Houthi.(Al Jazeera)
SETELAH lebih dari empat tahun berada dalam gencatan senjata nan rapuh, Yaman sekarang kembali berada di periode perang skala penuh. Ketegangan antara koalisi militer ketua Arab Saudi dan milisi Houthi nan didukung Iran kembali memuncak, menghancurkan angan bakal perdamaian kekal nan sempat diupayakan melalui jalur diplomasi.
Eskalasi ini dipicu oleh kebuntuan negosiasi tenteram dan rasa frustrasi Houthi terhadap kondisi ekonomi di wilayah mereka. Situasi semakin diperparah oleh akibat perang Amerika Serikat dengan Iran nan menjadi pemantik di tengah kondisi Yaman nan sudah sangat tidak stabil.
Kegagalan Road Map Perdamaian
Pada akhir 2023, PBB sempat memfasilitasi kesepakatan awal alias road map yang mencakup pembayaran penghasilan pegawai pemerintah di wilayah Houthi menggunakan pendapatan minyak Yaman. Nilai kesepakatan ini diperkirakan mencapai US$1 miliar hingga US$2 miliar per tahun. Namun, proses ini terhenti setelah serangan Hamas ke Israel pada Oktober 2023 dan kampanye militer Houthi di Laut Merah sebagai corak solidaritas terhadap Gaza.
Diplomat Barat menyebut bahwa serangan Houthi di Laut Merah dianggap melanggar prasyarat gencatan senjata. Sebaliknya, pejabat senior politik Houthi, Mohammed al-Bukhaiti, menuduh Arab Saudi kandas mengimplementasikan pembayaran penghasilan dan justru memperketat blokade udara serta laut terhadap Yaman.
Kepentingan Strategis dan Tekanan Regional
Para analis menilai Houthi merasa mempunyai banyak untung dari eskalasi ini, termasuk kesempatan menguasai pendapatan minyak dan memperkuat otoritas politik mereka. Farea al-Muslimi dari Chatham House mencatat perbedaan pendekatan kedua pihak. "Arab Saudi mencoba menyelesaikan masalah dengan uang, sementara Houthi menyelesaikannya dengan senjata."
Keterlibatan Iran juga menjadi aspek kunci. Setelah gencatan senjata antara AS dan Iran runtuh pada Februari lalu, Houthi mulai mengubah kalkulus mereka, nan diduga akibat tekanan Teheran untuk lebih terlibat dalam bentrok regional guna menekan kepentingan sekutu AS di kawasan.
Dampak Global dan Ancaman Trump
Dalam sepekan terakhir, Houthi meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Arab Saudi serta kapal-kapal di Laut Merah, nan mulai mengganggu pasar daya global. Sebagai respons, koalisi ketua Saudi kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Houthi untuk pertama kali dalam beberapa tahun terakhir.
Presiden AS Donald Trump, nan pada awal masa kedudukan keduanya menetapkan Houthi sebagai organisasi teroris asing, memberikan peringatan keras. Pada 23 Juli, setelah serangan Houthi terhadap dua tanker minyak Saudi, Trump menakut-nakuti bakal memberikan balasan militer besar jika serangan terus berlanjut.
Krisis Kemanusiaan: Di tengah perebutan kekuasaan ini, puluhan juta penduduk Yaman tetap terjebak dalam kemiskinan ekstrem. Beberapa penduduk di Sanaa menyatakan bahwa kembalinya peperangan mungkin lebih baik daripada penderitaan tanpa kepastian nan mereka alami saat ini.
Kini, masa depan Yaman sangat berjuntai pada posisi pemerintahan Trump dan apakah Arab Saudi bersedia kembali terjebak dalam bentrok nan sebelumnya telah menguras finansial dan merusak reputasi internasional kerajaan tersebut. (New York Times/I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·