Derita Petani di Pasirhalang, Harus Beli Air Mahal tapi Harga Panen Anjlok

1 jam yang lalu 3
Derita Petani di Pasirhalang, Harus Beli Air Mahal tapi Harga Panen Anjlok Foto petani di Desa Pasirhalang Cisarua, Bandung Barat.(MI/Depi Gunawan)

PENDERTIAAN dialami petani di Kampung Cikarang Mulya, Desa Pasirhalang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, imbas tandus panjang. 

Di tengah biaya produksi nan melonjak akibat krisis air, nilai jual hasil panen justru anjlok. Selada nan sebelumnya tetap dijual Rp5 ribu hingga Rp6 per kilogram, sekarang hanya dihargai sekitar Rp2 ribu per kilogram.

"Harga-harga sayuran dari tingkat petani turun sejak tandus melanda," kata seorang petani Kampung Cikarang Mulya, Desa Pasirhalang, Dadang, Rabu (5/8).

Dadang mengatakan, kondisi serupa terjadi pada tomat dan buncis, sementara brokoli tetap sedikit lebih baik. Ironisnya, nilai murah itu hanya terjadi di tingkat petani, karena di pasar tradisional, nilai sayuran tetap relatif tinggi.

Di saat pendapatan merosot, ujian lebih berat kudu dihadapi Dadang lantaran dia terpaksa kudu membeli air dari Perusahaan Air Minum (PAM) untuk penyiraman tanamannya.

"Air kudu dibeli, nilai satu kubik mencapai Rp7 Ribu. Dalam kondisi cuaca saat ini, sedikitnya lima kubik dibutuhkan setiap kali pengairan, sementara penyiraman idealnya dua kali sehari agar tanaman tidak mati," bebernya.

Untuk mengatasi perihal tersebut, dia terpaksa mengurangi penyiraman menjadi satu kali sehari meski kudu menanggung resiko kualitas tanaman menurun dan hasil panen tidak maksimal.

Jajang, petani lainnya mengungkapkan, musim kemarau kali ini berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jika dulu nilai sayuran melonjak saat produksi berkurang, sekarang nilai malah terjun bebas.

"Selada dulu pernah mencapai Rp20 ribu per kilogram sekarang hanya laku Rp2 ribu. Tomat dari sebelumnya sekitar Rp10 ribu menjadi hanya Rp2 ribu per kilogram di tingkat petani," ucapnya.

Padahal, lanjut dia, biaya menanam tomat tergolong tinggi. Selain kebutuhan pupuk dan perawatan, petani sekarang kudu mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air.

"Satu kubik air sekarang Rp10 ribu, sementara sehari bisa lenyap lima kubik. Jadi sekali keluar duit Rp50 ribu hanya untuk air," kata Jajang.

Menurut dia, panas berkepanjangan membikin banyak buah tomat mengalami kerusakan sebelum dipanen. Hampir separuh hasil dari setiap pohon tomat kudu dibuang lantaran membusuk sebagian dan tidak layak dijual.

"Ya akibatnya, kerugian nan dialami petani tidak hanya berasal dari nilai jual nan rendah, tetapi juga dari menyusutnya volume panen," tambahnya. (DG/E-4)

Selengkapnya