Empat Perkara, Kawan

2 hari yang lalu 4
Empat Perkara, Kawan Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

PIALA Dunia 2026 menyisakan empat perkara nan kiranya menyesakkan dada. Pertama, kartu merah. Kedua, adu penalti. Ketiga, ego besar. Keempat, buruknya sepak bola Asia.

Kartu merah bikin tim nan semula bermain terbuka, menyerang, lezat ditonton, mendadak kudu berubah. Swis sedang bagus-bagusnya menekan Argentina, skor 1-1, ketika wasit menghukum kartu merah Embolo pada menit ke-72. Sejak itu tinggal soal waktu tim kalah jumlah pemain bakal tumbang. Argentina menang 3-1.

Sesuatu nan tidak berimbang mengusik rasa keadilan. Kartu merah itu tampaknya seperti 'hukuman mati' hanya bagi si terhukum. Kenyataannya berakibat holistis.

Hukuman meninggal di ranah pidana telah ditinggalkan banyak negara. Kiranya perlu dipikirkan corak balasan lain di ranah sepak bola. Hukuman itu, misalnya, pemain nan terkena kartu merah dikeluarkan dari lapangan 4,5 menit (10% dari 45 menit). Setelah menjalani balasan 4,5 menit itu, wasit mengizinkan pemain itu kembali ke arena pertandingan. Kehilangan menit bermain 'selama itu' cukup berarti. Bila sekali lagi pemain itu melakukan pelanggaran, mendapat dua kartu merah, barulah ditamatkan riwayatnya di pertandingan itu.

Sepak bola bukan hanya adu teknik, adu skill, adu skema, melainkan juga bentrok bentuk nan tak jarang disengaja. Menarik kaus musuh sampai robek dan musuh terjatuh kerap terjadi. Sampai kekerasan tertentu, bentrok fisik, tetap dipandang wajar. Frasa 'sampai kekerasan tertentu' berarti menyerahkan keputusan penghakiman sepenuhnya kepada kearifan wasit. Kendati ada VAR, keputusan sesat tetap bisa terjadi. Bila itu terjadi, akibat jelek balasan 4,5 menit terhadap permainan kiranya lebih dapat ditoleransikan jika dibandingkan dengan balasan nan bertindak sekarang.

Yang paling menyesakkan dada intervensi Presiden Trump atas balasan kartu merah Balogun. Di babak 16 besar, di pertandingan AS versus Bosnia-Herzegovina, Balogun mendapat kartu merah langsung lantaran melanggar keras pemain lawan. Akibat kartu merah itu, dia tidak boleh bermain satu pertandingan berikutnya. Namun, lantaran kombinasi tangan Trump terhadap FIFA, Balogun bermain di pertandingan berikutnya AS versus Belgia.

Hukuman 4,5 menit kiranya membikin negara tuan rumah tak perlu menggunakan kekuasaan mereka. Itu betul jika presiden mereka bukan Trump. Baginya, krusial menunjukkan dirinya bisa melakukan apa pun di bumi ini.

ADU PENALTI

Adu penalti menyakitkan hati ditonton. Kesebelasan kalah kelas bersengaja bermain negatif agar pertandingan berhujung imbang. Lalu memperkirakan menang melalui adu penalti.

Spekulasi itu mempunyai pedoman empirik. Dr Paul McCarthy meneliti 128 sesi adu penalti, meliputi 1.343 tendangan penalti. Temuannya, tim nan menendang lebih dulu 60,5% keluar sebagai pemenang. Itu pun corak ketidakadilan, bahwa peruntungan memihak kepada tim nan duluan menendang.

Adu penalti memicu kekhawatiran kognitif. Detak jantung melonjak. Terjadi penyempitan konsentrasi perhatian nan mengganggu keahlian kontrol motorik lembut pemain.

Mengalami indikasi psikis macam itu, dalam permainan normal sekalipun, tak ada pemain 100% sukses mengeksekusi penalti. Tingkat keberhasilannya 85%. Halaand pernah kandas di Liga Inggris. Messi, Mbappe apalagi kandas mengeksekusi dari titik putih di Piala Dunia 2026 ini. Adu penalti bukan permainan normal. Dalam keadaan tidak normal itu tingkat keberhasilan turun drastis menjadi 76%. Itu berfaedah dalam adu penalti kemungkinan penyelenggara kandas 24%. Setelah Belanda tersingkir (ketiga kali kalah adu penalti di Piala Dunia), lampau Jerman (pertama kali kalah), tidak berlebihan The New York Times membahasakan adu penalti adalah brutal.

Kenapa FIFA mempertahankan kebrutalan itu? Alasan utama, bermain lebih 120 menit bikin pemain mengalami kelelahan bentuk nan esktrem dan sangat berisiko cedera serius. Akan tetapi, ada nan menginginkan di kala perpanjangan waktu, kembali diberlakukan sudden death nan dipandang lebih memuaskan jiwa lantaran menang berkah lebih dulu membikin gol.

Saya sendiri lebih suka adu penalti. Misteri menang alias kalah tetap tersembunyi selama 120 menit. Itu nan juga bikin sepak bola, kendati menegangkan, kendati jam tidur berkurang selama sebulan lebih, enak-enak ditonton.

