Ilustrasi(Dok Istimewa)
REMAJA merupakan golongan usia strategis nan menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan, namun rentan mengalami beragam masalah kesehatan andaikan tidak didampingi dengan pelayanan nan komprehensif, salah satunya anemia gizi.
Kerentanan anemia tersebut juga tercermin dari info Dinas Kesehatan Kota Cirebon dan hasil skrining kesehatan remaja di sekolah, prevalensi anemia pada remaja putri di Kota Cirebon mencapai 36,6%.
Wilayah kerja Puskesmas Kalijaga Kota Cirebon mempunyai populasi remaja nan besar namun pelayanan kesehatan remaja tetap didominasi pendekatan kuratif, sementara pendekatan promotif-preventif nan holistik dan inovatif belum melangkah optimal.
Berdasarkan kondisi tersebut, dilaksanakan aktivitas Pengabdian kepada Masyarakat Bina Wilayah dengan tema Inovasi Asuhan Holistik Remaja Menuju Generasi Tangguh di Puskesmas Kalijaga Kota Cirebon Tahun 2026.
Ketua Program Studi Sarjana Terapan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Cirebon, Dr Yeni Fitrianingsih, mengatakan sasaran aktivitas adalah remaja putri di wilayah kerja Puskesmas Kalijaga Kota Cirebon, dengan sasaran penyelenggaraan di SMAN 9 Kota Cirebon, siswi yg diberi minuman fungsional sebanyak 30 orang, dan 30 siswi lagi diberi tablet tambah darah sehingga totalnya ada 60 remaja putri, agar mempunyai pengetahuan dan perilaku pencegahan anemia gizi nan lebih baik serta terbentuknya golongan sebaya (peer educator) nan aktif.
"Rekomendasi dan hasil kesepakatan nan dicapai dalam pertemuan di PKM Kalijaga meliputi timeframe pelaksanaan, aktivitas edukasi/intervensi disepakati untuk diselesaikan setelah siswa masuk sekolah ialah disepakati tanggal 22 Juli 2026," kata Yeni, Rabu (29/7).
Pihak Puskesmas bersedia bertindak sebagai penyedia dan koordinator penghubung antara tim pengabmas dengan pihak eksternal seperti pembimbing pembina UKS SMAN 9 Kota Cirebon.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, tahapan aktivitas nan bakal dilaksanakan meliputi koordinasi dengan pihak sekolah/puskesmas, penyusunan media edukasi (leaflet, poster, media digital), serta penyiapan perangkat skrining hemoglobin (Hb meter, lancet, alkohol swab).
Edukasi gizi kepada remaja mengenai gizi dan anemia, dilaksanakan melalui sesi kelas interaktif dan obrolan kelompok
"Pemberian minuman fungsional daun ubi jalar kepada 30 orang remaja puti selama 15 hari pemberian, setiap pemberian 110 cc. Skrining kesehatan berupa pemeriksaan kadar hemoglobin sederhana untuk mengetahui status anemia pada remaja putri," ujar Yeni.
Kemudian koordinasi pengedaran dan edukasi konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) secara rutin berbareng pihak Puskesmas/sekolah. Serta pembentukan dan training golongan sebaya (peer educator) dari perwakilan remaja untuk mengampanyekan pencegahan anemia.
Rencana tahapan selanjutnya melanjutkan pendampingan golongan sebaya agar dapat berkedudukan aktif mengampanyekan pencegahan anemia secara berkepanjangan di lingkungan sekolah.
Melakukan monitoring dan pertimbangan kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) serta pertimbangan hasil skrining hemoglobin secara berkala. Melakukan pertimbangan akhir berupa penilaian perilaku (kuesioner/wawancara mengenai konsumsi makanan bergizi dan kepatuhan minum TTD) serta umpan kembali peserta.
"Tidak hanya itu, kami juga bakal melakukan diseminasi hasil aktivitas kepada Puskesmas Kalijaga dan pihak sekolah sebagai corak keberlanjutan program dan penguatan peran puskesmas dalam pembinaan kesehatan remaja di wilayah kerjanya," pungkasnya. (H-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·