Bisakah Ibu  Menyusui Ketika Hamil? Begini Penjelasan Ketua Satgas ASI IDAI

1 jam yang lalu 3
Bisakah Ibu  Menyusui Ketika Hamil? Begini Penjelasan Ketua Satgas ASI IDAI Dr. Naomi Esthernita dan Dr. Ari Kusuma Januarto berbareng sejumlah panitia dalam aktivitas Pekan ASI Sedunia 2026 di RSUI Depok, Sabtu (8/8/2026).(MI/Chatrine Simanjuntak)

BANYAK dugaan dan mitos soal air susu ibu (ASI) nan perlu diluruskan. Misalnya, ketika ibu kembali hamil dan tetap menyusui anak pertamanya, ASI disebut tidak lagi bernutrisi. Di sisi lain, kejadian donor ASI.

Mitos nan menjelaskan jika ibu nan kembali mengandung kudu berakhir menyusui anak pertamanya tidak sepenuhnya benar. Ketua Satgas ASI IDAI, Dr. dr. Naomi Esthernita F.D., Sp.A, Subsp.Neo.(K), mengatakan ibu tetap dapat menyusui anak pertama meski sedang mengandung anak berikutnya. 

Menurut Naomi, menyusui saat hamil alias tandem nursing dapat dilakukan selama kondisi ibu memungkinkan. Kandungan ASI juga tidak otomatis menjadi tidak bernutrisi hanya lantaran ibu kembali hamil.

“Gizinya ya sama aja, artinya semua kan proses pembentukan ASI itu sama, tapi memang nan kudu diprioritaskan adalah untuk nan di dalam,” ujar Naomi.

Ia menambahkan, ibu nan sedang mengandung dan tetap menyusui anak pertama tetap perlu memperhatikan kondisi kehamilannya.

“Boleh, jika kuat,” ujar Naomi.

Naomi menjelaskan jika Ibu menyusui sekaligus hamil, kebutuhan bayi nan tetap berada dalam kandungan tetap menjadi prioritas. Karena itu, keputusan untuk melanjutkan menyusui perlu mempertimbangkan kondisi ibu dan anak. 

Donor ASI

Selain dugaan mengenai mitos tersebut, tren mengenai donor ASI menimbulkan pertanyaan apakah donor ASI boleh dilakukan dan apakah boleh diperjualbelikan?

Naomi menjelaskan donor ASI juga tidak dapat dilakukan secara bebas, termasuk melalui internet. Sebab, donor ASI kudu dilakukan melalui sistem berbasis rumah sakit alias hospital-based.

Menurutnya, donor ASI  harus berasal dari pendonor nan telah melalui proses skrining. Pemeriksaan tersebut mencakup sejumlah penyakit infeksi, sebelum ASI diberikan kepada bayi.

“Donor nih ya kudu diskrining, kudu dipasteurisasi pada saat dikasih,” ujar Naomi.

Ia menjelaskan, pendonor perlu menjalani pemeriksaan untuk memastikan terbebas dari sejumlah penyakit, termasuk hepatitis dan HIV. Setelah melalui skrining, ASI donor juga perlu dipasteurisasi untuk mengurangi akibat kontaminasi.

“Jadi harusnya hospital-based, bukan internet-based,” ujar Naomi.

Ia mengatakan Indonesia belum mempunyai Bank ASI secara resmi. Namun, beberapa rumah sakit telah mulai membentuk unit donor ASI, terutama untuk memenuhi kebutuhan pasien.

“Di beberapa rumah sakit sudah mulai, paling tidak untuk pasiennya sendiri,” katanya.

Naomi menegaskan donor ASI tidak semestinya dilakukan seperti menawarkan ASI secara bebas. Selain kudu melalui skrining, proses pemberiannya juga perlu mengikuti prosedur medis untuk menghindari akibat kontaminasi.

Berbagai dugaan keliru tentang ASI, kata dia, terkadang membuat ibu semakin cemas dan tertekan dalam menjalani proses menyusui. 

Karena itu, support untuk ibu tidak hanya menjadi tanggung jawabnya sendiri. Ayah, kakek, nenek, keluarga, tenaga kesehatan, hingga tempat kerja perlu membantu agar ibu tidak menghadapi tekanan seorang diri.  (H-4)

Selengkapnya