ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk menghentikan sementara tindakan saling serang di area Teluk serta melanjutkan kembali perundingan mengenai sengketa Selat Hormuz. Kesepakatan tersebut memunculkan angan baru bahwa perjanjian tenteram sementara nan sebelumnya terancam runtuh akibat beberapa hari saling serang tetap dapat diselamatkan.
Seorang pejabat AS mengatakan kedua negara sepakat meredakan ketegangan dan kembali melanjutkan pembahasan teknis mengenai nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) nan disepakati pada 17 Juni lalu.
"Perundingan teknis dijadwalkan terus bersambung mengenai seluruh aspek nota kesepahaman. Untuk saat ini kedua belah pihak bakal menghentikan tindakan militer dan kapal-kapal dapat kembali melintas dengan bebas," kata pejabat tersebut, dikutip dari CNN International, Senin (29/6/2026).
Pernyataan itu merujuk pada nota kesepahaman berisi 14 poin nan disepakati pada 17 Juni, nan salah satu poin utamanya adalah membuka kembali Selat Hormuz bagi lampau lintas pelayaran internasional.
Media Axios, nan pertama kali melaporkan penghentian permusuhan dengan mengutip seorang pejabat senior AS, menyebut bahwa pembicaraan antara Washington dan Teheran bakal kembali digelar pada Selasa di Qatar.
Kembalinya jalur diplomasi itu terjadi setelah beberapa hari kedua negara saling melancarkan serangan menyusul kejadian pada Kamis ketika sebuah proyektil Iran menghantam kapal kargo di Selat Hormuz. Baik AS maupun Iran saling menuduh telah melanggar gencatan senjata sementara nan sebelumnya disepakati pada 17 Juni.
Pada Minggu awal hari, Iran meluncurkan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke sejumlah pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain. Serangan itu terjadi tidak lama setelah Presiden AS Donald Trump menakut-nakuti bahwa Republik Islam Iran bakal lenyap andaikan tidak mematuhi kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Di saat nan sama, Israel pada Minggu menyatakan kembali melancarkan serangan terhadap golongan bersenjata Hizbullah nan didukung Iran di Lebanon. Israel mengatakan serangan tersebut menghancurkan prasarana bawah tanah nan digunakan golongan itu di sebuah desa di Lebanon selatan.
Serangan terbaru itu terjadi setelah serangan lain pada Sabtu, nan dilakukan tidak lama setelah Israel dan Lebanon mencapai kesepakatan gencatan senjata terbaru pada Jumat. Iran menyatakan bahwa pertempuran di Lebanon kudu dihentikan andaikan kesepakatan nan lebih luas mau tetap bertahan.
Sebelumnya, militer AS juga menyatakan telah kembali menyerang Iran hanya beberapa jam setelah sebuah kapal tanker diserang di Selat Hormuz, jalur pelayaran daya terpenting di bumi nan selama sebagian besar bentrok ini praktis ditutup oleh Teheran.
Sebelum muncul laporan mengenai penghentian permusuhan, Trump kembali mengeluarkan peringatan keras melalui media sosial.
"Mungkin bakal tiba saatnya ketika kami tidak lagi dapat bersikap masuk akal, dan kami bakal dipaksa untuk menyelesaikan secara militer pekerjaan nan telah kami mulai dengan sangat berhasil," tulis Trump. "Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak bakal ada lagi!"
Perjanjian tenteram sementara nan terdiri dari 14 poin tersebut sebelumnya dirancang untuk menghentikan pertempuran nan dimulai oleh AS dan Israel pada 28 Februari, sekaligus membuka kembali Selat Hormuz selama proses perundingan mengenai beragam isu, termasuk program nuklir Iran, terus berlangsung.
(luc/luc)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·