ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Aksi demonstrasi besar-besaran kembali mengguncang ibu kota Albania, Tirana, pada hari Sabtu (04/07/2026). Puluhan ribu demonstran turun ke jalan untuk menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama, pembentukan pemerintahan sementara, reformasi konstitusi, serta pemberantasan korupsi.
Mengutip laporan The Associated Press, Minggu (5/7/2026), unjuk rasa ini menandai malam ke-35 berturut-turut penduduk Albania melakukan mobilisasi massa di jalanan. Rekaman media memperlihatkan lautan manusia melakukan longmarch di sepanjang jalan utama kota menuju Lapangan Skanderbeg, nan kemudian berujung pada bentrok dengan abdi negara keamanan.
Massa nan marah sempat bergerak menuju salah satu instansi polisi setempat untuk menuntut pembebasan para demonstran nan ditangkap pada tindakan hari Kamis (2/7/2026) lalu. Dalam kejadian tersebut, demonstran merusak dan memecahkan kaca jendela instansi polisi, nan langsung direspons oleh pihak kepolisian dengan tembakan meriam air (water cannon) untuk membubarkan kerumunan.
"Albania Baru," teriak para demonstran di sepanjang jalan protokol.
"Edi Rama, mundur," sahut massa pengunjuk rasa lainnya sembari menyanyikan lagu selamat ulang tahun bersuara ironis demi menyindir sang perdana menteri.
Aksi protes nan awalnya dipicu oleh kemarahan atas proyek pembangunan resor mewah di area alam nan dilindungi-yang terhubung dengan menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner-kini telah meluas menjadi aktivitas anti-pemerintah. Gerakan massal nan telah lama dijuluki sebagai "Revolusi Flamingo Pink" ini menggunakan balon flamingo berwarna merah muda sebagai simbol protes terhadap ancaman kelestarian burung flamingo akibat proyek pembangunan tersebut.
Selain itu, demonstrasi pada hari Sabtu kemarin dipenuhi oleh tindakan teatrikal nan penuh dengan muatan simbol perlawanan politis. Sebuah patung dada berukuran tinggi nan menyerupai Perdana Menteri Edi Rama sengaja didirikan di tengah jalan untuk kemudian digulingkan secara paksa oleh massa menggunakan seutas tali.
Aksi penggulingan patung ini meniru peristiwa sejarah robohnya patung diktator komunis Enver Hoxha pada Februari 1991 silam nan diperingati setiap tanggal 20 Februari. Terlebih lagi, demonstrasi kali ini bertepatan dengan hari ulang tahun Rama nan ke-62, di mana para pengunjuk rasa membawa "kue ulang tahun" tiruan nan terbuat dari semen sebagai corak sindiran keras terhadap masifnya proyek semenisasi dan pembangunan di negara tersebut.
(tps/luc)
Addsource on Google

1 hari yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·