Hilang 74 Tahun, Bangkai Pesawat Ini Akhirnya Ditemukan di Laut

4 jam yang lalu 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Misteri hilangnya pesawat Pan American Airways "Clipper Endeavor" nan jatuh pada 11 April 1952 akhirnya terpecahkan. Selama nyaris tiga perempat abad, buntang pesawat nan ukurannya setara Boeing 737 itu lenyap di kedalaman Samudra Atlantik, hingga pada 2 Juni tim eksplorasi sukses menemukannya menggunakan kendaraan bawah laut otonom berbentuk torpedo nan dilengkapi sonar dan kamera canggih.

Bangkai pesawat ditemukan sekitar 2.000 kaki di bawah permukaan laut dan sekitar lima mil dari pantai, dengan huruf putih "PAA" tetap terlihat jelas di atas logo bola bumi bersayap milik Pan American World Airways.

Kecelakaan ini bermulai ketika Pan Am Flight 526A, nan dijuluki "Easter Special", tengah menuju Bandara Idlewild New York (kini JFK). Penerbangan tersebut hanya berjalan kurang dari sembilan menit sebelum dua mesin di sisi kanan pesawat kehilangan tenaga secara berurutan saat pesawat baru saja lepas landas dari San Juan, Puerto Rico. Pilot John C. Burn terpaksa mendaratkan pesawat di laut setelah upaya kembali ke San Juan kandas lantaran pesawat terus kehilangan ketinggian.

Seluruh 69 penumpang dan awak dilaporkan selamat dari tumbukan awal saat mendarat di air. Namun, kepanikan dan kebingungan terjadi tak lama setelahnya. Banyak penumpang menolak perintah kapten untuk meninggalkan pesawat dan tetap terikat di bangku mereka, sementara hambatan bahasa turut menghalang proses evakuasi-ditambah lagi ombak besar dan ancaman hiu di sekitar letak membikin sebagian penumpang memilih memperkuat di dalam kabin. Bagian ekor pesawat patah dan badan pesawat tenggelam, menewaskan 52 orang dari total penumpang dan awak.

Tragedi ini membawa akibat besar bagi industri penerbangan dunia. Saat kecelakaan terjadi, briefing keselamatan sebelum lepas landas dan pendaratan belum diwajibkan, dan kejadian inilah nan mendorong lahirnya petunjuk baru soal apa nan kudu dilakukan penumpang dalam keadaan darurat.

Pencarian buntang pesawat ini merupakan hasil kerja keras selama tujuh tahun dari Russ Matthews, presiden sekaligus salah satu pendiri Air/Sea Heritage Foundation. Menurut Matthews, kedalaman laut di letak tenggelamnya pesawat terlalu dalam untuk dijangkau penyelam, ditambah cuaca jelek dan pandemi Covid-19 nan turut menunda proses pencarian selama beberapa tahun.

Titik terang muncul ketika kapal survei Fugro Brasilis, nan membawa kendaraan bawah laut otonom berjulukan "Miss Millie" senilai 10-12 juta dolar AS, melintasi area seluas 10 mil persegi nan menjadi konsentrasi pencarian. Setelah menjalankan nyaris 30 kali penyisiran di area tersebut, tim sempat menemukan buntang kapal tak dikenal pada penyisiran ke-13, sebelum akhirnya menemukan sesuatu nan menyerupai bagian ekor pesawat, disusul badan pesawat komplit dengan roda pendaratan dan jendela kabin nan tetap terlihat jelas.

Penemuan ini menyisakan kesan emosional mendalam, termasuk bagi family korban. Diana Lachatanere, nan kehilangan ayahnya dalam kecelakaan tersebut saat berumur 5 tahun, mengaku belum mengetahui adanya pencarian buntang pesawat itu dan merasa sedih lantaran tidak ada jenazah nan bisa ditemukan. Tim eksplorasi menegaskan situs itu tidak bakal diganggu dan tidak ada rencana mengevakuasi jenazah, mengingat 39 korban memang tidak pernah ditemukan-menjadikan letak buntang pesawat sebagai satu-satunya "batu nisan" nan mungkin bakal pernah ada bagi mereka.

(fsd/fsd)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya