DBS Intip Peluang dari Lonjakan Investasi AI dan Energi

1 hari yang lalu 8

Jakarta, CNBC Indonesia - Perekonomian dunia diperkirakan sedang memasuki siklus shopping modal baru nan didorong oleh dua perihal utama, ialah pengembangan kepintaran buatan alias Artificial Intelligence (AI) dan energi. Para penyedia jasa awan berskala besar (hyperscaler) terus meningkatkan pengeluaran, lantaran permintaan komputasi melampaui pasokan. Sementara inisiatif kendali atas prasarana AI (sovereign AI) menambah lapisan strategis pada investasi infrastruktur.

Chief Investment Officer DBS Hou Wey Fook menyebut, pertumbuhan pendapatan AS melonjak 26% pada kuartal terakhir, dipimpin oleh perusahaan-perusahaan mengenai AI, nan mengakibatkan penurunan 13% pada posisi price-to-earnings ratio (PER) menjadi 22x. Namun demikian rasio price/earning-to-growth (PEG) tetap sejalan setelah memperhitungkan ekspektasi pertumbuhan.

"Kami tetap berkomitmen penuh pada eksposur tekait AI, sembari menyadari bahwa pasar semakin terkonsentrasi, di mana 10 saham AI teratas menghasilkan sekitar 78% dari kenaikan indeks," tukas dia dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (9/7/2026).

Tidak ketinggalan, Wey Fook juga mengatakan, DBS memandang beragam kesempatan lain, khususnya mengenai energi. "Kembalinya rumor ketahanan energi, ditambah shopping modal mengenai AI nan berkepanjangan sekitar US$ 1 triliun per tahun selama beberapa tahun ke depan bakal mendorong permintaan bakal tenaga dan listrik," sambungnya.

Wey Fook menambahkan, kesempatan investasi mencakup hidrokarbon tradisional dan terbarukan, serta prasarana daya di seluruh penyimpanan, jaringan grid, dan tenaga nuklir.

Di sektor energi, investasi lebih rendah dari nan diharapkan selama bertahun-tahun serta meningkatnya kekhawatiran bakal ketahanan daya juga sedang mengkatalisasi pemulihan shopping modal di seluruh rantai nilai," ungkap Wey Fook.

Dalam kondisi tersebut, lanjut dia, pihaknya lebih memilih penerima faedah jenis penyedia sarana penunjang ("pick-and-shovel") nan diposisikan untuk menangkap peningkatan intensitas shopping modal, khususnya ekosistem semikonduktor, jaringan dan perangkat keras khusus, serta penyedia jasa dan peralatan minyak.

Di lain sisi, ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah, mempunyai akibat makro nan signifikan. Konflik berkepanjangan telah meningkatkan akibat nilai daya berada di level nan tinggi dalam jangka waktu lebih lama, dengan kerentanan pasokan minyak semakin terlihat di tengah penurunan persediaan.

Pada saat sama, ekspansi fiskal nan berangkaian dengan pertahanan dan kebijakan industri turut memperkuat akibat inflasi nan berkarakter ekstrem. Di luar energi, lonjakan investasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) juga mulai muncul sebagai aspek pendorong inflasi dalam jangka pendek.

Dalam jangka pendek, investasi besar-besaran di AI berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi, mengingat pembangunan prasarana masif meningkatkan permintaan terhadap beragam kebutuhan, mulai dari perangkat lunak dan komponen elektronik hingga konsumsi listrik.

Selain itu, keluarnya Tiongkok secara berjenjang dari deflasi juga menjadi aspek lain nan mendorong inflasi, seiring stabilnya tekanan harga, nan didukung oleh kebijakan anti-involusi dan kenaikan biaya input komoditas akibat krisis Iran.

Berdasarkan latar belakang tersebut, DBS menilai sikap penanammodal nan mulai mengabaikan inflasi tampak kurang tepat.

"Pada obligasi, kami menghindari lama ultra-panjang lantaran inflasi nan tinggi dan akibat pasokan. Kami tetap konsentrasi pada angsuran IG (invesment grade) dengan lama portofolio rata-rata 5-7 tahun untuk pendapatan maksimum dengan akibat penurunan nilai nan lebih rendah," jelas Wey Fook.

Dikarenakan obligasi tidak lagi memberikan perlindungan andal untuk penurunan nilai, maka penanammodal memerlukan diversifikasi investasi alternatif. Emas telah memainkan peran ini secara efektif, namun eksposur selektif terhadap komoditas dan saham domestik Tiongkok juga menawarkan faedah diversifikasi, lantaran korelasinya nan lebih rendah dengan ekuitas global.

Di tengah munculnya kesempatan investasi baru di sektor AI dan energi, sekaligus meningkatnya tantangan dari inflasi dan ketidakpastian geopolitik, penanammodal memerlukan pandangan pasar nan komprehensif agar dapat mengambil keputusan investasi secara lebih terukur.

Melalui DBS Treasures dan DBS Treasures Private Client, Bank DBS menghadirkan insights dunia dari Chief Investment Office (CIO) DBS nan dipersonalisasi sesuai kebutuhan nasabah, didukung oleh Relationship Manager berilmu untuk membantu menyusun strategi pengelolaan kekayaan nan relevan dengan dinamika pasar.

Beragam solusi pengelolaan kekayaan nan komprehensif pun dihadirkan untuk membantu pengguna menavigasi dinamika pasar, mengoptimalkan kesempatan investasi, serta mewujudkan tujuan finansial jangka panjang.

Komitmen tersebut turut tercermin melalui beragam pengakuan nan diraih Bank DBS Indonesia. Baru-baru ini, Bank DBS Indonesia meraih penghargaan Indonesia's Best Private Bank 2026 dari FinanceAsia serta Best Priority Banking Experience 2026 dari Asian Banking & Finance, dan Best Wealth Manager Highly Commended dari The Asset.

(rah/rah)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya