ilustrasi(Antara)
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat bersinergi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh melalui Conservation Response Unit (CRU) melakukan pemasangan GPS collar (kalung pelacak) pada gajah liar di Desa Pungki, Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat.
Langkah ini diambil sebagai upaya konkret dalam memitigasi bentrok antara manusia dan satwa nan kerap terjadi di wilayah tersebut. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Aceh Barat, Teuku Ronal, menyatakan bahwa pemasangan perangkat pencari ini merupakan titik kembali strategis dalam penanganan bentrok gajah.
“Kalung pencari ini diprioritaskan pada gajah liar nan tercatat paling sering berinteraksi dengan aktivitas penduduk di desa,” ujar Teuku Ronal kepada wartawan, Jumat (17/7/2026).
Transformasi Penanganan dari Reaktif ke Preventif
Selama ini, pola penanganan bentrok gajah di Aceh Barat dinilai tetap berkarakter reaktif, di mana petugas baru turun ke lapangan setelah bentrok terjadi. Dengan adanya GPS collar, pemerintah wilayah sekarang mengedepankan upaya pencegahan agar satwa tidak sampai masuk ke permukiman.
Ronal menjelaskan bahwa pergerakan kawanan gajah sekarang dapat dipantau secara berkala dan real-time. "Jika gajah liar terdeteksi mulai mendekati permukiman alias perkebunan warga, tim campuran bisa langsung mengambil tindakan sigap sebelum satwa tersebut masuk ke area sensitif," tambahnya.
Melibatkan Gajah Jinak dan Tim Ahli
Dalam operasi pemasangan ini, petugas mendatangkan dua ekor gajah jinak dari CRU Sare, Kabupaten Aceh Besar. Kehadiran gajah jinak ini krusial untuk membantu tim melakukan pendekatan kondusif terhadap gajah liar, mempermudah pemasangan kalung, serta membantu proses penggiringan kembali ke habitatnya.
Aksi kolaboratif ini melibatkan beragam master dan unit khusus, di antaranya:
- Tim BKSDA Aceh
- Pusat Kajian Satwa Liar (PKSL) FKH Universitas Syiah Kuala (USK)
- Conservation Response Unit (CRU) Aceh
- Wildlife Response Unit (WRU) dari BPBD Aceh Barat
Misi Pelestarian dan Pemetaan Koridor
Selain mitigasi konflik, pemasangan GPS collar mempunyai misi jangka panjang untuk pelestarian gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) nan statusnya kian terancam. Data dari perangkat pencari bakal digunakan untuk memahami home range alias daya jelajah harian satwa tersebut.
“Kita akhirnya bisa mengetahui secara jeli jalur koridor gajah Woyla - Teunom. Informasi ini sangat krusial agar kebijakan pelestarian dan tata ruang ke depan bisa lebih berpihak pada keseimbangan alam,” pungkas Ronal. (Ant/E-3)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·