Ilustrasi(Dok Istimewa)
BADAN Amil Zakat Nasional (Baznas) RI memperkuat kerjasama nasional dalam membangun ekosistem fundraiser amal nan ahli melalui penyelenggaraan Baznas Fundraising Forum (BFF).
Forum nan digelar di Bandung, Jawa Barat, tersebut menjadi wadah menyatukan visi Baznas dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) untuk meningkatkan kapabilitas amil, memperkuat tata kelola penghimpunan zakat, infak, dan infak (ZIS), serta mendorong pengelolaan amal nan transparan, adaptif, dan berorientasi pada penguatan kepercayaan publik. Kegiatan tersebut juga diselenggarakan secara daring melalui siaran langsung YouTube Baznas TV.
Pimpinan Baznas RI Bidang Mobilisasi dan Pengumpulan, Rizaludin Kurniawan, menyampaikan, dalam pengelolaan ZIS para amil perlu meninggalkan pendekatan penghimpunan nan mengandalkan belas iba dan beranjak pada strategi nan berbasis keilmuan, kemudahan, serta transparansi.
Menurutnya, praktik penghimpunan nan mengeksploitasi kesusahan tidak sejalan dengan misi dakwah zakat. Sebaliknya, lembaga amal kudu membangun pendekatan nan ahli agar masyarakat terdorong menunaikan amal lantaran memahami manfaatnya dan merasakan kebahagiaan dalam berbagi.
“Zakat itu kudu dibuat jelas, menarik, dan mudah. Alur ini tidak boleh dibalik. Kita tidak bisa sekadar memaksa alias memelas terlebih dulu dengan mengatasnamakan zakat, infak, dan sedekah,” ujar Rizaludin.
Ia menegaskan, fundraising merupakan pekerjaan nan mempunyai landasan keilmuan, etika, kompetensi, serta standar praktik nan jelas. Karena itu, strategi penghimpunan biaya ZIS kudu disusun berasas pendekatan nan terukur, bukan sekadar mengandalkan empati sesaat.
“Kita kudu menggunakan ilmu, jangan sekadar mengira-ngira alias mengandalkan belas iba dengan langkah menjual ‘air mata’ alias kesusahan orang lain,” jelasnya.
Lebih lanjut, Rizaludin menjelaskan, terdapat dua pendekatan utama dalam penghimpunan amal di Indonesia, ialah pendekatan izin (by law) nan didukung kebijakan pemerintah serta pendekatan pemasaran (by marketing) melalui kampanye imajinatif dan pelayanan kepada muzaki.
“Di Baznas RI pusat, kita mencoba mengombinasikan kedua perihal tersebut agar para pembayar amal mendapatkan pelayanan, pengalaman, dan perubahan spiritual nan transformatif di dalam dirinya,” jelasnya.
Rizaludin menambahkan, sebagai lembaga filantropi, membangun kepercayaan publik dan memperkuat profesionalisme amil merupakan fondasi utama dalam pengelolaan zakat.
“Melalui Baznas Fundraising Forum, kami mau menyatukan visi lembaga amal agar tidak hanya menampilkan kisah sukses mustahik nan beralih bentuk menjadi muzaki, tetapi juga mengedukasi masyarakat mengenai akibat amal terhadap peningkatan kualitas hidup para muzaki sehingga bisa menghadirkan ketenangan (sakinah), penyucian jiwa (tazkiyah), dan ketakwaan,” ujarnya.
Sementara itu, Pimpinan Baznas RI Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan, Idy Muzayyad, memaparkan sejumlah strategi untuk memperkuat pengelolaan ZIS, antara lain melalui peningkatan literasi zakat, penguatan kepercayaan masyarakat, optimasi pemetaan potensi zakat, serta digitalisasi penghimpunan.
Selain itu, menurutnya, diperlukan ekspansi kerjasama dengan pemerintah, ulama, dan beragam lembaga, peningkatan jumlah serta kapabilitas amil profesional, sosialisasi akibat program zakat, hingga penguatan sinergi antarlembaga filantropi.
“Selain itu, diperlukan juga ekspansi kerjasama dengan pemerintah, ulama, dan beragam lembaga, peningkatan jumlah dan kapabilitas amil profesional, sosialisasi akibat program zakat, serta kerjasama antarlembaga filantropi,” ujar Idy.
Pada kesempatan nan sama, Pembina Yayasan Daarut Tauhid Peduli, KH. Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym, memaparkan konsep dakwah amal nan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Menurutnya, keberhasilan lembaga pengelola amal dalam membangun kepercayaan publik berjuntai pada empat aspek utama, ialah jasa nan jelas, menarik, mudah diakses, dan bisa memberikan kepuasan kepada muzaki.
“Kita kudu membikin muzaki nan berzakat itu memahami bahwa zakatnya betul-betul sampai kepada nan berhak. Sesuatu nan jelas, menarik, mudah prosedurnya, dan memuaskan bakal mendatangkan komitmen, menjadi kebiasaan nan baik, serta bisa menular kepada nan lain,” ujar Aa Gym. (H-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·