EGO BESAR

Haaland di posisinya terbaik untuk menjebol gawang Inggris, tapi Sorloth tidak memberinya umpan. Pemain sayap kanan Norwegia itu tiba-tiba lebih memuaskan ego besarnya. Ia mau membikin gol dari kakinya dan gagal. Kata Ibrahimovic, "Dia selfish, dia berprasangka atas reputasi Haaland...."

Odegaard tak setuju dengan penilaian itu. Tak bijak mengadili Sorloth di satu pertandingan terakhir. Kapten Norwegia itu mengingat semua kontribusi Sorloth di turnamen, bukan satu pertandingan. Sorloth telah minta maaf. Kata Odegaard, "Kekalahan derita bersama. Kita sembuhkan bersama, belajar bersama, kita bakal lebih kuat."

Di pertandingan Portugal versus Spanyol, Ronaldo tak mendapat assist dari Bruno Fernandes. Di babak kedua Fernandes malah melakukan back pass daripada memberikan umpan kepada Ronaldo. Padahal, pemain tengah MU itu adalah pemberi assist terbanyak di Liga Inggris. Ia memecahkan rekor atas nama Thierry Henry dan Kevin De Bryne. Portugal tersingkir kalah 0-1.

Kita tidak tahu apa nan mendorong Sorloth tiba-tiba berubah. Itu bukan dirinya di Atletico Madrid. Apakah aspek umur? Kini usianya 30 tahun. Mungkin empat tahun lagi dia tak lagi layak bermain di level dunia. Sekarang kesempatan terakhir membikin gol dari kaki sendiri.

Fernandes lebih tua. Usianya 31 tahun. Di MU, pada masa pembimbing Amorim, dia sering berupaya mencetak gol dan gagal. Namun, di bawah Carrick, dia berubah, menjadi pengumpan paling produktif. Tak seperti Carrick nan diseganinya di MU, Roberto rupanya tak bisa menjinakkan ego besar Fernandes.

SEPAK BOLA KAWASAN

Substansi krusial lainnya adalah pemikiran tentang kepintaran kawasan/benua bersepak bola. Kecerdasan Afrika bersepak bola bertumbuh mengagumkan diwakili Mesir dan Moroko, apalagi Tanjung Verde (Tanjung Hijau). Kecerdasan Eropa kian mendominasi bumi diwakili Prancis, Inggris, Spanyol, tiga dari empat besar di puncak dunia. Amerika Latin mengalami kemunduran. Sejak babak delapan besar, menyisakan satu negara, Argentina nan terus melaju ke babak empat besar. Di semifinal ini semuanya negara besar dalam sepak bola.

Yang banget merosot adalah kepintaran Asia bersepak bola. Korea Selatan angkat koper pagi sekali. Jepang pulang tersingkir di babak 32 besar. Sebagai penduduk Asia, saya mencoba menelannya. Pahit, memang. Di dalam kepahitan itu, oke memandang negara manakah nan paling sigap belajar dari kemunduran, dari kegagalan? Jawabnya, Jerman.

DFB, Asosiasi Sepak Bola Jerman, mengambil langkah cepat. Presiden DFB Bernd Neuendorf dan Wakil Presiden Hans-Joachim Watzke terbang ke New York, tempat Klopp tinggal sebagai petinggi Red Bull. Mereka membujuk dan menuntaskan Klopp menjadi pembimbing kepala tim nasional Jerman selama empat tahun, sampai Piala Dunia 2030 usai.

DFB menyadari sepak bola Jerman mengalami kemunduran pesat. Tak bisa diperbaiki gradual. Perlu perubahan besar-besaran. Karena itu, tidak cukup pembimbing kepala nan bagus, tapi nan hebat. Di sini bertindak premis Jim Collins, 'good to great'. Bagus itu musuhnya hebat. Nagelsmann dan nan sekelas adalah pembimbing bagus. Diperlukan nan hebat. Dia adalah Klopp nan dalam tiga tahun sukses membawa Liverpool ke puncak Liga Inggris, apalagi Eropa.

Klopp digaji lebih mahal daripada Nagelsmann nan dibayar 7 juta euro/tahun. Namun, tidak semahal nan diterimanya dari Red Bull. Ada 'diskon nasionalisme'. Kepadanya diberikan keleluasaan membawa asisten lamanya, Peter Krawietz dan Pepijn Lijnders (terakhir asisten Pep di Manchester City). nan tak kalah penting, Klopp diberi kebebasan menggunakan sebagian otoritas DFB untuk membangun tim nasional Jerman nan baru.

Jikalau Belanda betul melirik Ten Hag alias Slot menggantikan Koeman sebagai pembimbing kepala, tim 'Oranye' boleh diduga kuat bakal tambah merosot. Kedua manajer itu bukan manajer hebat. Keduanya tersingkir dari kepelatihan papan atas Liga Inggris.

Jepang dan Korea Selatan jelas perlu mencari pembimbing hebat. Bila tak ada anak bangsa, kembalilah membaca sejarah sendiri, ialah kala tim nasional Jepang dipimpin Zico (Brasil) dan Korsel dipimpin Hiddink (Belanda).

Bagaimana dengan Indonesia? Terus terang, kawan, dada saya sesak, tak bisa mengapresiasi jalan pintas naturalisasi. Jalan pintas, pada awal 1970-an, dibahasakan Prof Koentjaraningrat sebagai 'mentalitet menerabas', warisan jelek kolonialisme Jepang. Dada sesak, kawan, terwariskan hingga sekarang

Selengkapnya