Astronaut Kini Bisa Gunakan X-Ray di Luar Angkasa

3 hari yang lalu 10
Astronaut Kini Bisa Gunakan X-Ray di Luar Angkasa Ilustrasi luar angkasa(Magnific)

UNTUK pertama kalinya, mesin sinar-X (X-ray) portabel sukses digunakan di luar angkasa. Keberhasilan tersebut menjadi langkah krusial dalam pengembangan jasa kesehatan bagi astronaut, terutama saat manusia mulai menjalankan misi jangka panjang ke Bulan hingga Mars.

Selama ini, astronaut umumnya hanya mengandalkan perangkat ultrasonografi (USG) untuk memeriksa kondisi tubuh ketika mengalami cedera di luar angkasa. Berbeda dengan USG nan memerlukan medium agar gelombang bunyi dapat merambat, sinar-X dapat digunakan tanpa memerlukan medium sehingga tetap bisa berfaedah di lingkungan sunyi udara.

Meski demikian, mesin sinar-X konvensional mempunyai sejumlah hambatan untuk dibawa ke antariksa. Perangkat tersebut umumnya berukuran besar, memerlukan daya listrik tinggi, menghasilkan gambar nan kurang optimal andaikan objek bergerak, serta rentan mengalami kerusakan akibat guncangan selama proses peluncuran maupun pendaratan.

Padahal, meningkatnya rencana eksplorasi manusia ke Bulan, termasuk pembangunan pangkalan permanen, membikin akibat cedera pada astronaut ikut meningkat. Kondisi itu mendorong perlunya perangkat diagnostik nan lebih ringkas, ringan, dan tetap bisa bekerja di lingkungan luar angkasa.

Saat ini, perkembangan teknologi telah memungkinkan hadirnya mesin sinar-X portabel nan jauh lebih mini dibandingkan perangkat konvensional. Di Bumi, perangkat tersebut apalagi telah dimanfaatkan dalam beragam situasi, mulai dari arena olahraga hingga wilayah dengan akomodasi kesehatan nan terbatas.

Dokter sekaligus Asisten Profesor Kedokteran Dirgantara di Mayo Clinic, Sheyna Gifford mengatakan mesin sinar-X portabel telah digunakan secara luas lantaran praktis dan mudah dioperasikan. Dilansir dari Space, Sabtu (18/7)

"Mesin sinar-X portabel digunakan di beragam tempat, mulai dari Kentucky Derby, di pinggir lapangan Super Bowl, hingga di beragam wilayah dengan sumber daya kesehatan nan terbatas di seluruh dunia. Alat ini dapat beraksi menggunakan tenaga surya dan bisa dijalankan oleh orang nan tidak mempunyai skill medis," kata Gifford.

Gifford berbareng timnya melakukan serangkaian pengujian. Percobaan awal dilakukan pada 2022 melalui penerbangan parabola nan bisa menciptakan kondisi gravitasi mikro seperti di antariksa.

Dalam simulasi tersebut, awak penerbangan sukses menggunakan mesin sinar-X portabel untuk mengambil gambar tangan seseorang sebagai pembuktian awal bahwa perangkat itu dapat beraksi dalam kondisi tanpa gravitasi.

Uji coba sebenarnya dilakukan pada 31 Maret 2025 melalui misi privat Fram2 nan membawa empat astronaut pemula mengorbit Bumi selama 3,5 hari menggunakan wahana SpaceX Crew Dragon.

Empat astronaut hanya menerima training selama empat jam mengenai langkah mengoperasikan mesin sinar-X tersebut. Selama berada di orbit, mereka diminta mengambil gambar sinar-X sebuah arloji pintar, tangan, perut, panggul, hingga dada.

Seluruh hasil pemindaian direkam dalam format digital sehingga dapat langsung diperiksa tanpa perlu mencetak alias mencuci movie seperti pada sistem sinar-X konvensional.

Setelah misi berakhir, tiga master medis secara independen membandingkan hasil sinar-X nan diambil di luar angkasa dengan gambar nan dibuat di Bumi sebelum peluncuran.

Hasilnya menunjukkan kualitas gambar nan dihasilkan di Bumi memang tetap lebih baik. Namun, gambar nan diperoleh di orbit dinilai sudah cukup jelas untuk membantu master mendiagnosis beragam cedera, termasuk patah tulang.

"Kami meyakini bahwa sistem portabel nan sudah tersedia secara komersial mempunyai kesempatan besar untuk memperkuat selama pengetesan sebelum peluncuran dan tetap dapat digunakan di luar angkasa oleh awak nan hanya mempunyai training minimal," ujar Gifford. (H-4)

Selengkapnya