Bahlil Mulai Uji Coba Kendaraan dengan BBM Ganda: Solar dan Hidrogen

17 jam yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendorong penggunaan daya dobel melalui kombinasi Bahan Bakar Minyak (BBM) Solar dan hidrogen untuk sektor transportasi nasional.

Hal itu dinilai bisa mempercepat transisi daya fosil ke daya bersih sekaligus menekan ketergantungan impor minyak mentah.

Bahlil menegaskan bahwa pemanfaatan hidrogen sebagai pendamping bahan bakar nabati seperti B50 krusial untuk menjaga kedaulatan daya Indonesia.

"Inilah sebagai corak komitmen pemerintah dalam rangka mendorong tentang kemajuan dalam rangka penerapan hidrogen di Republik Indonesia. Bapak Ibu semua pengembangan hidrogen sejalan dengan asta cita Bapak Presiden Prabowo. Karena hidrogen merupakan salah satu daya alternatif," katanya dalam aktivitas Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition (GHES) 2026 di Jakarta, Selasa (21/7/2026).

Indonesia saat ini tetap ketergantungan impor minyak rata-rata 1 juta barel per hari (bph) untuk memenuhi kebutuhan nasional. Kebutuhan minyak nasional sekitar 1,6 juta bph, sementara produksi dalam negeri tetap di kisaran 600.000 bph.

Adapun, impor minyak bakal berkurang dengan penerapan pencampuran biodiesel sebesar 50% (B50). Dengan B50, impor minyak diperkirakan berkurang 250.000-300.000 bph.

"Jadi sekarang kita impor crude total itu tetap ada kurang lebih sekitar 700 sampai 750.000 barel per day dari selisih 1 juta (barel per hari) itu," ucapnya.

"Tapi kita kan sudah bermufakat bahwa bumi bumi ini kudu kita wariskan juga untuk anak cucu kita nan lebih baik, maka kita di Indonesia atas pengarahan Bapak Presiden tetap tidak bergeser dari apa nan menjadi keputusan bahwa kita bakal net zero emission pada 2050 2060. Nah lantaran itu breakdown-nya kudu kita siapkan sekarang," tuturnya.

Bahlil pun menegaskan pemerintah mendorong hidrogen lantaran sumber energinya bisa berasal dari dalam negeri.

"Bapak Ibu semua hari ini kita bakal mendorong hidrogen. Hidrogen ini menurut saya salah satu pengganti lantaran ada tiga kegunaan utama. nan pertama adalah sebuah tuntutan dunia. nan kedua ini bagian daripada hilirisasi. Karena hidrogen ini menghasilkan dari air, dari gas, dari batu bara low kalori. Jadi kita bisa merubah fosil kita nan dari batu bara low kalori itu bisa menjadi hidrogen dengan teknologi. Air kita punya," paparnya.

Namun demikian, dia mengakui bahwa tantangan dalam pengembangan hidrogen saat ini ialah nilai jual hidorgen tetap lebih mahal, termasuk jika dibandingkan dengan nilai BBM Solar alias diesel non subsidi.

"Problemnya adalah... nah ini tantangannya. Problemnya adalah hidrogen ini memang biayanya tetap mahal dibandingkan dengan produk daya lain. Tadi saya obrolan dengan Wakil Kepala BRIN dengan Ibu Eniya. Berapa biaya selisih antara B50 non-PSO, (nonsubsidi), non-PSO itu biaya industri itu kan kurang lebih sekitar Rp 18.600. Kalau pakai bensin diesel itu bisa mencapai 1 liter itu 3,5 sampai 4 kilo. Kalau diumpamain dengan hidrogen ini berapa energinya rupanya tetap di atas daripada nilai B50. Hidrogen tetap agak lebih mahal," paparnya.

"Nah Bapak Ibu semua ini adalah sebuah tantangan untuk kita semua dalam rangka gimana mendapatkan teknologi nan lebih efisien agar kompetitif," imbuhnya.

