Bos Pengembang Tiba-Tiba Minta Harga Rumah Subsidi Naik, Ini Alasannya

1 jam yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan nilai bahan gedung kembali menjadi tekanan bagi developer rumah subsidi. Kalangan developer mengungkapkan menilai biaya pembangunan sudah meningkat cukup tajam.

"Wah, kenaikan nilai bahan baku udah 15%," kata Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Deddy Indrasetiawan kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (23/7/2026).

Kenaikan nilai bahan baku itu membikin biaya nan perlu ditanggung pengusaha menjadi lebih besar. Deddy pun mengusulkan agar nilai jual rumah subsidi perlu segera disesuaikan dan telah disampaikan kepada pemerintah. Penyesuaian nilai dibutuhkan agar proyek rumah subsidi tetap layak secara upaya di tengah lonjakan biaya produksi.

"Harapan kami APERSI hitungnya harusnya naiknya 12 sampai 15%," kata Deddy.

Suasana proyek pembangunan perumahan di Depok, Jawa Barat, Rabu (17/2/2021). Harga kediaman rumah tetap menunjukkan kenaikan pada kuartal IV-2020 namun laju kenaikan melambat. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)Suasana proyek pembangunan perumahan di Depok, Jawa Barat, Rabu (17/2/2021). Harga kediaman rumah tetap menunjukkan kenaikan pada kuartal IV-2020 namun laju kenaikan melambat. (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Suasana proyek pembangunan perumahan di Depok, Jawa Barat, Rabu (17/2/2021). Harga kediaman rumah kediaman tetap menunjukkan kenaikan pada kuartal IV-2020 namun laju kenaikan melambat. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Usulan tersebut muncul setelah developer menghitung kenaikan biaya bangunan nan terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Tekanan biaya tidak hanya berasal dari satu jenis material, tetapi juga dipengaruhi persoalan pengedaran dan pasokan di sejumlah daerah.

Berbagai material mengalami lonjakan nilai dengan penyebab nan berbeda-beda. Selain akibat kondisi global, keterbatasan pengedaran material di dalam negeri juga ikut menambah biaya pembangunan rumah subsidi.

"Kalau paling tinggi itu macam-macam, besi pada saat kemarin perang, keramik susah, hebel juga kita mesti beli cash, terus material alam jika di Jawa Barat sama Banten rebutan," katanya.

Hambatan pengedaran material tetap terjadi akibat pembatasan pengangkutan di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut membikin developer kudu menggunakan kendaraan berkapasitas lebih mini sehingga ongkos logistik meningkat dan akhirnya membebani biaya pembangunan rumah subsidi.

"Moratorium belum. Dilepasnya sedikit-sedikit, tapi boleh lewat mobil kecil. Kalau mobil mini otomatis biaya naik transportasi, seperti itulah," ujar Deddy.

(fys/wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya