Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan masyarakat agar tidak lengah terhadap ancaman gempa bumi besar nan berpotensi terjadi di Indonesia. Peringatan ini muncul di tengah tren peningkatan aktivitas kegempaan dalam beberapa tahun terakhir serta keberadaan sejumlah area megathrust nan hingga sekarang tetap menyimpan akumulasi energi.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat aktivitas tektonik tertinggi di dunia. Selain berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia, Indonesia juga mempunyai banyak sumber gempa aktif nan berpotensi memicu gempa besar dan tsunami.
Mengutip paparan BMKG, Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia, ialah Indo-Australia, Pasifik, dan Eurasia. Kondisi tersebut membikin wilayah Indonesia mempunyai belasan segmen megathrust serta ratusan sesar aktif nan menjadi sumber gempa bumi.
"Kejadian gempa bumi di Indonesia mengalami lonjakan nan signifikan dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas kegempaan nan perlu kita waspadai," tegas Dwikorita.
Menurut Dwikorita, info BMKG menunjukkan rata-rata kejadian gempa pada periode 1990-2008 sekitar 2.254 kejadian per tahun. Angka itu meningkat menjadi sekitar 5.389 kejadian pada periode 2009-2017. Memasuki 2018 dan 2019 jumlahnya melonjak hingga lebih dari 11.000 kejadian setiap tahun.
Bahkan pada 2024, BMKG mencatat sebanyak 29.869 kejadian gempa, sementara jumlah sensor pemantauan relatif tidak jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya.
"Aktivitas kegempaan nan termonitor BMKG mengalami lompatan. Berdasarkan info aktivitas info gempa jangka panjang, ada pola kejadian gempa di Indonesia terus meningkat setiap tahun," katanya.
Dwikorita menegaskan lonjakan jumlah gempa tersebut bukan semata-mata lantaran bertambahnya perangkat pemantau.
"Mulai tahun 2020 alatnya bertambah jadi sekitar 300-an lebih, rupanya kejadian gempa malah menurun. Ini mematahkan dugaan peningkatan itu lantaran jumlah alatnya bertambah. Jadi mungkin tektoniknya saat itu menurun," kata dia.
"Kemudian semakin ditambah sampai tahun 2023, juga nggak naik-naik kejadiannya, meski tetap di atas 11.000. Artinya bukan lantaran alatnya ditambah lampau jumlah gempanya meningkat, nggak," tukasnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menjelaskan Indonesia memang berada dalam kondisi tektonik nan sangat kompleks sehingga mempunyai banyak sumber gempa.
"Indonesia berada di pertemuan 3 lempeng utama dunia. Yaitu Indo Australia, Pasifik, dan Eurasia. Dampaknya, Indonesia mempunyai 13 segmen megathrust, ialah sumber gempa nan bisa memicu gempa besar," katanya.
"Tak hanya itu. Terdapat 295 segmen sesar aktif nan sudah teridentifikasi. Namun, tetap banyak lagi nan belum teridentifikasi. Kondisi itu menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara rawan gempa," ujar Daryono.
Ia menambahkan Indonesia mendapat tekanan dari beragam arah sehingga aktivitas kegempaannya sangat tinggi.
"Dari Selatan ditekan Australia, ditekan Lempeng Laut Pasifik, Laut Filipina, dan juga aspek tektonik escape dari Indo China nan menekan Indonesia. Karena India itu menekan ke Utara, maka Indo China itu menekan kita. Jadi Indonesia itu terkepung dari beragam arah, sehingga sumber gempanya banyak," papar Daryono.
Mengacu pada Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017, terdapat 13 segmen megathrust nan menakut-nakuti wilayah Indonesia. Segmen tersebut meliputi Mentawai-Pagai dengan potensi gempa magnitudo 8,9, Enggano (M8,4), Selat Sunda (M8,7), Jawa Barat-Jawa Tengah (M8,7), Jawa Timur (M8,7), Sumba (M8,5), Aceh-Andaman (M9,2), Nias-Simeulue (M8,7), Batu (M7,8), Mentawai-Siberut (M8,9), Sulawesi Utara (M8,5), Filipina (M8,2), serta Papua (M8,7).
Daryono menegaskan kekhawatiran terhadap potensi gempa besar bukan tanpa alasan. Menurutnya, kondisi nan terjadi di Jepang juga menjadi pengingat bahwa area megathrust nan lama tidak melepaskan daya tetap kudu diwaspadai.
"Rilis gempa di kedua segmen megathrust ini boleh dikata 'tinggal menunggu waktu'. Karena kedua wilayah tersebut sudah ratusan tahun belum terjadi gempa besar," kata Daryono.
Meski demikian, dia memastikan gempa besar nan terjadi di Megathrust Nankai, Jepang, tidak bakal memicu perubahan sistem lempeng tektonik di Indonesia lantaran jaraknya sangat jauh.
"Jika kekhawatiran bakal terjadinya gempa nan disampaikan para mahir Jepang tersebut menjadi kenyataan, tentu saja bakal terjadi gempa luar biasa nan tidak saja berakibat merusak, tetapi juga bakal memicu tsunami," ujar Daryono.
"Pertanyaannya, jika gempa luar biasa itu terjadi apakah ada efeknya terhadap lempeng-lempeng tektonik nan ada di Indonesia? Jawabnya, jika terjadi gempa besar di Megathrust Nankai, dipastikan deformasi batuan skala besar nan terjadi tidak bakal berakibat terhadap sistem lempeng tektonik di wilayah Indonesia. Karena jaraknya nan sangat jauh, dan biasanya dinamika tektonik nan terjadi hanya berskala lokal hingga regional pada sistem Tunjaman Nankai," paparnya.
BMKG sendiri terus memperkuat upaya mitigasi dengan menambah jaringan sensor seismograf, menyusun pemodelan guncangan gempa dan tsunami di beragam wilayah, serta meningkatkan sistem peringatan awal dan edukasi kepada masyarakat.
"Kami dalam rangka persiapan melakukan skenario model guncangan gempa megathrust Selat Sunda. Ini kami sampaikan ke Pemerintah Daerah dan pihak terkait, agar bersiap. Juga kami lengkapi skenario ini dengan skenario model tsunami dengan ketinggian di atas 3 meter, bisa 10 meter lebih, belasan meter, apalagi 20 meter di Selat Sunda," beber Dwikorita.
"Sehingga, kami kudu terus mewaspadai area seismic gap nan ada di Selatan Banten dan Selat Sunda, sudah ada sejak tahun 1757 dan di Wilayah Mentawai-Siberut itu sudah sejak 1797. Sudah lebih 227 tahun. Sudah semestinya kami bersiap untuk itu," ungkapnya.
(fsd/fsd)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·