Cerita Eks Transmigran Mengais Rejeki di Merauke, Temukan Hal Berharga

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah laju modernisasi dan kehidupan kota nan makin individualis, budaya gotong royong rupanya tetap hidup di ujung timur Indonesia. Di Distrik Kurik, Merauke, Papua Selatan, semangat saling membantu itu tetap menjadi bagian dari keseharian warga, terutama di kalangan petani nan kebanyakan merupakan perantau dari Pulau Jawa.

Bagi Abdul Rokhim, petani nan sekarang menetap di Merauke, gotong royong bukan sekadar tradisi lama nan dipertahankan, melainkan langkah hidup nan membikin penduduk tetap terhubung satu sama lain di tanah rantau. Di area eks transmigrasi seperti Kurik, para pendatang datang dari latar belakang berbeda, namun dipertemukan oleh nasib nan sama: sama-sama merantau, sama-sama menggarap sawah, dan sama-sama membangun hidup baru di Papua.

"Kalau di sini tetap kental gotong royong. Karena di sini kan eks-transmigrasi, ini kan kebanyakan pendatang. Jadi, biasa kan jika sama-sama merantau di satu tempat itu kayak bersaudara, tetap kental lah gitu jika di sini," kata Abdul Rokhim saat ditemui CNBC Indonesia di sawahnya nan berlokasi di Kampung Candra Jaya, Distrik Kurik, Merauke, Papua Selatan.

Abdul bercerita, area pertanian di Papua Selatan, khususnya Merauke, memang banyak dihuni pendatang. Mereka datang dari beragam wilayah di Jawa, mulai dari Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Jawa Barat. Kehidupan sebagai sesama perantau inilah nan kemudian menumbuhkan rasa kebersamaan nan kuat.

Di tengah hamparan sawah Merauke, gotong royong hidup dalam corak nan sangat nyata. Saat musim tanam tiba, para petani saling membantu mengerjakan lahan satu sama lain agar pekerjaan sigap selesai. Sistemnya sederhana: hari ini membantu sawah milik tetangga, besok gantian dibantu di lahan sendiri.

Menurut dia, langkah itu membikin pekerjaan tanam bisa lebih sigap selesai.

"Musim tanam, itu masing-masing kita saling bantu, biar cepat, biar separuh hari selesai gitu, kelak bisa berikutnya tempat nan lain saling dibantu lagi," ujarnya.

Bagi Abdul, pola kerja seperti itu bukan perihal baru. Di kampungnya kini, gotong royong sudah menjadi semacam kesepakatan sosial nan melangkah alami. Petani tak kudu selalu mengandalkan pekerja harian alias mengeluarkan ongkos besar untuk menyelesaikan pekerjaan di sawah. Mereka cukup saling bantu, lampau bergantian.

Di tengah ongkos produksi pertanian nan terus menjadi tantangan, gotong royong juga punya nilai ekonomi nan besar. Abdul mengaku, budaya saling membantu membikin petani bisa menekan pengeluaran, terutama saat tidak punya cukup duit untuk bayar tenaga kerja.

"Yang jelas gotong royong kan krusial menurut saya, untuk menambah persaudaraan, menambah silaturahmi, untuk meringankan beban pekerjaan kita. Terutama dari finansial kan gitu. Jadi umpamanya saya mau olah lahan, umpamanya tidak punya duit gitu, suruh kawan alias tetangga alias kerabat bantu, sudah kita bantu-bantu saya gantian gitu saja kan, kita nggak keluarkan uang, hanya tenaga saja kan. Salah satunya begitu, gotong royong membantu dari sisi finansial," tutur dia.

Bukan hanya mengurangi beban biaya, gotong royong juga membikin pekerjaan di sawah lebih sigap selesai. Di musim tanam, kecepatan sering kali jadi penentu, apalagi ketika petani kudu berpacu dengan musim dan kondisi air.

"Gotong royong membantu dalam perihal kecepatan juga bisa," kata Abdul.

Budaya saling membantu itu rupanya tak berakhir di sawah. Di lingkungan pemukiman warga, gotong royong juga tetap terlihat saat ada tetangga nan membangun rumah. Warga bakal datang membantu, terutama ketika kudu mengangkat kayu dan memasang rangka genting rumah, pekerjaan nan susah diselesaikan jika hanya seorang diri.

"Kalau dari lingkungan perumahan itu memang kental sekali (gotong royong), macam kita mendirikan rumah. Itu tetap ada," ujarnya, Jumat (3/7/2026).

Ia lampau bercerita gimana penduduk biasa berkumpul untuk membantu proses pembangunan rumah tetangga.

"Masih ada gotong royong. Jadi mendirikan rumah, terutama mendirikan rangka atapnya itu ya, kuda-kuda fondasi genting rumah. Biasa itu tetangga-tetangga diberitahu, jadi gotong royong kasih naik kayu gitu, sama-sama gitu. Jadi jika kita mengharapkan tukang jika hanya tukang 2-3 orang kan nggak bisa bayarnya," jelas dia.

Cerita Abdul memperlihatkan gotong royong di Merauke bukan sekadar romantisme desa, melainkan fondasi nan menjaga kehidupan sosial penduduk tetap berjalan. Di area eks transmigrasi, hubungan antarwarga tak hanya dibangun oleh kedekatan tempat tinggal, tetapi juga oleh kesamaan nasib sebagai perantau nan kudu saling menopang.

Petani di Desa Candra Jaya, Distrik Kurik, Merauke, Papua Selatan, Minggu (5/7/2026).  (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)Petani di Desa Candra Jaya, Distrik Kurik, Merauke, Papua Selatan, Minggu (5/7/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Petani di Desa Candra Jaya, Distrik Kurik, Merauke, Papua Selatan, Minggu (5/7/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya