Dolar Rp 18.000, Airlangga Tegaskan Fundamental Ekonomi RI Masih Kuat

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tetap mengalami tekanan. Rupiah menyentuh Rp 18.000-an pada minggu ini. Merujuk info Refinitiv, nilai tukar rupiah dibuka menguat ke posisi Rp18.060/US$ alias terapresiasi tipis 0,06%.

Terkait dengan perkembangan ini, Airlangga menilai esensial perekonomian Indonesia tetap kuat meski nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Terbukti, sejumlah parameter utama ekonomi tetap menunjukkan keahlian nan terjaga.

"Kalau kita lihat, pertumbuhan ekonomi kemarin tetap baik di 5,61%. Kemudian, neraca perdagangan year to date juga tetap positif," kata Airlangga di instansi Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (10/7).

Sementara itu, mengenai dengan defisit neraca perdagangan di bulan Juni, Airlangga menjelaskan kondisi ini dipengaruhi lonjakan nilai impor bahan bakar minyak (BBM) di pasar global. Dia membantah defisit neraca perdagangan disebabkan daya saing ekspor Indonesia.

"Kemarin satu bulan memang negatif lantaran memang dari segi impor BBM itu memang harganya spike, harganya naik," paparnya.

Sedangkan ekspor daripada kelapa sawit, batu bara dan juga ferro alloy, Airlangga menegaskan tidak ada perubahan drastis. Angka ekspor dari tiga komoditas nan bakal diurus oleh PT DSI ini, relatif sama dengan bulan Mei.

Airlangga pun menegaskan pemerintah bakal berupaya menjaga inflasi tetap terjaga di kisaran 2,5% plus minus 1%.

"Dan ini terus kita jaga dan juga pemerintah mendorong beberapa insentif termasuk insentif untuk industri chemicals dimana impor bahan baku plastik bakal dinolkan dan ini PMK-nya sedang dibuat," katanya.

Kemudian, Airlangga mengatakan pemerintah juga sudah mengatasi masalah industri petrochemical. Pemerintah menetapkan Bea Masuk (BM) 0% untuk impor LPG bagi industri petrokimia untuk enam bulan ke depan. Lalu, program-program pemerintah juga melangkah dengan baik. Contohnya, KUR dan subsidi KPR, nan capaiannya dinilai relatif baik dan aman.

"Dari segi perbankan relatif kondusif memang biaya pihak ketiga juga di perbankan double digit dan kita memandang angsuran juga udah mulai melangkah sudah meningkat dibandingkan kuartal nan lalu," ujarnya.

Selain itu, Airlangga menegaskan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di dalam kisaran 5%. "Jadi relatif semua menilai perekonomian kita relatif kondusif dan solid," paparnya.

(haa/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya