ARTICLE AD BOX
Ilustrasi(Magnific)
SAAT Anda melangkah masuk ke dalam sebuah warung kopi nan ramai, objek pertama nan ditangkap oleh mata Anda rupanya bisa mengungkap info nan sangat personal. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan aktivitas mata manusia cukup unik dan unik untuk mengidentifikasi identitas seseorang. Hal ini didasarkan murni pada objek apa saja nan mempunyai makna pribadi bagi orang tersebut ketika memandang lingkungan baru.
Penelitian ini dipimpin oleh Caroline Robertson, seorang guru besar pengetahuan ilmu jiwa dan otak di Dartmouth College. Temuan ini memicu pertanyaan baru tentang seberapa banyak info pribadi nan tanpa sadar kita bagikan di bumi nan sekarang dipenuhi pengawasan digital konstan.
Selama beberapa dekade, para psikolog telah mempelajari gimana manusia mengarahkan perhatian mereka saat memindai lingkungan baru. Namun, riset ini membawa pemahaman tersebut ke tingkat nan lebih dalam.
"Sejak momen paling awal saat mengawasi lingkungan baru, kita membikin pilihan nan sangat berbeda tentang apa nan kita perhatikan," kata Robertson. "Penelitian ini menunjukkan bahwa prioritas konseptual kita nan tersembunyi tertanam dalam pola unik pandangan mata kita."
Menurut penelitian tersebut, orang-orang menghabiskan lebih banyak waktu di lingkungan baru untuk mencari hal-hal nan kaya secara konseptual dan berarti bagi diri mereka sendiri. Apa nan dipilih seseorang untuk dilihat ini berfaedah nyaris seperti sebuah sidik jari kepribadian.
Dalam eksperimennya, tim peneliti mengawasi gimana orang-orang memandang sebuah ruangan. Sebagai contoh, di dalam sebuah ruang kantor, seorang peserta langsung mengarahkan pandangannya pada benda-benda nan berangkaian dengan tulisan, seperti papan tik (keyboard) dan kitab catatan. Sementara itu, peserta lain justru lebih konsentrasi pada perincian arsitektur ruangan, seperti cetakan tembok (molding) dan hiasan tembok bagian belakang (backsplash).
Benda-benda nan mungkin tidak mempunyai kemiripan bentuk sama sekali, tetapi membawa tema nan sama di mata seseorang, rupanya dapat membedakan satu perseorangan dengan perseorangan lainnya secara jeli ketika dianalisis bersama.
Pola pengamatan ini juga mempunyai linimasa waktu nan spesifik. Dalam dua detik pertama saat memandang pemandangan baru, pandangan mata seseorang bakal terfokus pada dimensi spasial, seperti garis alam dan titik tengah gambar. Setelah itu, perhatian mulai bergeser ke komponen visual nan menonjol. Baru pada sekitar detik kedelapan, pandangan bakal bergerak menuju makna nan lebih dalam dari apa nan sedang mereka lihat.
Untuk menguji teori ini, tim peneliti menganalisis hasil penelitian menggunakan model visi komputer dan model bahasa besar (Large Language Model/LLM). Keduanya terbukti bisa mengidentifikasi perseorangan berasas aktivitas mata mereka nan unik.
Meski begitu, LLM nan secara unik menangkap preferensi konseptual seseorang bisa mendeteksinya dengan paling akurat. Peta konseptual mengenai apa nan menarik perhatian seseorang rupanya jauh lebih bisa mengidentifikasi jati diri dibandingkan sekadar pola visual mentah tentang ke mana arah mata mereka memandang. (Earth/Z-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·