Bos Kadin Anindya Bakrie: RI Surplus Dagang Rp103 Triliun dengan China

1 jam yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Anindya Novyan Bakrie membeberkan nilai perdagangan Indonesia dan China surplus hingga US$ 5,8 miliar (Rp103,89 triliun) hingga Juni 2026. Hal itu disampaikan Anin, sapaan berkawan Anindya Novyan Bakrie, dalam aktivitas Indonesia-China Partnership Forum di Grand Ballroom Kempinski Hotel, Jakarta, Kamis (23/7/2026).

Menurut dia, total nilai perdagangan antara Indonesia dan China hingga Juni 2026 mencapai US$ 100 miliar (Rp1.791,13 triliun) dalam enam bulan terakhir. Sementara surplus nan dihasilkan mencapai US$ 5,8 miliar.

"Jadi artinya memang kedua negara ini bisa saling bekerja sama. Apalagi kita punya transaksi paling besar perdagangan dengan China dan surplus pula pada tahun ini sekitar US$ 5,8 miliar," katanya kepada wartawan.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Aninya Bakrie di Grand Ballroom Kempinski Hotel, Jakarta, Kamis (23/7/2026). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)Foto: Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Anindya Novyan Bakrie di Grand Ballroom Kempinski Hotel, Jakarta, Kamis (23/7/2026). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)

Untuk itu, Anin mengatakan dalam pertemuan hari ini, dibicarakan mengenai rencana kerja sama peningkatan sumber daya antar kedua negara, kerja sama antarperusahaan dan pemerintah, hingga lembaga pendidikan.

"Dan ini bagi kami sangat krusial lantaran Indonesia itu mempunyai sumber daya manusia nan besar, lagi bingkisan demografi. Jadi mudah-mudahan bisa sama-sama dengan China mencapai Indonesia Emas," ujar Anin.

Dalam sambutannya, CEO Bakrie & Brothers juga bicara mengenai instrumen kebijakan Local Currency Transaction (LCT) antara Bank Indonesia dan Bank of China nan juga dinilai sukses. Tercatat peningkatan transaksi mencapai 300% dengan perdagangan langsung antara Rupiah dan Yuan, termasuk dengan dimulainya penggunaan sistem pembayaran QRIS di China.

"Jadi artinya ini luar biasa," tutur Anin.

Nilai investasi China dan Hongkong juga menjadi salah satu nan terbesar di Indonesia. Di sisi lain, potensi investasi Indonesia tetap sangat besar terutama di sektor teknologi masa depan dan daya hijau.

Lebih lanjut, Anin bilang jika Indonesia mempunyai persediaan mineral kritis nan besar, seperti nikel, tembaga, dan bauksit. Untuk itu, dia membujuk pelaku upaya di China untuk berinvestasi pada sektor ini.

"Nah, kita bisa tahu bahwa banyak sekali mineral kritis di bawah tanah Indonesia nan bisa dimaksimalkan berbareng teman-teman dari China, dengan mendidik, tadi saya lihat ada beberapa siswa Indonesia nan ke China dan juga sebaliknya," kata Anin.

Menurut dia, Indonesia tidak hanya mau berbisnis dengan China, tapi juga memerlukan nilai tambah lebih pada sektor teknologi. Anin juga menyampaikan kesempatan investasi di Indonesia juga terletak pada sektor daya bersih seperti pembangkit listrik tenaga air, geothermal, tenaga surya, angin.

"Di sini China bisa dan sudah untuk bekerja-sama dengan Indonesia," tuturnya.

(miq/miq)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya