Frustrasi Perang Iran, Donald Trump Masuk ke Mode Balas Dendam

6 jam yang lalu 6
Frustrasi Perang Iran, Donald Trump Masuk ke Mode Balas Dendam Donald Trump.(Al Jazeera)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan mulai kehilangan kesabaran terhadap bentrok dengan Iran nan memasuki bulan kelima. Dalam pertemuan di Oval Office baru-baru ini, Trump meluapkan kemarahannya terhadap para pemimpin Iran dengan julukan kasar dan makian, menggambarkan rasa frustrasinya atas perang nan tak kunjung usai.

Awalnya, Trump meyakini bentrok ini bakal selesai dalam hitungan minggu. Namun, realita di lapangan menunjukkan sebaliknya. Para pejabat manajemen mengungkapkan bahwa sang presiden sekarang meragukan jalur negosiasi dan merasa bahwa hanya kekuatan militer nan dipahami oleh Teheran. Seorang pejabat senior menyebut Trump saat ini berada dalam mode balas dendam.

Dampak Politik dan Ekonomi di Dalam Negeri

Kekecewaan Trump bukan tanpa alasan. Perang ini memicu kenaikan harga-harga, penurunan tingkat persetujuan publik (approval rating), dan gugurnya lebih dari selusin tentara AS. Para penasihat Gedung Putih cemas bentrok ini bakal menggerus kesempatan Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu (midterm elections) mendatang.

Upaya deeskalasi sebelumnya, termasuk pengumuman gencatan senjata pada April dan nota kesepahaman (MoU) pembukaan Selat Hormuz pada Juni, terbukti gagal. Ketegangan kembali memuncak setelah militan Houthi menyerang dua tanker Arab Saudi di Laut Merah pada Rabu 22/7) nan memicu lonjakan nilai minyak dunia. Trump merespons dengan ancaman balasan militer besar jika serangan terus berlanjut.

Ketegangan dengan Sekutu dan Ancaman Keamanan

Konflik itu juga merenggangkan hubungan Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Trump dilaporkan enggan berkomunikasi dengan Netanyahu, meskipun Israel terus berupaya mengatur pertemuan antarkedua pemimpin. Di sisi lain, tokoh konservatif seperti Steve Bannon mulai melontarkan kritik tajam terhadap keterlibatan AS dalam bentrok ini.

Selain beban politik, perang ini memberikan tekanan personal. Badan intelijen memperingatkan ada plot Iran untuk membunuh Trump dan penasihat seniornya. Hal ini memaksa Trump mengganti pesawat saat berada di Turki awal bulan ini setelah menerima info intelijen mengenai ancaman keamanan nan serius.

Catatan Keamanan: Trump dilaporkan sangat marah ketika buletin mengenai pergantian pesawatnya bocor ke media, menganggap kebocoran tersebut sebagai ancaman keamanan nasional.

Kembali ke Opsi Militer

Meskipun penasihat seperti Jared Kushner dan Steve Witkoff tetap meyakini ada kesempatan kesepakatan diplomatik, Trump tampaknya mulai beranjak ke strategi nan lebih keras. AS sekarang tengah meningkatkan pengiriman pasukan, tenaga medis, dan persenjataan ke Timur Tengah untuk memperkuat opsi militer.

Anggota senior Komite Urusan Luar Negeri DPR, Michael McCaul, menilai bahwa Trump merasa sudah memberikan kesempatan bagi perdamaian namun dikhianati. "Dia kembali ke Rencana A, ialah operasi militer," ujar McCaul.

Di tengah situasi nan memanas, Gedung Putih mencoba mengalihkan konsentrasi publik ke rumor ekonomi domestik. Trump baru-baru ini mengunjungi Georgia untuk mempromosikan inisiatif penurunan biaya hidup, sembari terus menekan perusahaan minyak agar menurunkan nilai bahan bakar guna meredam akibat ekonomi perang sebelum pemilu paruh waktu tiba. (The Wall Street Journal/I-2)

Selengkapnya