Diskusi forum wartawan kesehatan.(MI/Ficky Ramadhan)
GURU Besar Ilmu Kesehatan Mata Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhammad Bayu Sasongko, mengingatkan bahwa retinopati diabetik tetap menjadi penyebab utama kebutaan pada penyandang diabetes di Indonesia. Penyakit ini sering tidak disadari lantaran tidak menimbulkan indikasi pada tahap awal.
Retinopati diabetik merupakan kerusakan pembuluh darah mini pada retina nan berfaedah mengirimkan info visual ke otak. Karena letaknya di dalam bola mata, kerusakan ini tidak terlihat dari luar secara kosmetik, sehingga banyak pasien merasa kondisi matanya tetap normal padahal sudah terjadi perdarahan alias penumpukan lemak.
"Retinopati diabetik memang tidak terlalu terkenal lantaran letaknya di dalam bola mata. Padahal, di dalam retina sudah terjadi kerusakan pembuluh darah mini nan bisa menyebabkan perdarahan maupun penumpukan lemak dan protein,” ujar Bayu dalam obrolan di Jakarta, Senin (20/7/2026).
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi glukosuria mencapai 11,7% alias sekitar 32 juta penduduk. Data BPJS Kesehatan menunjukkan dari 12 juta pasien nan rutin berobat, sekitar 5,2 juta di antaranya sudah mengalami retinopati diabetik, dan 1,2 juta orang memerlukan tindakan medis serius seperti laser hingga operasi.
Bayu menjelaskan bahwa akibat kerusakan retina meningkat seiring lamanya seseorang menderita diabetes, terutama jika disertai hipertensi, kolesterol tinggi, dan kebiasaan merokok. Gejala awal sering kali sangat halus, seperti penglihatan sedikit redup alias warna kurang cerah, sehingga banyak pasien baru mencari support saat kondisi sudah berat.
Untuk mengatasi masalah ini, digagas Diabetic Retinopathy Initiative (DRIVE), sebuah sistem skrining retina berbasis populasi nan terintegrasi dengan jasa kesehatan nasional. Program ini sedang diuji coba di empat wilayah Indonesia (Barat, Tengah, Timur, dan Sulawesi) menggunakan teknologi kamera fundus portabel.
“Skrining retina sebetulnya sangat mudah dilakukan. Dengan foto retina, kondisi mata bisa diketahui sejak dini. Kami berambisi jasa ini semakin mudah diakses sehingga kebutaan dapat dicegah sebelum muncul gangguan penglihatan berat,” pungkasnya. (Z-10)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·