Harga Minyak Dunia Tembus US$100, Lonjakan Harga BBM Baru Dimulai

1 jam yang lalu 4
Harga Minyak Dunia Tembus US$100, Lonjakan Harga BBM Baru Dimulai Ilustrasi.(Magnific)

PENGEMUDI di Amerika Serikat mulai merasakan akibat langsung dari eskalasi bentrok Iran nan menghebat dalam beberapa hari terakhir. Gangguan pasokan ini mendorong nilai minyak mentah melampaui US$100 per barel dan menyebabkan nilai bensin nasional di AS melonjak di atas US$4 per galon.

Namun, para analis daya dan pelaksana industri memperingatkan bahwa nilai tersebut berpotensi naik jauh lebih tinggi. Pasar minyak sekarang dipaksa untuk mengakui dislokasi besar nan menimpa prasarana daya dunia akibat konflik, dengan prospek pemulihan sigap nan dinilai sangat tipis.

Bob McNally, pendiri firma riset Rapidan Energy Group sekaligus mantan penasihat daya era pemerintahan George W. Bush, menyebut situasi ini sebagai salah satu kasus salah nilai (mispricing) pasar daya terbesar di era modern. "Beberapa nilai nan kita lihat selama bentrok ini tidak sejalan dengan fundamental. Saya rasa Juli bakal menjadi bulan saat kita kembali ke realitas. Kekerasan terbaru ini betul-betul bisa mengirim nilai minyak jauh lebih tinggi," ujarnya.

Eskalasi Militer dan Blokade Jalur Logistik

Ketegangan meningkat setelah upaya diplomatik untuk memperpanjang gencatan senjata April lampau gagal. Amerika Serikat dan Iran meningkatkan serangan militer dalam beberapa pekan terakhir. Teheran dilaporkan menyerang akomodasi militer AS serta prasarana daya di Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Kondisi semakin diperparah pekan ini setelah militan Houthi di Yaman, nan berkawan dengan Iran, memberlakukan blokade terhadap pengiriman menuju Arab Saudi di Laut Merah. Langkah ini semakin mencekik ekspor minyak dan gas global.

Pertempuran nan berjalan selama lima bulan ini menyebabkan:

  • Persediaan minyak dunia terkuras habis.
  • Kilang dan prasarana daya di Timur Tengah mengalami kerusakan serius.
  • Penutupan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz nan krusial.

Penyangga Energi Mulai Menipis

Meskipun prediksi awal perang nan menyebut nilai bensin bakal menembus US$5 per galon alias Brent mencapai US$200 belum terjadi, para mahir menilai situasi sekarang berada di titik kritis. Ben Cahill, master daya dari University of Texas di Austin, menyatakan bahwa penyangga utama nan membantu bumi melewati bulan-bulan pertama guncangan pasokan sekarang telah terkikis.

"Akan lebih susah untuk menghindari koreksi nilai dan reaksi nilai nan tajam ketika gangguan baru terjadi setiap hari. Hal ini sudah memberikan akibat nan lebih besar pada ilmu jiwa pasar sekarang," jelas Cahill.

Pada awal bentrok di akhir Februari, akibat nilai sempat teredam lantaran inventaris dunia tetap sehat dan permintaan bahan bakar transportasi sedang rendah. Saat itu, Tiongkok membantu menekan pasar dunia dengan menggunakan persediaan luas mereka, sementara AS melepaskan ratusan juta barel dari Cadangan Minyak Strategis (SPR).

Namun saat ini, stok tersebut sangat menipis dan perlu diisi ulang. Di sisi lain, permintaan dari Tiongkok kembali meningkat, berbarengan dengan musim berkendara musim panas di AS dan Eropa nan mendorong konsumsi naik.

Dampak Global dan Krisis Diesel

Selain bentrok di Timur Tengah, serangan drone Ukraina terhadap kilang-kilang di Rusia juga melumpuhkan pasokan diesel dunia. Di AS, nilai diesel rata-rata mencapai US$5,20 menurut info AAA. Laporan dari Komite Ekonomi Gabungan Kongres menunjukkan petani menghabiskan US$1,4 miliar lebih banyak untuk bahan bakar diesel selama musim tanam tahun ini dibandingkan tahun 2025.

Shon Hiatt dari USC Marshall School of Business mencatat bahwa pasar sebelumnya berasumsi tekanan politik bakal mengakhiri bentrok dengan cepat. Namun, ketidakpastian kapan perang bakal berhujung membikin tantangan menyeimbangkan pasar semakin berat setiap hari.

Firma riset Capital Economics memperingatkan bahwa penutupan berkepanjangan Selat Hormuz berisiko mendorong pasar minyak ke titik kritis dalam beberapa bulan mendatang, dengan potensi lonjakan nilai hingga 20 persen alias lebih. Laporan mereka menegaskan satu realitas pahit, "Tiongkok tidak bisa menyelamatkan pasar minyak dunia selamanya." (The Washington Post/I-2)

Selengkapnya