Gencatan Senjata Rusak! AS-Iran Saling Serang, Trump Lempar Ancaman

5 jam yang lalu 3
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Proses perundingan tenteram antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan mandek setelah militer AS meluncurkan serangan udara jawaban ke sejumlah sasaran militer Iran. Operasi tempur udara ini dipicu oleh tindakan nekat Teheran nan kembali menyerang kapal-kapal komersial di jalur daya strategis Selat Hormuz.

Mengutip laporan CNBC, Senin (29/06/2026), jet tempur Komando Sentral AS (CentCom) menggempur 10 sasaran militer di dalam dan sekitar Selat Hormuz pada hari Minggu kemarin. Serangan udara ini menyasar prasarana pengawasan militer, sistem komunikasi, situs pertahanan udara, akomodasi penyimpanan pesawat nirawak (drone), serta keahlian kapal ranjau milik Iran.

Langkah garang Washington diambil setelah kapal tanker komersial berbendera Panama, M/T Kiku, dihantam oleh serangan drone Iran saat melintasi selat pada hari Sabtu dengan mengangkut lebih dari dua juta barel minyak mentah. Selain itu, CentCom juga mendeteksi bahwa Iran sempat menembak kapal kargo berbendera Singapura, Ever Lovely, di lepas pantai Oman pada hari Kamis, meskipun kapal tersebut tetap bisa melanjutkan pelayarannya.

Merespons gempuran udara AS di akomodasi pesisirnya, Iran langsung meluncurkan serangan rudal balistik dan drone jawaban ke sejumlah pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain pada Minggu malam. Angkatan bersenjata Kuwait mengonfirmasi bahwa pertahanan udara mereka sibuk menghalau rudal musuh, sementara Kementerian Luar Negeri Bahrain mengutuk keras agresi rawan ini.

"Apa nan dilakukan Teheran bukanlah tindakan sekilas, bukan pula kejadian terisolasi, melainkan pendekatan nan disengaja dan pola agresi berulang nan sistematis," kecam otoritas Bahrain dalam rilis resminya.

Aksi saling serang ini langsung memicu reaksi keras dari negara-negara tetangga di area Teluk, di mana Uni Emirat Arab dan Qatar kompak mengutuk serangan Iran sebagai pelanggaran fatal terhadap kedaulatan wilayah serta norma internasional. Arab Saudi juga ikut mengecam keras agresi Iran terhadap keamanan serta kebebasan navigasi internasional di Selat Hormuz.

Eskalasi berdarah ini memicu kemarahan Presiden AS Donald Trump nan kembali menakut-nakuti bakal membumihanguskan wilayah Republik Islam tersebut jika draf tenteram terus dilanggar. Melalui akun Truth Social miliknya, Trump menegaskan bahwa pesawat AS telah menggempur pedoman misil Iran lantaran mereka melanggar perjanjian gencatan senjata lagi.

"Mungkin bakal tiba suatu titik di mana kita tidak lagi bisa bersikap masuk akal, dan bakal terpaksa menyelesaikan pekerjaan secara militer nan telah kita mulai dengan sangat sukses. Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak bakal ada lagi!" ancam Trump.

Pernyataan keras tersebut menambah panjang deretan ancaman ekstrem Trump nan berulang kali mau mengirim Iran kembali ke "zaman batu". Pada bulan April lalu, Trump sempat menakut-nakuti bahwa "seluruh peradaban bakal meninggal malam ini" sembari memunculkan momok perang nuklir, nan kemudian dia sambung pada bulan Mei dengan memperingatkan bahwa waktu bagi Iran terus melangkah sigap dan tidak bakal ada lagi nan tersisa dari mereka.

Ketidakpastian Meja Perundingan di Swiss

Bencana militer ini pecah tepat seminggu setelah Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman (MOU) nan ditujukan untuk menyusun kesepakatan tenteram permanen setelah berbulan-bulan terlibat perang terbuka. Di bawah kerangka kerja gencatan senjata 60 hari tersebut, kedua belah pihak semestinya menahan diri, namun sekarang mereka saling menuduh musuh telah melanggar kesepakatan terlebih dulu termasuk saat militer AS menggempur Iran pada hari Jumat akibat tuduhan pelanggaran konyol.

Seorang sumber diplomatik asal Pakistan nan terlibat dalam proses mediasi mengungkapkan bahwa meskipun negosiasi saat ini sedang dibekukan akibat tindakan saling serang, semua delegasi tetap mempertahankan perwakilan mereka di Switzerland. Keberadaan para utusan tersebut bermaksud untuk segera memulai kembali obrolan meja bundar saat mendapatkan lampu hijau dari pemerintah masing-masing, meskipun sumber tersebut tidak merinci pihak mana nan pertama kali memutuskan untuk menjeda perundingan.

Di sisi lain, seorang pejabat senior dalam pemerintahan Trump membantah berita nan menyebut perundingan tenteram telah dibatalkan secara sepihak. Pihak Gedung Putih menegaskan bahwa draf komunikasi teknis di kembali layar tetap melangkah sesuai agenda nan direncanakan.

"Tidak ada nan dibatalkan. Pembicaraan teknis mengenai penerapan nota kesepahaman tetap berada di jalur nan betul untuk beberapa hari ke depan sesuai rencana," tegas pejabat senior AS tersebut.

Media Axios apalagi melaporkan bahwa AS dan Iran sebenarnya telah sepakat untuk menghentikan tindakan saling gempur di laut dan berencana mengadakan pertemuan langsung pada akhir pekan ini. Di tengah ketidakpastian politik ini, CentCom memastikan bahwa arus lampau lintas kapal tanker komersial di Selat Hormuz tetap tetap melangkah lantaran lebih banyak tanker nan sukses keluar dan meredakan kekhawatiran pasokan.

Kondisi tersebut membikin nilai minyak mentah bumi jenis Brent untuk perjanjian Agustus ditutup merosot 4,34% ke level US$ 71,99 (Rp 1,28 juta) per barel pada hari Jumat. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) AS untuk perjanjian Agustus juga menurun 3,74% ke posisi US$ 69,23 (Rp 1,2 juta) per barel, nan menjadi momen pertama kalinya nilai WTI ditutup di bawah level US$ 70 sejak tanggal 27 Februari silam, tepat sehari sebelum perang Iran pecah.

(tps/tps)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya