BMKG Ingatkan Bogor Rawan Bencana-Ada Tren Peningkatan Kejadian Gempa

1 jam yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya tren peningkatan aktivitas gempa bumi di wilayah Bogor dan sekitarnya. Karena itu, masyarakat dan semua pemangku kepentingan diimbau siap siaga dan meningkatkan literasi kebencanaan.

Di saat bersamaan, kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, pihaknya fokus terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi melalui penyelenggaraan Sekolah Lapang Gempa bumi (SLG). Terbaru, digelar SLG di SMKN 1 Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Rabu (29/7/2026).

SLG, ujar Faisal, merupakan bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap potensi gempa bumi. Serta, mendorong pemanfaatan info kebencanaan untuk mengurangi akibat bencana. Dan, sarana pembelajaran bagi masyarakat untuk mengenali potensi gempa bumi di wilayahnya, memahami langkah pengamanan diri nan benar, serta membangun budaya siaga musibah sejak dini.

Upaya ini diharapkan dapat mendukung pengurangan akibat musibah dan memperkuat ketangguhan masyarakat dalam menghadapi ancaman gempa bumi.

Apalagi, imbuh dia, Bogor dan sekitarnya merupakan wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi terjadinya bencana. Baik itu gempa maupun tanah longsor.

"Kabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan gempa bumi nan cukup tinggi lantaran berada di dekat sesar aktif daratan. Berdasarkan info BMKG sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 99 kejadian gempa bumi di wilayah Bogor dan sekitarnya, dengan 10 kejadian di antaranya dirasakan oleh masyarakat," kata Faisal dalam keterangan di situs resmi BMKG, dikutip Kamis (30/7/2026).

"Dalam rentang waktu 2009 hingga 2025, kami juga memandang adanya tren peningkatan aktivitas kegempaan di wilayah ini. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman gempa bumi merupakan kejadian nyata nan perlu menjadi perhatian kita bersama," tambahnya.

Dia pun membeberkan sejarah kejadian gempa nan pernah melanda wilayah Bogor. Di mana, kejadian gempa bumi merusak pernah terjadi di wilayah Bogor.

Salah satunya adalah gempa bumi tahun 1834 nan diperkirakan berkekuatan sekitar magnitudo 7,0 dan menyebabkan kerusakan luas, termasuk pada gedung Istana Bogor. Selain itu, gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,8 nan terjadi pada 9 September 2012 dengan pusat gempa di sekitar Cianten, selatan Leuwiliang. Kata dia, meski tergolong gempa dangkal dan berkekuatan relatif kecil, kejadian tersebut mengakibatkan sekitar 560 rumah mengalami kerusakan serta menyebabkan tiga penduduk mengalami luka ringan.

"Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan kudu terus kita bangun agar kita tidak mengulangi kejadian nan sama di masa depan," ucapnya.

Karena itulah, sambung dia, BMKG terus memperkuat sistem pemantauan di wilayah Bogor untuk mendukung upaya mitigasi bencana. Menurut Faisal, saat ini telah terpasang 29 peralatan utama geofisika untuk memantau aktivitas gempa bumi dan tingkat guncangan, nan didukung oleh 56 peralatan meteorologi dan klimatologi guna menyediakan info cuaca dan suasana sebagai bagian dari jasa kebencanaan secara terpadu.

Namun, tegas Faisal, teknologi saja tidak cukup untuk mengurangi akibat musibah tanpa didukung masyarakat nan memahami langkah menyelamatkan diri saat terjadi gempa bumi.

"Sekolah Lapang Gempabumi adalah upaya BMKG untuk memastikan pemerintah daerah, BPBD, dan masyarakat di wilayah rawan gempa semakin peduli serta siap merespons potensi ancaman maupun info peringatan awal resmi dari BMKG. Hal ini sejalan dengan inisiatif dunia 'Early Warning, Early Action' dan 'Early Warnings for All'," terangnya

"Kegiatan ini bukan hanya memberikan pemahaman mengenai gempa bumi, tapi juga membangun budaya siaga musibah di tengah masyarakat dan lingkungan sekolah. Saya membujuk seluruh peserta untuk mengikuti aktivitas ini dengan sungguh-sungguh, berbincang aktif, dan menjadikan pengetahuan nan diperoleh sebagai bekal untuk memperkuat ketahanan masyarakat di lingkungan masing-masing," kata Faisal.

Hingga tahun 2026, Stasiun Geofisika Kelas III BMKG Sukabumi telah menyelenggarakan empat kali Sekolah Lapang Gempa bumi, ialah di Cibinong dan Parung (Kabupaten Bogor) pada tahun 2025, Kota Bekasi pada Juni 2026, serta kembali di Leuwiliang (Kabupaten Bogor) pada Juli 2026.

"Hal ini menjadi bukti bahwa Kabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah nan terus menjadi prioritas BMKG dalam memperkuat kapabilitas pemerintah wilayah dan masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi," ujar Faisal.

Dalam kesempatan nan sama, Anggota Komisi V DPR RI Marlyn Maisarah mengapresiasi tingginya partisipasi masyarakat Kabupaten Bogor dalam aktivitas tersebut. Dia menegaskan, kesiapsiagaan musibah merupakan tanggung jawab berbareng nan memerlukan keterlibatan aktif seluruh komponen masyarakat.

"Wilayah Kabupaten Bogor ini termasuk rawan musibah alam, seperti gempa bumi dan longsor. Kita tidak bisa menutup mata dengan perihal itu. Potensi ini menuntut kesiapsiagaan nan tidak hanya berkarakter reaktif, tetapi juga kudu proaktif dan berkelanjutan," tegasnya.

Dia berharap, program Sekolah Lapang Gempa bumi tidak hanya dilaksanakan di lingkungan sekolah, tetapi juga dapat diperluas ke instansi pemerintahan, lembaga publik, dan organisasi masyarakat agar semakin banyak pihak nan memahami prosedur pengamanan diri saat terjadi gempa bumi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman gempabumi melalui penyelenggaraan Sekolah Lapang Gempabumi (SLG) di SMKN 1 Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Rabu (29/7/2026). (Dok. BMKG)Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman gempabumi melalui penyelenggaraan Sekolah Lapang Gempabumi (SLG) di SMKN 1 Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Rabu (29/7/2026). (Dok. BMKG) Foto: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman gempabumi melalui penyelenggaraan Sekolah Lapang Gempabumi (SLG) di SMKN 1 Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Rabu (29/7/2026). (Dok. BMKG)

(dce/dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya