Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah China secara resmi membantah tudingan negara-negara Barat bahwa Negeri Tirai Bambu mengalami kelebihan kapabilitas produksi (overcapacity) dan membanjiri pasar dunia dengan produk murah. Dalam sebuah white paper terbaru, Beijing menyebut tuduhan tersebut sebagai dalih untuk membenarkan kebijakan proteksionisme terhadap produk-produk China.
Dokumen kebijakan tersebut menegaskan bahwa rumor overcapacity telah dipolitisasi oleh sejumlah negara nan cemas kehilangan daya saing industri. Menurut China, persoalan kapabilitas produksi semestinya dipandang secara objektif berasas sistem pasar, bukan dijadikan perangkat untuk membatasi perdagangan internasional.
"Proteksionisme hanya bakal mengganggu tatanan perdagangan global, merusak stabilitas rantai pasok dunia, dan menciptakan akibat jangka panjang bagi pertumbuhan ekonomi global," tulis pemerintah China dalam arsip tersebut, dilihat CNBC Indonesia, Senin (3/7/2026).
Beijing juga menegaskan bahwa hingga saat ini Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) maupun Dana Moneter Internasional (IMF) tidak mempunyai arti resmi mengenai overcapacity. Karena itu, China menilai sejumlah negara menggunakan standar nan dibuat sendiri untuk kepentingan geopolitik.
Balik Soroti Subsidi AS dan Uni Eropa
Dalam arsip itu, China juga membalas kritik mengenai subsidi industri nan selama ini diarahkan kepada Beijing. Menurut pemerintah China, subsidi bukanlah penyebab otomatis terjadinya kelebihan kapabilitas produksi.
Sebaliknya, banyak negara maju juga memberikan support besar kepada industrinya. China mencontohkan Amerika Serikat melalui Inflation Reduction Act (IRA) mengalokasikan sekitar US$750 miliarberbagai corak subsidi pada periode 2022-2031.
Sementara itu, Uni Eropa disebut menyiapkan sekitar €1,44 triliunsubsidi pada 2021-2030. Beijing menilai negara-negara besar semestinya memastikan kebijakan subsidinya sesuai patokan WTO dan tidak digunakan untuk menghalang perkembangan negara lain.
Surplus Dagang Bukan Bukti Overcapacity
China juga membantah dugaan bahwa surplus perdagangan mencerminkan kelebihan kapabilitas produksi. Menurut Beijing, banyak negara industri seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang, dan Inggris pernah menikmati surplus perdagangan dalam waktu lama.
Bahkan, Uni Eropa juga mencatat surplus besar di sektor otomotif, farmasi, dan kosmetik. China menegaskan pertumbuhan ekspornya didorong oleh meningkatnya inovasi, efisiensi manufaktur, serta tingginya permintaan dunia terhadap kendaraan listrik, panel surya, dan baterai.
Pemerintah China juga menyatakan tidak sengaja mengejar surplus perdagangan. Sebaliknya, China disebut telah menjadi importir terbesar kedua bumi selama 17 tahun berturut-turut serta memberikan akomodasi tarif nol persen kepada puluhan negara berkembang.
Tolak Narasi "China Shock 2.0"
Dalam white paper tersebut, Beijing juga menolak narasi "China Shock 2.0" nan belakangan banyak digunakan di Barat untuk menggambarkan membanjirnya produk-produk manufaktur China. China justru menyebut perkembangan industrinya sebagai "China Opportunity 2.0", ialah kesempatan baru bagi bumi melalui penemuan teknologi, transisi daya hijau, serta investasi di negara berkembang.
Beijing menyatakan industri kendaraan listrik, baterai lithium, kepintaran buatan (AI), hingga daya terbarukan berkembang berkah investasi riset nan besar dan persaingan pasar domestik nan sangat kompetitif, bukan semata-mata lantaran subsidi pemerintah. Di akhir dokumen, China menyerukan agar seluruh negara mempertahankan sistem perdagangan bebas, memperkuat WTO, menolak proteksionisme, serta menjaga kelancaran rantai pasok dunia melalui kerja sama internasional.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

52 menit yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·