Ilustrasi.(Magnific)
KETERLIBATAN teknologi kepintaran buatan (AI) dalam operasi militer Amerika Serikat (AS) di Iran memasuki babak baru. Pentagon secara resmi mengonfirmasi bahwa chatbot milik Elon Musk, Grok AI, memainkan peran krusial dalam menentukan sasaran serangan selama bentrok berlangsung.
Sebelumnya, spekulasi mengenai penggunaan model AI dalam perang beredar luas. Model Claude milik Anthropic sempat dicurigai sebagai sistem utama nan digunakan militer AS setelah laporan The Wall Street Journal. Namun, pernyataan terbaru dari pejabat pertahanan AS menandai pertama kali ada konfirmasi resmi mengenai keterlibatan Grok AI dalam operasi tempur.
Peran Grok AI dalam Serangan Udara
Konfirmasi ini muncul melalui pernyataan di bawah sumpah oleh Kepala Kecerdasan Buatan Pentagon, Cameron Stanley. Dalam arsip pembelaan mengenai gugatan norma nan melibatkan Elon Musk, Stanley mengungkapkan bahwa Grok AI digunakan untuk meluncurkan lebih dari 2.000 amunisi ke 2.000 sasaran berbeda dalam waktu 96 jam.
Stanley menegaskan bahwa memastikan operasional chatbot nan dikembangkan oleh xAI ini tetap melangkah tanpa gangguan adalah masalah keamanan nasional nan sangat penting. Ia juga menyebut bahwa Grok AI merupakan satu dari empat model AI nan saat ini bisa mendukung aplikasi keamanan nasional dan satu dari tiga produk AI nan dilengkapi untuk mendukung operasi misi kritis dengan tingkat kerahasiaan tinggi.
Dampak Perang dan Korban Sipil
Perang AS-Iran nan meningkat sejak Februari tahun ini menyebabkan kerusakan besar pada situs-situs sipil di Iran. Dua serangan paling menonjol nan menjadi sorotan internasional adalah:
- Pengeboman Sekolah Menengah Putri Shajareh Tayyebeh (28 Februari): Menewaskan sedikitnya 175 orang, termasuk lebih dari 100 anak-anak.
- Pengeboman Kompleks Olahraga Azadi (5 Maret): Mengakibatkan kerusakan prasarana sipil nan signifikan.
Meskipun pengaruh model AI Claude dalam menentukan target-target tersebut sudah lama dicurigai, pejabat militer sebelumnya menolak untuk mengonfirmasi alias membantah penggunaan AI Anthropic saat ditekan oleh media mengenai tragedi di sekolah putri tersebut.
Gugatan Hukum xAI dan Polusi Udara
Ironisnya, pengungkapan rahasia militer ini muncul sebagai bagian dari pembelaan Elon Musk dalam gugatan norma Clean Air. NAACP mengusulkan gugatan terhadap perusahaan xAI milik Musk atas dugaan pelanggaran Undang-Undang Udara Bersih (Clean Air Act).
Laporan menunjukkan bahwa xAI mengerahkan beberapa turbin pembakaran portabel untuk memasok daya ke pusat info mereka. Namun, asap pembuangan dari turbin tersebut diduga mencemari lingkungan dan berakibat jelek pada kesehatan organisasi kelas pekerja di sekitar letak pusat data.
Pernyataan Stanley dari Pentagon menjadi bagian dari strategi pertahanan pemerintahan Trump untuk membiarkan pusat info xAI terus beraksi meskipun ada kekhawatiran lingkungan. Departemen Kehakiman AS apalagi mengeluarkan memo nan menyatakan bahwa mereka dapat membatalkan gugatan warga tersebut demi kepentingan nasional nan lebih besar. (OK! Magazine/I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·