Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Malaysia memanas. Hal ini terjadi usai sejumlah personil Kongres Paman Sam mendesak Menteri Luar Negeri (Menlu) Marco Rubio untuk meninjau ulang hubungan keamanan dan ekonomi dengan Kuala Lumpur.
Desakan itu muncul menyusul pernyataan Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim nan berjanji bakal mendeportasi penduduk negara Israel jika ditemukan berada di wilayah Malaysia. Dalam surat resmi nan ditujukan kepada Rubio, para personil Kongres menyebut kebijakan Anwar terhadap penduduk Israel sebagai tindakan diskriminatif nan tidak sejalan dengan hubungan erat antara AS dan Israel.
"Kami mendesak Anda meninjau kembali hubungan keamanan dan ekonomi dengan Malaysia untuk memastikan hubungan tersebut tetap melayani kepentingan terbaik Amerika Serikat," demikian bunyi surat tersebut, nan salinannya dilihat CNBC Indonesia, Rabu (22/7/2026).
Para legislator juga meminta Departemen Luar Negeri AS menggunakan seluruh instrumen diplomatik nan dimiliki. Ini agar pemerintah Malaysia memahami bahwa kebijakan tersebut bakal membawa konsekuensi.
Mereka apalagi mengusulkan agar pendanaan program International Military Education and Training (IMET) untuk Malaysia ditangguhkan andaikan pemerintah Anwar tidak membatalkan kebijakan tersebut dalam waktu 15 hari. IMET merupakan program support militer AS nan membiayai training personel militer negara mitra di AS.
Dipicu Pernyataan Anwar
Surat itu muncul setelah Anwar Ibrahim menyatakan pemerintah Malaysia bakal melacak dan langsung mendeportasi setiap penduduk negara Israel nan ditemukan berada di Malaysia. Pernyataan tersebut berangkaian dengan penyelidikan pemerintah Malaysia terhadap proyek Network School, sebuah organisasi teknologi di area Forest City, Johor.
Otoritas Malaysia menyelidiki dugaan adanya penduduk negara Israel nan masuk menggunakan paspor dari negara ketiga. Malaysia hingga sekarang memang tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel dan secara umum tidak mengizinkan pemegang paspor Israel memasuki wilayahnya tanpa izin khusus.
"Jika kami menemukan penduduk Israel, mereka bakal segera dideportasi lantaran kami tidak mengakui Israel," kata Anwar saat menanggapi dugaan keberadaan penduduk Israel di sebuah organisasi teknologi di Johor.
Soroti Hubungan Malaysia-Hamas
Dalam surat itu, para personil Kongres AS juga menyoroti hubungan Malaysia dengan Hamas. Mereka menuding Malaysia tetap menjalin hubungan terbuka dengan Hamas dan mengutip beragam laporan nan menyebut golongan tersebut pernah melakukan aktivitas training di wilayah Malaysia.
"Mereka menyambut teroris, sementara pada saat nan sama menargetkan penduduk Yahudi," tulis para legislator dalam surat tersebut.
Selain meminta pertimbangan hubungan bilateral, mereka meminta Departemen Luar Negeri AS menjelaskan langkah konkret nan bakal diambil sebagai respons atas pernyataan Anwar. Menurut mereka, support keamanan, akses teknologi, hingga hubungan ekonomi nan diberikan AS kepada Malaysia semestinya disertai ekspektasi bahwa Kuala Lumpur tidak mengambil kebijakan nan dianggap menyasar penduduk negara dari salah satu sekutu terdekat Washington.
Hingga saat ini belum ada tanggapan resmi dari Departemen Luar Negeri AS maupun pemerintah Malaysia mengenai surat tersebut.
(sef/sef)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·