Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) buka bunyi soal potensi Indonesia menjadi tuan rumah World Expo, di mana Indonesia sudah ikut berperan-serta sejak 1971.
Deputi Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital Kementerian PPN/Bappenas Vivi Yulaswati mengatakan Indonesia berpotensi menjadi tuan rumah World Expo. Namun, tetap cukup jauh jika Indonesia menawarkan diri sebagai tuan rumah.
Hal ini lantaran penentuan tuan rumah pameran ini ditentukan berasas kompetisi. Semakin menarik produk nan ditawarkan, termasuk dalam penentuan Paviliun, maka semakin terbuka lebar menjadi tuan rumah.
"Menjadi tuan rumah World Expo itu butuh tempat nan besar, dan juga biayanya nan besar. Butuh effort nan sangat besar, lantaran kompetisinya cukup ketat, untuk menentukan siapa nan menjadi tuan rumahnya," kata Vivi saat ditemui CNBC Indonesia setelah peluncuran Buku Paviliun Indonesia di World Expo 2025 Osaka, Rabu (29/7/2026).
Pada 2030, Arab Saudi tepatnya di Riyadh bakal menjadi tuan rumah World Expo berikutnya. Vivi menjelaskan, Arab Saudi memerlukan perjuangan nan sangat besar, sehingga bisa mengalahkan kandidat negara lain dalam penentuan tuan rumah.
"Jadi untuk 2030, itu kompetisinya antara Italia, Korea Selatan, sama Arab Saudi. Kebetulan Saudi itu 2030 itu sama kayak Indonesia Emas 2045. Arab Saudi kayaknya effortnya banyak sekali, jadi akhirnya kemarin mereka menang kejuaraan untuk jadi tuan rumah," terang Vivi.
Meski begitu, pihaknya berambisi Indonesia dapat menjadi tuan rumah World Expo di masa depan. Ia berambisi 20 tahun kedepan Indonesia bisa menjadi tuan rumah World Expo.
"Insyaallah, mudah-mudahan dalam kurun waktu 20 tahun ke depan Indonesia berkesempatan menjadi tuan rumah World Expo," ujarnya.
Sebelumnya pada World Expo 2025 di Osaka Jepang, Paviliun Indonesia sukses menyelenggarakan lebih dari 104 aktivitas business forum dan one-on-one meeting dengan komitmen investasi senilai lebih dari US$28,3 miliar dolar AS.
Capaian tersebut berasal dari beberapa kesepakatan, seperti 20 Nota Kesepahaman (MoU), 9 Letter of Intent, 2 Joint Venture Agreement, 1 Joint Statement, dan 11 kesepakatan jual beli paket wisata.
Menjelang penutupan, Paviliun Indonesia telah mencatat lebih dari 3,5 juta pengunjung, melampaui sasaran awal sebanyak 2,8 juta pengunjung.
Capaian ini juga didukung oleh dedikasi para liaison officer nan bekerja selama enam bulan penuh sebagai garda terdepan Paviliun Indonesia, dan memberikan pengalaman keramahan Indonesia secara langsung ke pengunjung.
(haa/haa)
Addsource on Google

15 jam yang lalu
5







English (US) ·
Indonesian (ID) ·