Meskipun saat ini biaya produksi hidrogen tetap tergolong mahal, Bahlil meyakini teknologi ini bakal menjadi lebih kompetitif dalam 5 hingga 10 tahun ke depan. Ia juga berencana mendorong pemanfaatan bus berkekuatan hidrogen untuk transportasi umum di wilayah DKI Jakarta sebagai proyek percontohan.

"Nah tadi apa nan disampaikan oleh Pak Darmo (Direktur Utama PLN) tentang bus saya coba komunikasikan dengan dengan Pak Gubernur DKI untuk memanfaatkan ini. Silakan melakukan nan terbaik apa nan bisa kita bantu dari sisi izin saya bakal bantu," tandasnya.

Uji Coba Bus Hidrogen

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan, pemakaian dual fuel pada kendaraan ini bisa menghemat pemakaian Bahan Bakar Minyak (BBM).

"Kami mohonkan pengarahan dari Pak Menteri untuk bisa me-launching sistem bahan bakar dua fuel, istilahnya dual fuel, dual diesel fuel. Jadi pemakaian bahan bakar di satu tempat (bukan satu jenis bahan bakar), tetapi ada dua bahan bakar ialah biosolar dan adanya gas hidrogen," tutur Eniya dalam kesempatan nan sama.

"Dan ini bisa mengurangi alias menghemat bahan bakar itu sendiri. Jadi dengan adanya gas nan masuk ke dalam engine, maka bahan bakar bisa dikurangi. Dan ini nantinya bukan hanya di bis, tetapi mobil penumpang dan juga drone alias perangkat angkat ialah forklift juga adanya kompor gas hidrogen," tuturnya.

"Jadi ini pemanfaatan hidrogen diarahkan oleh Pak Menteri pada tahun lalu, kami mengakselerasi kerja sama dengan para industri dan beragam stakeholder akademisi untuk melahirkan hydrogen transportation corridor. Jadi kerja sama ini juga didukung oleh BRIN dan kerja sama dengan internasional dengan beragam negara untuk menghadirkan hydrogen road test nantinya," tuturnya.

Eniya pun menyebut, pihaknya telah mempunyai 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen dan proyek-proyeknya pun sudah tersebar di seluruh Indonesia.

"Jadi projek-projek ini melahirkan Rp 32 triliun investasi nan bakal kita kawal," imbuhnya.

Perlu diketahui, pilot project untuk Bus Hidrogen Diesel Dual Fuel alias Bus H2 DDF merupakan hasil modifikasi armada bus bermesin diesel milik Perum DAMRI menjadi kendaraan nan menggunakan kombinasi bahan bakar Solar dan hidrogen.

Program tersebut menjadi langkah awal menuju penerapan transportasi hidrogen nan lebih rendah karbon dan berkelanjutan.

Berdasarkan catatan Kementerian ESDM, program uji coba tersebut dikembangkan melalui kerja sama Kementerian ESDM, PT PLN (Persero), Perum DAMRI, PT Sucofindo (Persero), dan PT Tritunggal Prakarsa Global.

Pengembangan Bus H2 DDF diarahkan untuk mengurangi penggunaan BBM solar, menggantikan sebagian penggunaan solar dengan bahan bakar nan lebih ramah lingkungan, menurunkan emisi gas buang, membangun ekosistem transportasi hidrogen rendah karbon, dan mempersiapkan pengembangan kendaraan menuju tahap komersial.

Berdasarkan pengetesan oleh PT Sucofindo (Persero), pilot bus menghasilkan penurunan penggunaan BBM solar nan dilaporkan sebesar 47,45%, penurunan emisi opasitas sebesar 57,66%, penurunan emisi karbon monoksida alias CO sebesar 45,45%, penurunan emisi karbon dioksida alias CO₂ sebesar 39,37%, dan penurunan emisi nitrogen oksida alias NOx sebesar 21,16%.

(wia)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya