ditinggalkan sendirian menghadapi Iran nan semakin asertif jika minat AS di area tersebut memudar.

Kini, Arab Saudi berada di persimpangan jalan. Keputusan untuk membalas serangan menunjukkan bahwa Kerajaan mencapai pemisah toleransi terhadap tekanan militer nan terus meningkat dari proksi-proksi Iran di sekelilingnya. (CNN/I-2)

Selengkapnya