AS Tingkatkan Aset Intelijen di Kuba, Sinyal Tekanan terhadap Rezim Komunis

1 jam yang lalu 2
AS Tingkatkan Aset Intelijen di Kuba, Sinyal Tekanan terhadap Rezim Komunis Warga Kuba.(Al Jazeera)

AMERIKA Serikat dilaporkan telah meningkatkan aset intelijennya di Kuba dalam beberapa bulan terakhir. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya pemerintahan Donald Trump untuk mendorong rezim komunis di negara pulau tersebut agar melakukan reformasi alias turun dari kekuasaan.

Menurut dua sumber nan mengetahui rencana tersebut, peningkatan aktivitas intelijen ini dapat menjadi pertanda beragam tindakan di masa depan, mulai dari operasi militer AS hingga upaya intensif untuk memengaruhi pejabat Kuba alias penduduk sipil agar berbalik melawan rezim.

Peningkatan Kehadiran CIA

Salah satu sumber menyebut bahwa AS baru-baru ini mengirim mata-mata dan aset ke Kuba. Meskipun demikian, rincian mengenai cakupan pengumpulan intelijen alias lembaga spesifik nan terlibat tidak diungkapkan untuk menjaga keamanan operasi. Sebagai catatan, organisasi intelijen AS terdiri dari 18 instansi dan lembaga.

Sumber kedua mendeskripsikan langkah tersebut sebagai peningkatan kehadiran CIA di Kuba. Aktivitas intelijen AS di pulau tersebut sebenarnya telah berjalan selama puluhan tahun, tetapi sempat tersendat dalam beberapa tahun terakhir akibat pengurangan personel nan dipicu oleh kejadian Havana Syndrome.

Peningkatan kehadiran intelijen itu disebut sebagai langkah taktis kunci nan dapat membuka jalan bagi kemungkinan inkuisi militer AS, meskipun garis besar operasi semacam itu tetap belum jelas. Kuba sendiri terletak hanya 90 mil dari pesisir Amerika Serikat.

Prioritas Strategis dan Tekanan Diplomatik

Pemerintahan Trump saat ini tengah menghadapi bentrok dengan Iran nan berjalan selama enam bulan. Namun, sumber internal menegaskan bahwa masalah Iran tidak kudu diselesaikan sebelum AS mengambil tindakan di Kuba. Isu Kuba dilaporkan menjadi prioritas utama bagi Menteri Luar Negeri Marco Rubio, nan mempunyai garis keturunan Kuba.

Selain intelijen, AS meningkatkan tekanan ekonomi melalui blokade daya nan menyebabkan sebagian besar wilayah Kuba mengalami pemadaman listrik. Di sisi lain, upaya norma juga dilakukan dengan dakwaan Departemen Kehakiman terhadap mantan Presiden Kuba, Raul Castro, mengenai kejadian kematian empat orang pada tahun 1996.

Konteks Regional: Keberhasilan AS menangkap pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, pada Januari lampau disebut-sebut berkah peran krusial pencarian intelijen CIA. Pola serupa sekarang diduga tengah diterapkan terhadap rezim di Havana.

Pesan Publik dan Diplomasi nan Buntu

Departemen Luar Negeri AS baru-baru ini merilis arsip berjudul Cuba: The Capital of 21st Century Communism yang menuduh rezim Kuba melakukan beragam malpraktik selama puluhan tahun. Langkah ini merupakan bagian dari dorongan lebih luas pemerintahan Trump melawan ideologi komunis dan sosialis.

Meskipun Presiden Trump disebut tetap lebih menyukai diplomasi untuk mencapai tujuan reformasi, kebuntuan dalam negosiasi ekonomi membikin opsi tindakan militer semakin dipertimbangkan. Marco Rubio dikabarkan mulai kehilangan kesabaran terhadap rezim Kuba nan terus resisten terhadap tuntutan perubahan besar dari Washington.

Hingga saat ini, CIA menolak memberikan komentar mengenai laporan peningkatan aset tersebut. Juru bicara Gedung Putih, Badan Intelijen Pertahanan (DIA), dan Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI) juga belum memberikan tanggapan resmi. (Politico/I-2)

Selengkapnya