Warga Gaza mendatangi kafe serta titik-titik pemutaran layar terbuka untuk menyaksikan final Piala Dunia 2026(Theguardian)
PESTA kemenangan Spanyol di Piala Dunia tidak hanya dirayakan di Madrid alias Barcelona, tetapi juga di tengah reruntuhan tenda pengungsian di Jalur Gaza, PalestinA. Bagi penduduk Gaza, keberhasilan La Roja merengkuh trofi juara bumi tahun ini mempunyai makna emosional nan jauh melampaui batas-batas lapangan hijau.
Di tengah ancaman bentrok nan terus mengintai, penduduk Gaza beramai-ramai mendatangi kafe serta titik-titik pemutaran layar terbuka. Dengan mengibarkan bendera Spanyol, mereka meluapkan kebahagiaan atas kemenangan tim didikan Luis de la Fuente tersebut.
Dukungan penduduk Gaza ini bukan tanpa alasan. Spanyol dikenal sebagai salah satu negara di Eropa nan konsisten bersuara keras menentang kekerasan Israel dan memihak hak-hak kemanusiaan rakyat Palestina.
Banyak penduduk nan mengibarkan bendera Spanyol sembari memberikan penghormatan kepada bintang muda Lamine Yamal, nan sempat membawa bendera Palestina saat seremoni kemenangan La Liga Barcelona pada bulan Mei lalu.
"Siapa pun nan mengibarkan bendera Palestina, layak untuk mengangkat trofi Piala Dunia," tulis tim sepak bola amputasi Gaza, Gaza al-Irada, dalam sebuah pesan video support untuk tim Spanyol sebelum pertandingan dimulai.
Saadi al-Masri, 40, kapten tim sepak bola amputasi Gaza Gaza al-Irada, menyaksikan jalannya pertandingan final berbareng rekan-rekannya di sebuah kafe lokal.
“Saya mendukung Spanyol lantaran kami memandang negara ini berdiri berbareng perjuangan rakyat Palestina dan mendukung hak-hak kami," ujarnya.
Sebaliknya, hubungan politik nan erat antara perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Argentina Javier Milei membikin publik Gaza secara emosional memposisikan diri mendukung Spanyol kala berjumpa Argentina di partai puncak.
Meski akomodasi listrik dan internet sangat terbatas di kamp-kamp pengungsian, antusiasme penduduk untuk mengikuti perkembangan turnamen tetap tinggi.
Sebagian besar dari 2 juta penduduk Palestina di wilayah tersebut terpaksa tinggal di kamp-kamp pengungsian tenda setelah serangan Israel menghancurkan rumah mereka, dengan akses nan sangat terbatas terhadap listrik maupun internet.
Cari Jaringan Internet
Arkan al-Walaida, 23, seorang penduduk Gaza nan kudu berjuang mendatangi kafe dengan akomodasi internet setiap pagi demi memantau cuplikan pendek pertandingan melalui TikTok alias akun resmi FIFA.
Ketika mendapati berita pada hari Senin (20/7) bahwa Spanyol keluar sebagai juara, dia merasa sangat terharu. "Sejujurnya, saya merasa nyaris menangis lantaran bahagia," ungkapnya. "Kami memandang support mereka sebagai simbol kemanusiaan.”
Meski merasa sangat ceria saat peluit panjang berbunyi, ketakutan bakal serangan udara membikin mereka kudu mengurungkan niat untuk berpesta hingga larut malam.
Bayang-bayang bentrok terus menyelimuti keseharian warga. Pada awal Juli lalu, sebuah serangan peledak Israel menewaskan Mohamed al-Wahidi, seorang pekerja kemanusiaan Palestina nan sebelumnya aktif mengorganisasi area pemutaran layar pertandingan Piala Dunia bagi penduduk Gaza. Militer Israel mengonfirmasi serangan tersebut namun berkilah bahwa sasaran mereka bukanlah sang pekerja kemanusiaan.
Di tengah duka dan keterbatasan tersebut, kemenangan Spanyol tetap dipandang oleh penduduk Gaza sebagai secercah sinar solidaritas kemanusiaan dari panggung olahraga internasional.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·