Ilustrasi(Dok BPBD Banyumas)
DAMPAK musim kemarau di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, terus meluas. BPBD Banyumas mewaspadai peningkatan ancaman kebakaran rimba dan lahan (karhutla). Kondisi cuaca nan semakin kering membikin vegetasi mudah terbakar dan api berpotensi sigap meluas.
Berdasarkan info Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Kekeringan dan Karhutla BPBD Banyumas, hingga 6 Agustus 2026 tercatat lima kejadian karhutla dengan total luas lahan nan terbakar mencapai 9,3 hektare.
Kebakaran terjadi di Kelurahan Grendeng, Kecamatan Purwokerto Utara, dengan luas lahan terbakar 0,3 hektare (ha). Kemudian Desa Pamijen, Kecamatan Sokaraja, seluas 2 ha, Desa Karangtalun Kidul, Kecamatan Purwojati, 1 ha, Kelurahan Teluk, Kecamatan Purwokerto Selatan, 2 haserta , Desa Sawangan, Kecamatan Ajibarang, dengan luas lahan terbakar mencapai 4 ha.
Dwi mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama puncak musim kemarau. Aktivitas pembakaran sampah maupun lahan secara terbuka dinilai berisiko memicu kebakaran, terutama ketika kondisi vegetasi dan lahan dalam keadaan kering.
"Kami membujuk masyarakat menghemat penggunaan air bersih dan tidak membakar sampah maupun lahan. Kondisi vegetasi saat ini sangat kering sehingga api mudah menyebar dan memicu kebakaran nan lebih luas," kata Dwi pada Jumat (7/8).
BPBD Banyumas juga meminta masyarakat segera melaporkan andaikan menemukan kebakaran maupun mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Langkah sigap diperlukan agar penanganan dapat segera dilakukan dan akibat kekeringan maupun karhutla tidak semakin meluas.
Sementara ada 25.817 jiwa alias 7.852 kepala family (KK) terdampak krisis air bersih hingga 6 Agustus 2026. Puluhan ribu penduduk tersebut tersebar di 34 desa dan kelurahan pada 14 kecamatan. Selain permukiman warga, kekeringan juga berakibat terhadap tujuh akomodasi umum akibat menurunnya kesiapan sumber air.
Dwi mengatakan, kondisi tersebut menjadi perhatian BPBD lantaran cakupan wilayah terdampak terus bertambah seiring berlangsungnya musim kemarau. "Seiring perkembangan kondisi di lapangan, kami terus mengintensifkan pengedaran air bersih ke wilayah nan terdampak untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat," kata Dwi.
Hingga 6 Agustus 2026, BPBD Banyumas telah menyalurkan 913 ribu liter air bersih ke wilayah terdampak. Bantuan tersebut didistribusikan melalui 188 ritase pengiriman. "Hingga 6 Agustus 2026 kami telah menyalurkan 913 ribu liter air bersih melalui 188 ritase ke wilayah-wilayah nan mengalami kekeringan. Distribusi bakal terus dilakukan sesuai perkembangan kondisi di lapangan dan permohonan dari masyarakat," ujarnya.
Wilayah nan mengalami krisis air bersih antara lain Kecamatan Karanglewas, Purwokerto Timur, Jatilawang, Sumpiuh, Kemranjen, Cilongok, Patikraja, Tambak, Ajibarang, Wangon, Somagede, Lumbir, Purwojati, dan Gumelar.
Dwi mengatakan penyaluran air bersih dilakukan secara berjenjang dengan mempertimbangkan tingkat kebutuhan masing-masing wilayah. Dalam pelaksanaannya, BPBD juga menggandeng pemerintah desa, relawan, serta sejumlah lembaga dan mitra kemanusiaan.
"Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah desa, relawan, dan para mitra agar pelayanan pengedaran air bersih melangkah optimal. Masyarakat nan mengalami kesulitan air bersih diharapkan segera melapor melalui pemerintah desa alias langsung ke BPBD sehingga dapat segera kami tindak lanjuti," katanya. (H-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·