Heboh Tambang Tembaga China Dikepung, 13 Orang Tewas

4 jam yang lalu 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Tambang tembaga milik China di Pakistan menghadapi ancaman serius setelah serangkaian serangan militan mengganggu jalur logistik menuju letak tambang. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap kelangsungan pasokan tembaga, nan menjadi komoditas impor terbesar China dari Pakistan.

Sebagaimana dilaporkan Nikkei Asia, Jumat (24/7/2026), dalam tiga bulan terakhir sedikitnya tujuh serangan terjadi di Provinsi Balochistan, Pakistan barat daya. Serangan tersebut menyasar jalan raya, kendaraan pengangkut, konvoi mineral, hingga letak pertambangan.

Sedikitnya 13 orang dilaporkan tewas dalam rangkaian serangan itu. Selain itu, puluhan kendaraan rusak alias terbakar, sementara jalur utama N-40 Quetta-Taftan Highway nan menghubungkan wilayah tambang dengan perbatasan Iran juga sempat lumpuh.

Akibat gangguan tersebut, pasokan logistik ke tambang Saindak, satu-satunya tambang tembaga China di Pakistan, ikut terganggu. Salah satu kebutuhan nan mulai langka adalah bahan bakar minyak untuk mengoperasikan pembangkit listrik di letak tambang.

"Minyak bakar untuk menghasilkan listrik di proyek Saindak mulai menipis lantaran truk pengangkut tidak bisa mencapai letak akibat serangan militan," ujar seorang pejabat pemerintah Pakistan nan enggan disebutkan namanya.

Tambang Saindak berada di Distrik Chagai, Provinsi Balochistan, nan berbatasan langsung dengan Iran dan Afghanistan. Tambang tersebut dimiliki perusahaan negara Pakistan Saindak Metals Limited (SML), tetapi sejak 2002 dioperasikan oleh MCC Resources Development (MRDL), anak upaya Metallurgical Corporation of China (MCC).

Kontrak pengelolaan tambang apalagi telah diperpanjang selama 15 tahun pada 2022. Seluruh produksi tembaga dari tambang tersebut diekspor ke China.

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan China mengimpor tembaga senilai nyaris US$1 miliar (sekitar Rp16,3 triliun dari Pakistan pada 2024. Nilai itu setara sekitar 35% dari total impor China dari Pakistan, termasuk sekitar 23.700 metrik ton tembaga nan diproduksi di Tambang Saindak.

Meski demikian, Direktur Utama SML Raziq Sanjrani menegaskan operasional tambang tetap melangkah normal. Menurutnya, proyek tersebut telah beraksi selama 25 tahun dan belum ada rencana penghentian produksi.

Namun dalam pernyataan terpisah nan dirilis pekan ini, perusahaan mengakui tingkat akibat keamanan di Chagai dan wilayah Balochistan tergolong tinggi. Serangan berulang di sepanjang Jalan Raya N-40 telah menghalang pergerakan truk logistik, konvoi keamanan, serta pengedaran beragam kebutuhan tambang.

CEO perusahaan intelijen akibat pertambangan asal Amerika Serikat, Region Alert, Sean Hagarty, menyebut golongan separatis Baloch sekarang menjalankan strategi "blokade ekonomi" dengan menguasai jalur pengedaran utama.

"Apa nan terjadi di Saindak merupakan bukti paling jelas bahwa blokade ekonomi tersebut mulai berdampak. Siapa pun nan mengangkut peralatan alias personel melalui jalur nan sama menghadapi akibat serupa," katanya.

Pemerintah Pakistan menyatakan telah meningkatkan pengamanan di sekitar proyek-proyek pertambangan. Menteri Negara Urusan Dalam Negeri Pakistan Talal Chaudhry mengatakan pemerintah juga telah menerima keluhan keamanan dari pengelola tambang Saindak dan mengerahkan tambahan personel untuk melindungi fasilitas, pekerja, serta pengiriman logistik.

(sef/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya