Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina Patra Niaga menargetkan penyaluran bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dengan campuran biodiesel berbasis minyak sawit sebesar 50% (B50) dapat terealisasi di seluruh SPBU pada September 2026. Saat ini sebanyak 82% SPBU Pertamina telah menyalurkan B50 sejak implementasinya dimulai pada 1 Juli 2026.
Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Taufik Aditiyawarman mengatakan bahwa pemerintah memberikan masa transisi selama tiga bulan, khususnya untuk menghabiskan stok B40 sebelum seluruh jaringan SPBU beranjak sepenuhnya ke B50.
"Jadi mungkin sampai September, September kita bakal 100% untuk B50 available in this country. Itu mungkin nan challenge nanti," kata Taufik dalam aktivitas Coffee morning CNBC Indonesia, dikutip Jumat (24/7/2026).
Menurut dia, penerapan B50 menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku daya sekaligus memperkuat ketahanan daya nasional.
Meski demikian, Pertamina mengakui tetap terdapat sejumlah tantangan dalam penerapan B50, terutama mengenai kesiapan bahan baku Fatty Acid Methyl Ester (FAME) nan berasal dari minyak sawit mentah (CPO).
"Nah mungkin di situ lantaran tadi saya kira government wise-lah mengenai which one we comberan to sell as a CPO, which one we comberan to sell as FAME. So that's dilemmatic economic and also devisa Pak mungkin Pak Edi mungkin kelak mengenai pilihan apakah devisa nan kita perlukan apakah daya resiliency nan kita utamakan. Mungkin itu nan kudu kita optimasi," katanya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dicampur bahan bakar nabati (BBN) berbasis minyak kelapa sawit 50% alias biodiesel 50% (B50) pada hari ini, Kamis (9/7/2026).
Peresmian mandatori B50 ini merupakan agenda strategis pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM khususnya jenis solar dan memperkuat nilai tambah sumber daya alam nasional, serta menjaga ketahanan ekonomi dan kedaulatan daya Indonesia.
Peresmian B50 ini diantaranya dihadiri oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi & Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto dan juga Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri, serta Menteri kabinet lainnya.
Prabowo dalam sambutannya menyampaikan, bahwa dengan diluncurkannya program B50, Indonesia resmi menjadi negara pertama di Dunia nan menerapkan mandatori biodiesel B50.
"Indonesia resmi menjadi negara pertama di Dunia nan menerapkan mandatori biodiesel B50. Ini bukan sekedar pencapaian teknologi, ini bukti Indonesia bisa memanfaatkan kekayaan alam sendiri untuk kepentingan rakyat sendiri," terang Prabowo dalam sambutannya di Karawang, Kamis (9/7/2026).
"Ini adalah tonggak krusial dalam perjalanan kemandirian energi," tambah Prabowo.
Bagi Prabowo, kemandirian dan kelangsungan hidup suatu bangsa antara lain ditentukan oleh 3 hal. Diantaranya: pertama mampukah bangsa itu menghasilkan pangan untuk rakyat, kedua mampukah bangsa itu mempunyai sumber daya sendiri tidak tergantung bangsa lain. Ketiga mampukah negara itu juga mempunyai sumber air.
"Hari ini saya bangga datang di sini, hari ini saya tunggu-tunggu, dari sejak saya belum dilantik Presiden, ada tim inti saya tim penasehat saya selalu saya tekankan, kudu swasembada pangan, kudu swasembada energi, tidak boleh impor BBM, tidak boleh impor pangan. Dari sejak sebelum saya jadi presiden, sejak saya ketum HKTI. sejak saya menteri pertahanan. konsentrasi saya bakal kelola ini," tegas Prabowo.
"Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirahim pada siang ini hari Senin 9 Juli 2026 dengan rahmat tuhan nan maha besar, saya Prabowo Subianto Presiden Indonesia dengan ini saya luncurkan biodiesel B50," tutup Prabowo dalam peresmiannya.
(pgr/pgr)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
4







English (US) ·
Indonesian (ID) ·