Toyota Buka Suara Usai Purbaya Minta Pindahkan Pabrik dari Thailand

50 menit yang lalu 2

Tangerang, CNBC Indonesia - PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) merespons rayuan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa nan menginginkan Toyota menjadikan Indonesia sebagai pedoman produksi utama di area ASEAN, termasuk memindahkan produksi kendaraan nan selama ini dilakukan di Thailand.

Presiden Direktur TMMIN Nandi Julyanto mengatakan, dari sisi keahlian manufaktur, pabrik Toyota di Indonesia sebenarnya mempunyai kapabilitas untuk memproduksi model nan saat ini tetap dirakit di Thailand, termasuk kendaraan komersial seperti Hilux. Namun, keputusan tersebut tidak sesederhana memindahkan lini produksi lantaran erat kaitannya dengan ekosistem industri nan telah terbentuk selama bertahun-tahun.

"Kalau sekarang produk nan tetap kita datangkan dari Thailand adalah model komersial, seperti Hilux. Sebenarnya secara teknis tidak ada masalah jika mau diproduksi di sini," kata Nandi di ICE BSD, Tangerang, dikutip Rabu (5/8/2026).

Pembagian peran manufaktur Toyota di area ASEAN dilakukan berasas kekuatan masing-masing negara. Indonesia berkembang sebagai pedoman produksi kendaraan Multi Purpose Vehicle (MPV), sedangkan Thailand menjadi pusat pengembangan kendaraan komersial.

"Ekosistem kita MPV kan sehingga makanya Kijang ada di kita jika komersial ada di mereka, SUV juga mulai ada sehingga kita mulai memproduksi. Nah lantaran ekosistem ada di mereka, sehingga suplier dan lain-lain di sana," ujarnya.

Keberadaan rantai pasok di Thailand membikin relokasi produksi belum tentu menghasilkan efisiensi biaya. Meski kendaraan dirakit di Indonesia, sebagian besar komponen tetap kudu didatangkan dari Thailand lantaran industri pemasoknya telah berkembang di negara tersebut. Apalagi, perdagangan antarnegara ASEAN telah difasilitasi melalui skema area perdagangan bebas sehingga biaya pengedaran relatif kompetitif.

"Dari sisi keahlian manufaktur, sebenarnya tidak ada kendala. Kami pernah melakukan studi. Secara teknis, kendaraan tersebut menggunakan platform body-on-frame nan sama. Perbedaannya hanya pada dimensi dan panjang sasis, sementara masing-masing punya ekosistem sendiri. Sehingga jika produksi di sini pun itu secara nilai nggak terlalu berubah," ucap Nandi.

Meski demikian, dia memastikan Toyota bakal mengikuti arah kebijakan pemerintah andaikan nantinya terdapat langkah nan mendorong pengembangan industri kendaraan komersial di Indonesia. Menurutnya, nan paling krusial bukan sekadar memindahkan proses perakitan, melainkan membangun ekosistem industri pendukung agar rantai pasok ikut berkembang di dalam negeri.

"Menurut kami, nan paling krusial adalah gimana membangun ekosistem industri di Indonesia. Kalau ekosistem industrinya bisa dibawa ke Indonesia, tentu itu bakal lebih baik," katanya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara terbuka membujuk Toyota memindahkan pedoman produksinya dari Thailand ke Indonesia. Ajakan tersebut disampaikan saat memberikan sambutan pada Gaikindo Indonesia International Automotive Conference (GIAC) 2026 di ICE BSD, Tangerang.

Menurut Purbaya, pemerintah bakal terus memperbaiki suasana investasi agar Indonesia semakin menarik bagi industri otomotif global. Bahkan, dia berkelakar siap memberikan insentif lebih besar andaikan Toyota bersedia menjadikan Indonesia sebagai pusat manufaktur di area ASEAN.

"Perbaikan suasana investasi bakal terus kita lakukan. Perusahaan Jepang ada di sini? Toyota? Kita juga bakal dukung Toyota, tetapi pindahkan (manufaktur) dari Thailand ke Indonesia," kata Purbaya.

Ia menilai Indonesia mempunyai kelebihan berupa pasar domestik nan besar serta prospek pertumbuhan nan tetap menjanjikan dibandingkan negara lain di kawasan.

"Tapi jika dilakukan ke depannya saya kasih insentif banyak. Kita kan negara besar, kenapa pusatnya di Thailand. Insentif banyak jika Anda pindahkan pedoman produksi dari Thailand ke Indonesia," jelasnya.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya