Hamas.(Al Jazeera)
DEWAN Perdamaian buatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan agunan kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Senin (3/8) bahwa penarikan pasukan Israel dari Jalur Gaza, Palestina, hanya bakal dimulai setelah Hamas melucuti senjata sepenuhnya. Langkah ini diambil menyusul keberatan keras nan diajukan oleh pihak Israel.
Sebelumnya, dua personil kabinet keamanan Netanyahu mendesak diadakan pemungutan bunyi untuk membatalkan kesepakatan nan didorong oleh Trump. Hal ini dipicu oleh rilis teks dari majelis nan menyerukan agar Israel memulai penarikan pasukan secara bertahap.
Kantor Netanyahu menyatakan telah menyampaikan kekhawatiran tersebut kepada Amerika Serikat. Hal ini terjadi setelah Trump pada Jumat memuji kesepakatan Hamas untuk menyerahkan senjata kepada komite pemerintahan Palestina nan baru sebagai tonggak sejarah besar.
Nickolay Mladenov, perwakilan tinggi untuk Gaza di bawah Dewan Perdamaian, berjumpa dengan Netanyahu pada Senin untuk membahas sesuatu nan dia akui sebagai tugas nan sulit. Namun, majelis tersebut menyatakan pihaknya mencapai pemahaman berbareng tentang tujuan bersama dengan Israel.
Melalui pernyataan di platform X, majelis menegaskan bahwa penarikan Israel melampaui Yellow Line--garis demarkasi wilayah nan tetap dikuasai Hamas--hanya bakal terjadi setelah proses pelucutan senjata selesai, sesuai komitmen Hamas kepada para mediator.
Bahkan jika Israel menarik diri sesuai rencana, negara tersebut tetap bakal mempertahankan kendali atas sebagian besar wilayah Gaza di bawah gencatan senjata Oktober nan dipimpin Trump.
Reaksi Hamas dan Ketegangan Internal Israel
Hamas menyatakan pada Senin malam bahwa mereka tetap berpegang pada kesepakatan mengenai penerapan fase kedua perjanjian gencatan senjata, termasuk komitmen dari semua pihak. Kelompok tersebut sekarang menunggu tanggapan resmi dari Mladenov dan para mediator mengenai perincian kesepakatan tersebut.
Ketegangan sempat memuncak ketika Israel keberatan dengan teks majelis pada Kamis lampau nan menyerukan penarikan berjenjang dan penghentian segera serangan Israel di Gaza. Juru bicara instansi perdana menteri, Doron Spielman, menegaskan bahwa jenis nan dipublikasikan tidak mencerminkan posisi Israel.
Menteri Keuangan sayap kanan, Bezalel Smotrich, apalagi menyebut teks tersebut sangat berbeda dengan nan dipresentasikan kepada kabinet keamanan dan menuntut pemungutan bunyi ulang segera.
Ketidaksesuaian itu menjadi tanda terbaru dari keretakan hubungan antara Trump dan Netanyahu, nan saat ini tengah menghadapi pertarungan pemilihan ulang nan sengit pada Oktober mendatang.
Hambatan Diplomatik dan Serangan nan Berlanjut
Selain masalah Gaza, Trump dan Netanyahu juga berbeda mengerti mengenai Iran. Israel tetap skeptis terhadap upaya diplomasi Trump untuk mengakhiri perang nan dimulai kedua negara pada akhir Februari lalu.
Di sisi lain, tokoh politik Palestina Mohammad Dahlan menuduh Netanyahu bekerja untuk menghalangi kesempatan paling menjanjikan guna mengakhiri perang ini. Dahlan sempat menyebut bahwa menantu Trump, Jared Kushner, sedang berupaya agar Israel menghentikan serangan, meski klaim tersebut kemudian direvisi menjadi sedang bekerja dengan pihak Israel untuk menghentikan serangan.
Di lapangan, kekerasan terus berlanjut. Pada Senin malam, serangan Israel terhadap satu kendaraan di sebelah barat Kota Gaza menewaskan dua penduduk Palestina. Militer Israel mengeklaim sasaran serangan tersebut adalah dua militan.
Sementara itu, mediator dari Qatar, Mesir, dan Turki mengkritik keras Israel atas serangan baru di wilayah Palestina nan menargetkan prasarana kesehatan dan menyebabkan jatuhnya korban sipil, termasuk wanita dan anak-anak. (AFP/I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·