ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan argumen kebijakannya menaruh biaya di kas negara berupa Sisa Anggaran Lebih (SAL) APBN nan selama ini hanya tersimpan di Bank Indonesia ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) alias bank-bank BUMN
Purbaya menjelaskan pemindahan duit kas negara ke Bank Himbara itu mempunyai tujuan untuk mendorong pertumbuhan angsuran guna mendorong sektor riil.
"Dapat kami sampaikan di sini bahwa pemindahbukuan biaya SAL ke Bank Umum tersebut bermaksud untuk mendorong pertumbuhan sektor real melalui cash management nan baik," ujarnya saat pemaparan di Sidang Paripurna DPR RI, Jakarta pada Selasa (14/7/2026).
Manfaat adanya SAL di bank, menurut Purbaya dapat membikin biaya bank dalam operasi upaya bakal lebih murah.
"Hal ini dilakukan melalui penempatan idle cash pemerintah di Bank Umum Mitra dengan kembang rendah sehingga dapat menurunkan cost of fund dari perbankan," imbuhnya.
Adapun cost of fund adalah biaya nan kudu dibayarkan oleh bank atas penggunaan biaya dari sumber lain seperti pengguna alias lembaga. Bagi perbankan sebagai pemberi pinjaman, cost of fund ditentukan oleh tingkat kembang nan dibayarkan kepada pemilik deposito.
Sebelumnya, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) juga telah menjelaskan kebijakan biaya SAL nan ditempatkan kembali ke Himbara setelah ada penarikan pada awal tahun ini.
Nilai penempatan saat ini kembali ke kisaran Rp 200 triliun, sebagaimana saat dimulainya penempatan SAL ke Hiimbara pada September 2025.
Adapun secara total, nilainya sebesar Rp281 triliun. Sementara itu sebesar Rp100 triliun disiagakan, jika perbankan butuh maka langsung dikirim Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dari Bank Indonesia.
"Dari Rp281 triliun kan awalnya, Rp110 triliun ditarik. Ini dikembalikan lagi Rp110 triliun, jadi tetap Rp281 triliun," kata Wakil Menteri Keuangan Juda Agung dalam konvensi pers di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Senin (29/6/2026)
Perubahan kebijakan muncul setelah perbankan menyampaikan keringnya likuiditas dalam beberapa waktu terakhir. Sementara itu permintaan angsuran mengalami peningkatan, sehingga dibutuhkan support penuh dari pemerintah dan Bank Indonesia.
"Memang perbankan memerlukan likuiditas menyalurkan kredit," tegas Juda Agung.
(arj/arj)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·