Harga Jagung di Gorontalo Melonjak Akibat Kemarau dan Gagal Panen

1 jam yang lalu 3
Harga Jagung di Gorontalo Melonjak Akibat Kemarau dan Gagal Panen Seorang pekerja tani menunjukkan jagung pakan di areal perkebunan Kelurahan Labibia, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Minggu (17/5/2026).(ANTARA/Andry Denisah)

Musim kemarau nan berkepanjangan mulai berakibat signifikan terhadap sektor pertanian di Provinsi Gorontalo. Kondisi ini memicu kenaikan nilai sekaligus penurunan kualitas jagung di sejumlah pasar tradisional akibat merosotnya hasil panen petani.

Di Pasar Sentral Kota Gorontalo, para pedagang mulai mengeluhkan minimnya pasokan. Oma Nana, salah seorang pedagang jagung, mengungkapkan bahwa nilai jagung manis melonjak cukup tajam lantaran stok nan kian terbatas selama musim kemarau.

"Sebelumnya dengan Rp10 ribu pembeli bisa mendapatkan lima tongkol, sekarang hanya dapat tiga tongkol. Kualitasnya juga menurun lantaran isi jagung menjadi kering dan menyusut akibat cuaca panas nan ekstrem," ujar Oma Nana pada Sabtu (25/7).

Selain jagung manis, kenaikan nilai juga menyasar varietas jagung BISI-2 dan jagung hibrida. Saat ini, kedua jenis jagung tersebut dibanderol di kisaran Rp10 ribu per liter. Menurut Oma Nana, varietas hibrida merupakan nan paling terdampak kekeringan lantaran umumnya ditanam di lahan luas nan lokasinya jauh dari sumber air permanen.

Ia menjelaskan bahwa tanaman jagung sangat berjuntai pada kesiapan air nan cukup untuk tumbuh subur. "Kalau tandus datang lebih awal, hasilnya menyusut apalagi bisa kandas panen," imbuhnya.

Secara teknis, tanaman jagung memerlukan waktu sekitar 70 hari hingga siap dipanen. Namun, akibat kegagalan meningkat drastis jika kekeringan melanda sejak awal masa pertumbuhan. Hal ini membikin petani kesulitan memperoleh hasil panen nan optimal.

Di sisi lain, jagung manis dinilai tetap mempunyai daya tahan produksi nan sedikit lebih baik. Hal ini disebabkan pola budidaya jagung manis nan umumnya dilakukan di lahan sekitar area sungai, sehingga kebutuhan air relatif lebih terjaga dibandingkan lahan tadah hujan.

Kondisi kekeringan ini pada akhirnya menciptakan pengaruh domino; mulai dari penurunan pasokan ke pasar hingga mendorong kenaikan nilai di tingkat pedagang, seiring dengan meningkatnya akibat kandas panen nan membayangi para petani di Gorontalo.

Selengkapnya