loading...
Suleman Tanjung, Wasekjen PBNU. Foto/Dok. SindoNews
Suleman Tanjung
Wartawan Senior
Wasekjen PBNU
SEJARAH terkadang menghadirkan kembali sebuah kebutuhan dalam wajah nan berbeda. Ketika Nahdlatul Ulama baru berdiri, para ustad tidak hanya memerlukan ustadz nan menjaga arah perjuangan. Mereka juga memerlukan seorang penggerak nan bisa menata organisasi, membangun jaringan, dan menopang khidmah dengan kekuatan ekonomi.
Figur itu adalah Haji Hasan Gipo
Hasan Gipo berasal dari family santri dan saudagar terpandang di area Ampel, Surabaya. Dinasti Gipo dikenal tetap mempunyai hubungan kekerabatan dengan Sunan Ampel. Dari lingkungan itulah Hasan Gipo tumbuh dengan jiwa kesantrian, keahlian administrasi, jaringan perdagangan, dan penghormatan nan mendalam kepada para ulama.
Ketika Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menjadi Rais Akbar, Hasan Gipo dipercaya sebagai Presiden Tanfidziyah Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama, julukan bagi Ketua Umum PBNU pada masa itu. Kepercayaan tersebut tidak semata-mata diberikan lantaran dia seorang saudagar. Hasan Gipo dinilai bisa menerjemahkan pendapat besar para ustad menjadi kerja organisasi nan nyata.
Hartanya digunakan untuk membantu perjuangan. Rumah dan jaringannya menjadi tempat bertemunya para ustadz serta tokoh pergerakan. Berbagai pertemuan keagamaan dan kebangsaan difasilitasi dan dibiayainya. Ia juga menjadi penghubung KH Abdul Wahab Chasbullah dengan sejumlah tokoh pergerakan nasional di Surabaya.
Hasan Gipo menunjukkan bahwa pengusaha tidak kudu berada di luar perjuangan ulama. Dunia upaya justru dapat menjadi kekuatan besar andaikan kekayaan, jaringan, dan keahlian manajerial diletakkan di bawah tuntunan para kiai.
Hampir satu abad kemudian, PBNU menghadapi kebutuhan nan serupa. NU telah menjadi organisasi besar dengan jutaan jamaah, ribuan pesantren, ribuan madrasah diniyah, perguruan tinggi, rumah sakit, koperasi, dan beragam aset. Namun, semua potensi tersebut tetap memerlukan tangan nan bisa menyambungkan dan mengelolanya menjadi kekuatan bersama.
Di tengah kebutuhan itulah nama Gus Gudfan Arif Ghofur alias Gus Gudfan mulai banyak diperbincangkan menjelang Muktamar Ke-35 NU. Namanya termasuk dalam sejumlah figur nan muncul dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·